Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Make A Match Aktifkan Belajar Siswa

Make A Match Aktifkan Belajar Siswa

96
Diah Sawitri, S.Pd.SD Guru SDNegeri Megulungkidul, Kabupaten Purworejo
Diah Sawitri, S.Pd.SD Guru SDNegeri Megulungkidul, Kabupaten Purworejo

JATENGPOS.CO.ID,- Di era sekarang ini, pendidikan harus bisa beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju. Oleh karena itu, pendidikan yang diterapkan di era sekarang tidak akan sama dengan pendidikan yang diterapkan di masa lalu dan akan berbeda pula dengan pendidikan yang akan diterapkan di masa yang akan datang. Sehingga pendidikan akan selalu mengalami perubahan yang mengarah pada kemajuan pendidikan yang lebih baik lagi. Perubahan pendidikan yang mengarah pada kemajuan ini seharusnya diikuti dengan keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran yang berupa peningkatan prestasi, motivasi belajar dan aktivitas peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran akan berhasil karena ada beberapa faktor yang terlibat di dalamnya. Faktor tersebut bisa terdapat pada guru maupun peserta didik saat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Karena dalam kegiatan pembelajaran terjadi interaksi antara guru dengan peserta didik, maka yang akan terlihat adalah perubahan tingkah laku peserta didik sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan guru pada saat pembelajaran. Perubahan tingkah laku pada peserta didik terjadi apabila dalam kegiatan pembelajaran peserta didik aktif dan ikut terlibat dalam pembelajaran.

Namun yang penulis alami dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, peserta didik pasif dan hanya duduk mendengarkan ceramah dari guru saja tanpa ada aktivitas timbal balik terhadap proses pembelajaran. Hal tersebut bisa terjadi karena peserta didik bosan terhadap metode yang dilakukan oleh guru, bahkan beberapa siswa terlihat mengantuk saat pembelajaran. Oleh karena itu, penulis mengambil tindakan alternatif yang bertujuan untuk meningkatkan aktivitas peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu metode yang digunakan oleh penulis adalah dengan menerapkan metode make a match.

Menurut Kurniasih dan Sani (2015:55), model pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994), dimana model pembelajaran ini siswa diajak mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Metode make a match ini dilakukan dengan menggunakan media kartu soal dan kartu jawaban. Dan setiap peserta didik mengambil salah satu kartu, kemudian mereka mencari kartu yang sesuai dengan soal ataupun jawaban yang ada pada kartu peserta didik tersebut.

Mengapa penulis memilih untuk menggunakan metode ini? Karena menurut penulis metode make a match ini akan membuat pembelajaran semakin menarik dan semua peserta didik ikut terlibat dalam pembelajaran serta keaktifan peserta didik akan terlihat saat mereka mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang telah dipilih. Selain itu, juga agar materi pembelajaran yang telah disampaikan oleh penulis dapat dipahami oleh peserta didik dengan baik.

Adapun langkah-langkah dalam menerapkan metode make a match dalam kelas yaitu pertama kali yang perlu disiapkan oleh guru adalah beberapa kartu yang berisi konsep atau topik materi pembelajaran. Satu set kartu berisi soal-soal yang berhubungan dengan materi pelajaran  dan satu set lagi untuk kartu yang berisi jawaban yang sesuai dengan kartu soal. Kartu tersebut dibuat dari kertas yang berukuran 20cm x15cm, dengan warna yang berbeda. Misalnya untuk kartu soal berwarna merah dan kartu jawaban berwarna hijau. Langkah kedua yaitu guru menyampaikan materi pelajaran secara klasikal di dalam kelas dan melakukan tanya jawab dengan peserta didik. Langkah ketiga adalah setelah guru menyampaikan materi pelajaran, kemudian guru menjelaskan tentang metode make a match yang akan dilakukan. Keempat, setiap peserta didik mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal atau jawaban. Kelima, setiap peserta didik mencari pasangan kartu yang sesuai dengan kartu yang dimilikinya. Misalnya : pemegang kartu yang bertuliskan “20 Maret 1602” akan berpasangan dengan pemegang kartu yang bertuliskan “berdirinya VOC”. Langkah keenam yaitu memberi batasan waktu kepada peserta didik untuk mencari pasangan kartu yang sesuai. Setiap peserta didik yang mendapatkan kartu pasangannya sebelum waktu habis akan diberi nilai oleh guru. Ketujuh, setelah satu babak kartu soal dan jawaban diganti kartu yang baru, agar peserta didik lebih mendalami materi pelajaran. Peserta didik yang mendapat nilai paling banyak akan mendapat reward dari guru.

Penggunaan metode make a match ini sangat menarik jika digunakan dalam pembelajaran. Peserta didik akan lebih termotivasi untuk belajar lebih giat lagi, agar tidak dikalahkan oleh peserta didik lain. Selain mendapatkan pengetahuan, peserta didik juga akan belajar untuk tidak membeda-bedakan teman dalam permainan tersebut. Untuk itu, penulis sarankan agar guru mau menggunakan metodemake a match dalam pembelajaran di sekolah.

Diah Sawitri, S.Pd.SD

Guru SDNegeri Megulungkidul, Kabupaten Purworejo