Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Mari Nguri – Uri Kebudayaan Jawa

Mari Nguri – Uri Kebudayaan Jawa

BERBAGI
Suharni S.Pd SMK Negeri 2 Sragen
Suharni S.Pd SMK Negeri 2 Sragen

JATENGPOS.CO.ID, – Sekarang ini sudah sulit mencari kader muda yang suka kebudayaan jawa. Anak -anak sekarang ini lebih suka kebudayaan dari luar dari pada belajar kebudayaan jawa. Bisa dilihat di sekeliling kita sekarang ini, jarang anak- anak berkomunikasi bahasa keseharian dengan bahasa jawa. Apalagi menanamkan kebiasaan hidup dengan adat jawa. Kondisi semacam ini jika dibiarkan akan mematikan bahasa dan budaya Jawa.

Kebudayaan jawa sudah mulai tersingkir dan tergerus oleh perubahan peradaban. Zaman  dulu masih bisa tahu tata cara adat jawa yang sering kita lihat dan lakukan dan melekat dikehidupan sehari hari. Tapi sekarang ini dengan berbagai alasan ditinggalkan. Kebudayaan itu merupakan bagian dari masyarakat yang diperoleh melalui belajar dari masyarakat . yang mencakup kepercayaan, adat istiadat serta norma-norma. Atau dengan kata lain kebudayaan itu mencakup semua yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat untuk kepentingan sebagian besar atau seluruh masyarakat. Kebudayaan jawa pada dasarnya hakiki menurut berbagai kitab jawa klasik dan peninggalan lainnya dapat dirumuskan dengan singkat.

Orang jawa percaya dari berlindung kepada sang Pencipta, Zat Yang Maha tinggi, penyebab dari segala kehidupan, adanya dan seluruh alam semesta dan hanya ada seluruh alam semesta dan hanya ada satu Tuhan. Munculnya kebudayaan tentu saja sebagai wujud syukur dan pengakuan pada Sang Pencipta.

Orang jawa yakin bahwa manusia adalah bagian dari kodrat alam. Manusia dan kodrat alam senantiasa saling mempengaruhi.  Namun  sekaligus manusia harus sanggup melawan kodrat untuk mewujudkan kehendaknya, cita cita ataupun fantasinya.  Untuk  hidup selamat sejahtera dan bahagia lahir dan batin. Hasil perjuangannya (melawan kodrat) berarti kemajuan dan pengetahuan bagi lingkungan atau masyarakatnya. Maka terjalin kebersamaan dan hidup rukun dengan rasa saling menghormati, tenggang rasa, budi luhur, rukun damai.

Rukun damai berarti tertib pada lahir dan damai pada batinnya, sekaligus membangkitkan sifat luhur dan perikemanusiaan. Orang jawa menjunjung tinggi amanat semboyan “memayu hayuning bawana “ yang artinya memelihara kesejahteraan dunia.

Budaya jawa yang biasa disebut adat jawa melekat akan tradisi nenek moyang yang didalamnya tercampur unsur pra-Hindu, Hindu -Jawa, dan Islam serta animesmepada kebiasaan atau aturan -aturan budaya yang dibentuk demi kesejahteraan hidup manusia terutama masyarakat jawa atau orang Jawa.

Masyarakat jawa sangat menjunjung tinggi nilai nilai dan norma-norma kehidupan untuk mencari keseimbangan dalam tatanan kehidupan yang pada akhirnya untuk menjadi adat istiadat yang diwujudkan dalam bentuk tata upacara dan masyarakat diharapkan untuk mentaatinya. Di masyarakat Jawa upacara adat adalah pencerminan bahwa semua perencanaan ,tindakan dan perbuatan telah diatur oleh tata nilai luhur. Tata nilai yang dipancarkan melalui tata upacara adat merupakan tata kehidupan masyarakat Jawa yang serba hati-hati agar dalam melaksanakan pekerjaan mendapatkan keselamatan lahir batin.

Masyarakat Jawa mempunyai berbagai tata upacara adat sejak sebelum lahir (Jalin) sampai meninggal. Setiap tata upacara adat mempunyai makna tersendiri dan sampai saat ini masih cukup banyak yang melestarikan. Sebagai contohnya, tata upacara mitoni, itu dilakukan saat hamil tujuh bulan,  tata upacara “ krayahan” ( menyambut kelahiran bayi),  tata upacara “sepasaran” itu dilaksanakan saat bayi beusia lima hari. Tata upacara “selapan” itu saat bayi berusia 35 hari. Dan masih banyak lagi tata upacara adat Jawa.

Kita sebagai guru , bisa sebagai wadah untuk menyalurkan kebudayaan Jawa kepada murid-murid. Bentuk pelestarian budaya Jawa ini bisa disampaikan dalam kurikulum , supaya kader muda itu  tidak buta dengan kebudayaan kita sendiri. Kalau bukan kita yang melestarikan kebudayaan Jawa ini siapa lagi dan kapan lagi kita bisa menjadi penerus dan pelestari kebudayaan jawa. Secara tidak langsung kita guru wajib nguri -uri kebudayaan jawa dengan cara mengenalkan dan meneruskan kepada murid murid.

Suharni S.Pd

SMK Negeri 2 Sragen

BERBAGI