Beranda Nasional Kisah Penuh Liku Gus Miftah, Pendakwah yang Rajin Mengaji di Tempat Hiburan...

Kisah Penuh Liku Gus Miftah, Pendakwah yang Rajin Mengaji di Tempat Hiburan Malam

848
Gus Miftah. ist

JATENGPOS.CO.ID, YOGYAKARTA – Kisah pendakwah di tempat hiburan malam yang sednag viral ternyata penuh liku. Pendakwah yang ternyata adalah KH Miftah Maulana Habiburrahman atau kerap disapa Gus Miftah mengaku sudah 14 tahun berdakwah di tempat hiburan malam.

Kisah suka dukanya dari berbagai macam tempat hiburan pun menuai banyak ancaman terhadap jiwanya.

“Pertama di Sarkem (Pasar Kembang) Yogya, tahun 2000-an, awalnya tiap malam Jumat saya salat tahajud di sebuah musala di sana, ada itu musala. Saya sempat diancam ‘penguasa’ di sana, intinya jangan macam-macam di Sarkem,” kata Gus Miftah saat ditemui di Ponpes Ora Aji, Sleman, Rabu (12/9/2018).

Namun setelah menyampaikan maksud dan tujuannya, akhirnya dia diizinkan berdakwah di Sarkem. “Ya saya sampaikan visi misi saya, ada curhatan penghuni ingin ikut kajian agama, tapi bingung tidak ada tempat,” ujarnya.

Waktu itu beberapa pihak juga sempat bertanya kepada dirinya, apakah pekerja Sarkem dan klub malam mau bertobat.

“Saya jawab bagi saya hidayah butuh dijemput, dan kalau hidayah itu datang, bukan karena saya, tapi Allah menghendaki dia bertobat. Apakah ada (hidayah)? Insyaallah ada,” terangnya.

Saat ini, kiai berusia 37 tahun itu rutin menggelar kajian hampir di seluruh klub malam dan tempat hiburan di Yogya. Gus Miftah menegaskan dakwahnya bukan bermotif materi. “Saya biaya sendiri, transport, konsumsi, bahkan saya juga di beberapa tempat bawain mukena, alquran, sajadah. Tidak ada donatur,” jelasnya.

Ada cerita menarik lainnya ketika mengisi kajian di klub malam. Gus Miftah terpaksa berhadapan dengan pegawai dan pengunjung yang kondisinya mabuk karena alkohol.

“Sebetulnya selawat pas acara di Boshe Bali kemarin, biasa itu. Pernah selesai acara saya adzan dan salat berjamaah di beberapa klub malam, ada yang menyusul lalu berteriak agar salat dihentikan. Saya kira mau marah, ternyata dia bilang minta jamaah berhenti karena dia juga ingin ikut salat,” kenangnya.

“Juga ada pegawai dan tamu klub malam yang setelah acara kajian nangis-nangis, bilang terima kasih sudah dibantu menemukan jalan hijrah,” lanjutnya.

Tak hanya itu, Gus Miftah juga pernah ditantang berkelahi. “Dulu ada tamu yang sudah mabuk, tahu kita ngaji, salat, dia ngamuk. Ada yang marah-marah, nantang kelahi, itu sudah biasa,” sambungnya.

Saat ini, banyak manajemen klub malam yang memintanya lebih rutin mengisi kajian agama. “Ada yang japri saya, kok lama nggak kelihatan, lama nggak isi kajian. Jadi saat ini banyak yang welcome, beda saat awal-awal dulu harus berkomunikasi dengan kanan-kiri sebelum diizinkan,” imbuhnya.

“Jadi kalau dengan mereka, kita sampaikan materi dakwah dengan gaya bahasa stand up comedy, dibikin suasana yang menyenangkan, bagaimana cara kita menyampaikan sebagai upaya minimal kita agar mereka tidak kehilangan Tuhan. Bagi saya tinggal bagaimana pendekatannya,” pungkasnya. (drh/dtc)