Beranda Jateng Kongres Pemuda Penggerak Budaya dan Ekonomi Desa Serukan Petisi 19 September

Kongres Pemuda Penggerak Budaya dan Ekonomi Desa Serukan Petisi 19 September

45
PETISI : Kaum muda Sukoharjo saat menyerukan petisi 19 September dalam Kongres pemuda di Sanggar Sekar Jagad Bakalan. Foto : Ade Ujianingsih/Jateng Pos

JATENGPOS.CO.ID, SUKOHARJO – Kongres Pemuda Penggerak Budaya dan Ekonomi Desa, yang digelar di Sanggar Seni Sekar Jagad, desa Bakalan Polokarto Sukoharjo, Sabtu (19/9), sepakat menyerukan petisi 19 September.

Ada enam poin budaya yang diserukan, yakni PPKdes (pemuda penggerak kader desa) mendorong pemerintah membentuk pamong budaya desa. PPKdes mendorong pemerintah membentuk ruang publik budaya desa. PPKdes mendorong pemerintah membuka akses seluas luasnya dan kemitraan untuk penguatan budaya dan ekonomi desa.

PPKdes berharap pemerintah melindungi segala bentuk kegiatan budaya dari ATHG (ancaman tantangan hambatan gangguan). PPKdes memohon alokasi dana desa juga digunakan untuk kegiatan budaya. Dan PPKdes minta pemerintah memberi apresiasi dan penghargaan pada tokoh penggerak dan pelestari budaya desa.

“Kami berharap momen ini bisa membuat masyarakat desa lebih melek budaya, tergerak untuk melakukan pelestarian budaya kearifan lokal masing-masing desa.” Kata Joko Ngadimin, usai kongres, Sabtu (19/9).

Kongres perdana yang membahas pemuda dan budaya tersebut diikuti sejumlah ormas dan organisasi pemuda di Sukoharjo. Menghadirkan empat narasumber yakni Pustanto, kepala Galery Nasional, ST Wiyono, seorang budayawan, Sumino kepala Taman Budaya Jawa Tengah dan Nunik Sri Martini, Penggiat seni pertanian Jakarta.

“Kita mempunyai mutiara Jawa yang perlu dikembangkan, salah satunya adalah seni rakyat yang harus kita gali. Dan itu menjadi tugas pemuda untuk melestarikan dan mengembangkan,” kata Sumino.

Pustanto menambahkan, ada 10 obyek budaya yang ada dalam UU Kebudayaan ada di sekitar kita. Yakni Manuscribe, Adat istiadat, Ritus, Pengetahuan tradisional baik yang tertulis maupun tidak tertulis, Teknologi tradisional, dan Bahasa.

“Ini semua potensi kekuatan masyarakat Indonesia, dan merupakan modal yg tidak akan habis. Harus dikembangkan,” tandas Pustanto.

Hal senada juga disampaikan budayawan ST Wiyono dan Nunik Sri Martini yang berharap para pemuda bergerak untuk ‘menyelamatkan’ budaya Indonesia.

Ketua pelaksana Yoyok Eko menambahkan, kongres ini diharapkan bisa menumbuhkan jiwa nasionalisme dalam menjaga budaya. khususnya dimulai dari budaya lokal yang ada di sekitar kita masing – masing. (Dea/bis/rit)