Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Melatih Tanggung Jawab Siswa dengan NHT

Melatih Tanggung Jawab Siswa dengan NHT

206
BERBAGI
Ari Sugiarti, S.S. Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Kalikajar, Wonosobo
Ari Sugiarti, S.S. Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Kalikajar, Wonosobo

Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan siswa kurang antusias dalam menerima materi pembelajaran yang guru berikan. Salah satunya adalah karena faktor guru itu sendiri. Selama ini guru kurang melakukan inovasi dalam menyampaikan materi. Akibatnya siswa menjadi jenuh, tidak aktif selama kegiatan pelajaran dan malas berpikir karena kegiatan pembelajaran yang kurang menarik. Siswa tidak didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dan hanya siap merekam apa yang disampaikan guru di depan kelas. Guru kurang menggunakan model pembelajaran yang variatif, bahkan kadang-kadang hanya membacakan materi yang tersedia di buku.

Padahalsekolah sudah memiliki media pembelajaran yang dapat digunakan guru untuk membantu dalam  menyampaikan  materi  pelajaran,  tetapi  tidakdimanfaatkan  dengan  baik oleh  guru  untuk  membantu  siswa  dalam  proses  belajar  mengajar  di  kelas.  Proses  pembelajaran juga  masih  menerapkan pembelajaran teacher centereddi mana siswa hanya memerhatikan  penjelasan  guru.Beberapa masalah lain yang dihadapi guru saat pembelajaran di antaranya (1) siswa tidak aktif selama proses pembelajaran; (2) siswa malas untuk berpikir; (3) beberapa siswa melakukan aktivitas sendiri, seperti bermain, bercakap-cakap, melamun, bahkan menguap/mengantuk; (4) suasana pembelajaran tidak menyenangkan dan terasa membosankan; (5) motivasi atau semangat siswa mengikuti proses pembelajaran sangat rendah; (6) siswa tidak dapat menjawab pertanyaan dari guru; dan (7)  prestasi belajar siswa menjadi rendah. Untuk itulah diperlukan model pembelajaran yang dapat meminimalisasi masalah yang dihadapi oleh guru saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Salah satunya adalah dengan model pembelajaran NHT (Numbered Heads Together).

NHT pertama kali dikenalkanoleh Spencer Kagan dkk (1993). Model NHT adalahbagiandari model pembelajarankooperatifstruktural, yang menekankanpadastruktur-strukturkhusus yang dirancanguntukmemengaruhipolainteraksisiswa. Struktur Kagan menghendaki agar para siswabekerjasalingbergantungpadakelompok-kelompokkecilsecarakooperatif.PembelajarandenganmenggunakanmodelNHTinidiawalidenganpenomoransiswayaitu  guru  membagikelasmenjadikelompok-kelompokkecil yang terdiridari 3-4 siswa. Setiapsiswadalamkelompokdiberinomor  yang  berbeda-beda.    Tahapberikutnya  guru  memberikanbeberapapertanyaanatausoal  yang  harusdijawabolehtiapkelompokdantiapkelompokberdiskusimemikirkanjawabanataspertanyaandari guru.Tahapselanjutnyaadalah guru memanggilpesertadidik yang memilikinomor  yangsamadaritiap-tiapkelompok.  Merekadiberikesempatanmemberijawabanataspertanyaanatausoal yang telahdiberikanoleh guru.Hal  itudilakukanterushinggasemuapesertadidikdengannomor  yangsamadarimasing-masingkelompokmendapatgiliranmemaparkanjawabanataspertanyaan guru.

Model pembelajaran ini sangat cocok untuk mengatasi permasalahan saat guru memberikan tugas secara kelompok. Biasanya ketika siswa berkelompok, ada beberapa siswa yang tidak aktif, hanya mengandalkan salah satu teman dalam kelompoknya. Siswa kurang ada rasa tanggung jawab karena merasa sudah ada teman dalam anggota kelompok yang mengerjakan tugas tersebut.

 Oleh karena itu, dengan memberi penomoran kepada setiap anggota kelompok sesuai dengan model pembelajaran NHT, maka siswa setidaknya akan lebih bertanggung jawab menyelesaikan tugas sesuai dengan nomor yang diterimanya. Misalnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru menyediakan 4 atau 5 item tugas (sesuai dengan jumlah anggota kelompok). Setiap kelompok kemudian membagi tanggung jawab tugas tersebut sesuai dengan nomor keanggotaannya.

Misalnya siswa yang bernomor 1 bertanggung jawab akan soal nomor 1, siswa yang bernomor anggota 2 bertanggung jawab soal nomor 2, dan seterusnya. Meskipun berkelompok, masing-masing siswa diberi tanggung jawab menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Hal ini untuk menghindari beban tugas yang biasanya dipasrahkan kepada teman lain dalam kelompoknya. Berikutnya saat guru memanggil siswa dengan nomor tertentu, semua siswa yang bernomor sama dalam kelompok berdiri untuk memaparkan hasil diskusinya dalam kelompok. Dengan model pembelajaran seperti ini diharapkan rasa tanggung jawab siswa dalam menyelesaikan tugas akan lebih meningkat.

Ari Sugiarti, S.S.

Guru Bahasa Indonesia

SMP Negeri 1 Kalikajar, Wonosobo

BERBAGI