Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Keteladanan Orang Tua, Pendikar Terbaik Anak

Keteladanan Orang Tua, Pendikar Terbaik Anak

20
BERBAGI
Ida Rohmawati, S.Si Guru IPA SMP Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen
Ida Rohmawati, S.Si Guru IPA SMP Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen

JATENGPOS.CO.ID, – “ Tuan Soekarno, suatu saat ijazah ini bisa robek dan hancur. Dia tidak abadi. Ingatlah, satu-satunya yang abadi adalah KARAKTER.” (Pesan Rector Technische Hogeschool dalam wisuda Ir. Soekarno ). Belum lama ini ada video viral dalam medsos, seorang anak usia SD di Kendal ditilang polisi, gara-gara ia mengendarai sepeda motor tanpa helm dan SIM. Bagaimana ada SIM, usia juga belum genap 9 tahun. Ada lagi seorang anak SD kelas 4 di Kapahiyang Bengkulu, naik ke tower pemancar sinyal HP berniat bunuh diri karena ditolak cintanya oleh pacarnya. Belum lagi beredar video anak masih berseragam SD memamerkan kemahirannya dalam menghirup vapor (rokok elektrik). Kasus peredaran video porno dengan pemain yang masih berseragam sekolah, juga marak dalam jagad medsos dewasa ini.

Beberapa gambaran kasus diatas memperpanjang daftar potret menyedihkan tentang kondisi anak-anak bangsa zaman now. Itu baru yang tertangkap kamera dan diupload di medsos, sedang yang tidak terdokumentasi lebih banyak lagi, ibarat fenomena gunung es. Kita sebagai pendidik sekaligus orang tua, sepantasnyalah merasa sangat prihatin menyaksikan hal itu.

            Jika kita berusaha mengurai benang kusut penyebab rusaknya karkater (baca:akhlaq) seorang anak, pasti akan dihadapkan pada kenyataan yang sangat kompleks. Tapi paling tidak, ada ujung benang yang jika ia kita tarik akan dapat menguraikan kekusutannya. Apa itu, mari introspeksi bersama.

Masalah pokoknya adalah rendahnya keteladanan dari orang tua. Orang tua, adalah pihak pertama yang paling bertanggungjawab dalam perkembangan perilaku seorang anak. Betapa tidak, idealnya dari 24 jam waktu dalam sehari, sebagian besar waktu anak dihabiskan bersama orang tua. Setidaknya pada masa pra sekolah atau PAUD, orang tua (ayah dan ibu) harus menjadi figur teladan bagi mereka. Setiap ucapan, tindakan dan kebiasaan orang tua akan terekam dalam memori anak yang sedang berada dalam golden age. Anak yang merokok, pasti pernah melihat anggota keluarganya merokok. Anak bersikap kasar, karena karakter dalam keluarga juga kasar.

Salah besar, jika pembentukan karakter anak hanya diserahkan kepada pihak sekolah, tanpa campur tangan orang tua. Ingat, orang tualah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas anak-anaknya. Sekolah dalam hal ini pemerintah dengan Kementrian Pendidikan, sejak 2006 yang lalu sudah menerapkan pendikar dalam setiap mata pelajaran di sekolah. Namun, hasil akan jauh panggang dari api jika orang tua tidak mau tahu terhadap konsep keteladanan tersebut.

Dalih bekerja dan sibuk mencari nafkah adalah alasan klasik yang tidak dapat dimaafkan bagi orang tua untuk abai terhadap perkembangan perilaku anak-anaknya. Pilihan resiko minimal bagi orang tua yang tidak bisa mendampingi perkembangan anak-anaknya adalah dengan memilihkan sekolah dengan lingkungan yang kuat dalam membentuk karakter. Jika penyebab pertama ini tidak disadari oleh orang tua (tidak mau disalahkan), maka bersiap-siap untuk menyesal karena mendapati semuanya telah terlanjur terjadi.

            Orang tua, juga harus mengetahui dengan siapa anak mereka bergaul, lingkungan seperti apa yang sering didatangi oleh anak-anaknya. Komunikasi yang efektif dengan anak, akan menjadikan mereka nyaman bercerita dengan orang tua. Dengan begitu, mereka tidak akan ragu lagi membagi masalahnya dengan keluarga.

Back to Family, dekap anak kita dengan kasih sayang, belai mereka dengan perhatian dan tuntun mereka menuju jalan yang benar. Menjadi merah, hijau, kuning atau bahkan hitammnya anak-anak kita adalah tergantung kita, orang tua. Maka, bekalilah dengan ilmu mendidik anak yang cukup, jika kita ingin mendapati mereka sukses di kemudian hari.

Ida Rohmawati, S.Si

Guru IPA SMP Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen

          

BERBAGI