Beranda Lifestyle Kisah GO-JEK Melesat 900 Kali Lipat dalam Setahun

Kisah GO-JEK Melesat 900 Kali Lipat dalam Setahun

BERBAGI

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Perkembangan aplikasi mobile pada era digital telah membawa nama besar GO-JEK sebagai layanan yang berhasil booming di berbagai penjuru di tanah air.

Catat saja, sejak meluncurkan aplikasi mobile untuk pertama kalinya pada awal Januari 2015, layanan transportasi online GO-JEK hanya melayani sekitar 500 pesanan setiap harinya. Namun 18 bulan kemudian, tepatnya pada bulan Juni 2016, angka tersebut naik 900 kali lipat melewati angka 450 ribu perjalanan per hari.

Secara total, aplikasi GO-JEK menerima lebih dari 20 juta booking sepanjang bulan tersebut.

Tak lama setelah itu, GO-JEK pun menerima pendanaan sebesar US$550 juta (sekitar Rp7,4 triliun), yang membawa mereka akhirnya menjadi startup unicorn (sebutan untuk startup yang mempunyai valuasi di atas Rp13,5 triliun). Padahal saat itu mereka hanya mempunyai tim developer yang berjumlah kurang dari 80 orang.

“Saat ini, kami mempunyai sekitar dua ratus developer. Dan kami menjalankan tiga layanan yang masing-masing setara dengan satu startup unicorn, dalam sebuah perusahaan yang sama,” ujar Head of Engineering dari GO-JEK Sidu Ponnappa, dalam sebuah perbincangan akhir tahun 2017 silam.

Untuk menjelaskan hal tersebut, Ponnappa pun membandingkan GO-JEK dengan beberapa startup unicorn lain di India, dalam hal jumlah transaksi.

Jumlah transaksi GO-RIDE dan GO-CAR kini setara dengan Ola (perusahaan transportasi online asal India). Jumlah pengiriman makanan dengan GO-FOOD mencapai dua kali lipat dari total jumlah pengiriman yang dilayani oleh gabungan dua startup India, yaitu Swiggy dan Zomato. Layanan pembayaran GO-PAY pun sudah sebesar Paytm.

Grafik pertumbuhan Gojek. ist

Untuk mendukung berbagai layanan dengan volume transaksi yang besar tersebut, GO-JEK menempatkan para developer mereka di tiga kantor yang tersebar di Jakarta, Singapura, dan Bangalore. Meski hanya menghadirkan layanan mereka di Indonesia, namun kantor GO-JEK di Bangalore justru mempunyai jumlah developer yang terbanyak.

“Kami adalah tim yang terdistribusi. Artinya, setiap tim di Bangalore juga mempunyai anggota di Singapura dan Jakarta. Setiap layanan yang ada di aplikasi GO-JEK dikerjakan secara paralel di tiga lokasi tersebut,” ujar Ponappa.

Ponnappa sendiri awalnya merupakan founder dari startup asal Bangalore, C42 Engineering, yang saat ini telah diakuisisi oleh GO-JEK.

Sejauh ini, aplikasi GO-JEK telah mempunyai sekitar enam belas layanan, mulai dari layanan transportasi online GO-RIDE dan GO-CAR, layanan pengiriman makanan GO-FOOD, layanan pembelian tiket GO-TIX, hingga layanan pembersih rumah GO-CLEAN. Namun menurut Ponappa, ia justru paling tertarik dengan dua layanan mereka, yaitu logistik dan pembayaran. (drh)

BERBAGI