Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Komik Sebagai Inovasi Literasi Matematika

Komik Sebagai Inovasi Literasi Matematika

499
Budi Prihartini, S.Pd.SD SDN 4 Bucu Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara
Budi Prihartini, S.Pd.SD SDN 4 Bucu Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara

Matematika? Mati aku?

Ucapan yang menyedihkan untuk didengar. Apalagi bagi siswa kelas 6 Sekolah dasar. Matematika yang identik dengan ilmu hitung menjadi pelajaran utama atau dasar bagi seseorang untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Matematika atau ilum hitung juga merupakan bagian dari literasi. Tetapi bagaimana jika kenyataannya masih ada siswa yang masih menganggap matematika adalah hal yang memusingkan, menakutkan dan pemikiran negatif lainnya tentang matematika adakah yang kurang tepat dalam penyajiannya?.
Usia siswa sekolah dasar masih terikat dengan objek yang dapat dilihat atau objek yang dapat ditangkap melalui pancainderanya. Herman (2008) siswa sekolah dasar berada pada umur 7 sampai 12 tahun, dimana pada tahap ini siswa masih berada pada fase operasional konkret, kemampuan siswa dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika yang bersifat konkret. Sehingga guru sebagai fasilitator dapat mengunakan media sebagai alat bantu dalam pembelajaran. Alat bantu atau media pembelajaran menjadi jembatan bagi siswa untuk mempelajari matematika. Penggunaan media pembelajaran yang tersaji dalam bermain peran dapat menjadi pengalaman belajar yang menarik bagi siswa. Sebab dalam kehidupan sehari-hari, siswa tidak akan lepas dari ilmu matematika.

Matematika sebagai salah satu ilmu penting yang harus dipelajari siswa perllu juga adanya literasi. Literasi matematika yang berarti melek matematika. Melek matematika dapat diartikan tidak hanya hafalan perkalian, pembagian tetapi lebih pada terampil memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Literasi yang berarti juga kemampuan seseorang untuk menulis, membaca, berbicara, dan berhitung sebagai dasar untuk kelanjutan kehidupan di masa yang akan datang.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, salah satunya, mengenai kegiatan membaca buku non pelajaran selama lima belas menit sebelum waktu belajar dimulai. Sebagai upaya menggalakkan literasi sekolah adalah dengan memanfaatkan buku pengayaan atau metode lietrasi lainnya, sesuai dengan kreatifitas guru. Kemungkinan memunculkan bahan bacaan yang berisi tentang keterkaitan materi dan budaya dapat menjadi pilihan.

Selama ini buku inti maupun buku pengayaan masih kurang memberikan kontribusinya untuk berliterasi. Padahal literasi matematika juga penting. Untuk itu sudah seharusnya guru sebagai penggerak literasi di sekolah menyajikan pembelajaran dengan literasi matematika. Salah satu inovasi literasi matematika adalah dengan menggunakan media komik. Pada saat pembelajaran menggunakan media komik siswa akan menulis, berbicara, membaca dan berhitung. Mengapa komik?

Komik merupakan bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan menerapkan cerita dengan urutan yang erat hubungannya dengan gambar-gambar dan dirancang untuk memberikan hiburan bagi pembaca Asti (2014). Komik juga memiliki beberapa kelebihan antara lain, menambah perbendaharaan kosakata, mempermudah siswa menangkap hal-hal abstrak, mengembangkan minat baca (Trimo;1992).

Namun, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk menciptakan media pembelajaran dengan memanfaatkan aplikasi yang dapat digunakan secara gratis. Komik matematika dapat kita ciptakan sendiri bersama siswa. Siswa kita ajak untuk membuat suatu cerita yang berisi tentang matematika sesuai dengan materi yang akan dipelajari. Dari sanalah siswa akan menuliskan pengetahuannya tentang matematika. Setelah itu siswa juga akan menyampaikan apa yang ia tulis kepada temannya. Mengembangkan kemampuan pengetahuannya juga keterampilan matematika dari komik yang dibuat.

Pembelajarn matematika yang disajikan dengan menggunakan media salah satunya komik dapat mengurangi anggapan negatif tentang matematika. Matematika yang menjadi momok siswa akan berubah menjadi pelajaran yang menyenangkan, tak hanya berkutat pada rumus dan bilangan. Guru juga tidak akan kesulitan untuk mengetahui pengetahuan prasyarat siswa yang telah dikuasai sebelumnya. Sehingga guru dapat melanjutkan materi pelajaran sesuai dengan pengetahuan awal siswa tersebut.

Budi Prihartini, S.Pd.SD

SDN 4 Bucu Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara