Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Keutamaan ibadah Ramadhan dan Syawwal Menurut Matematika

Keutamaan ibadah Ramadhan dan Syawwal Menurut Matematika

BERBAGI
Af’idatin, S.Pd Guru SMK N 10 Semarang.
Af’idatin, S.Pd Guru SMK N 10 Semarang.

JATENGPOS.CO.ID, – Bulan Ramadhan adalah bulan penuh hikmah, bulan yang dimuliakan Allah SWT, karena dibulan Ramadhan ini Allah melimpahkan rahmat (kasih sayang) dan maghfirah (ampunan) Nya kepada umat manusia. Al-Qur’an (kitab suci agama Islam) pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan. Pada bulan ini juga umat islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa. Puasa di bulan Ramadhan merupakan perintah Allah yang wajib dilaksanakan oleh setiap mukmin, Allah SWT berfirman dalam Qur’an surat Al Baqarah ayat 183, yang artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Penulis tidak akan membahas mengenai definisi puasa serta syarat dan rukunnya,  tetapi yang akan dibahas disini adalah hubungan antara matematika dengan ibadah di bulan Ramadhan.

“Puasa” merupakan arti dari kata “shaum” yang maknanya menahan diri. Jamak dari kata shaum adalah shiam. Untuk ibadah puasa Al-qur’an menggunakan kata shiam. sebagaimana  yang disebutkan dalam Qs.2 : 183, 187 (dua kali), 196 (dua kali), Qs.4 : 92, Qs.5 : 89, 95, dan Qs.58 :4. Ternyata kata shiam dalam Al-Qur’an disebut 9 kali, sedangkan bulan Ramadhan sendiri adalah bulan yang ke-9 pada kalender hijriyah. Jika kita hubungkan dengan matematika bilangan-bilangan yang kita kenal selama ini hanya terdiri dari angka-angka : 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9. Bilangan-bilangan tersebut membentuk suatu siklus, jika sampai pada angka tertinggi 9 maka akan kembali lagi pada 0 (nol). Artinya bulan Ramadhan adalah bulan ke-9 merupakan bulan yang memiliki derajat tertinggi diantara bulan-bulan yang lain, dan disebut sebagai sayyidussuhur, setelah melewati bulan ke-9 maka akan kembali lagi pada titik 0 (nol).Artinya  setelah sebelas bulan lamanya umat islam sibuk dengan urusan duniawinya, maka bulan Ramadhan adalah bulan penggemblengan mental dan penyucian diri dari   segala salah dan dosa sehingga setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh harapannya umat islam kembali kepada kesucian (iedil fitri), kembali pada posisi 0 (nol).

Ibadah di bulan Ramadhan dibagi dalam tiga sesi yaitu pada sepertiga bulan pertama Allah menurunkan Rahmat-Nya, sepertiga kedua Allah menurunkan ampunan-Nya, dan sepertiga terahir Allah mengabulkansemua doa hamba-hamba Nya. Pada sepertiga terahir Ramadhan Allah juga menurunkan  lailatul qodar. Lailatul qodar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Secara matematis satu malam lailatul qodar setara dengan 83 tahun, 4 bulan. Karena satu tahun ada 12 bulan dan 1000 : 12 = 83,3333333 mendekati 84 tahun. Kalau kita beribadah satu malam saja saat lailatul qodar maka ibadah kita setara dengan 84 tahun. Subhanallah.

Pesan Syaikh Mahir Al Mu’aqily: lakukan hal ini secara rutin pada  malam 10 hari terahir pada bulan Ramadhan 1. Sedekah rutin minimal Rp 1000,  2. Kerjakan sholat sunat minimal 2 rakaat, 3. Bacalah surat Al Ihlas minimal 3x , karena membaca 3x surat Al Ihlas pahalanya setara dengan mengkhatamkan Al-Qur’an, 4. Baca dan tadaburi tafsir surat Al Qodar, 6. Perbanyak membaca doa “ ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FUANNI” Jika kita mengamalkan pesan tersebut dan bertepatan dengan lailatul qodar, maka pahala  yang kita peroleh dikalikan dengan 84 tahun.

Selepas Ramadhan seorang muslim sangat dianjurkan untuk mengerjakan puasa sunat 6 hari di bulan Syawwal, karena pahalanya sangat besar. Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa 6 hari bulan Syawwal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh.” (H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’I dan Ibnu Majjah). Secara matematis mengapa puasa Ramadhan satu bulan penuh setara dengan puasa 10 bulan? Karena dalam satu bulan ada 30 hari dan setiap kebaikan pahalanya dilipat gandakan sepuluh kali, jadi 30 hari x 10 = 300 hari, setara 10 bulan. Jika ditambah puasa 6 hari bulan Syawwal, maka pahalanya 6 hari x 10 =60 hari , setara dengan 2 bulan. Jadi Puasa sebulan bulan Ramadhan diikuti puasa 6 hari bulan Syawwal, pahalanya setara dengan puasa satu tahun penuh. Demikianlah hubungan antara matematika, bulan Ramadhan dan bulan Syawwal.

Af’idatin, S.Pd

Guru SMK N 10 Semarang.
BERBAGI