Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Membangun Menara dengan Kelas Inspirasi

Membangun Menara dengan Kelas Inspirasi

BERBAGI
Agus Junaedi, S.Pd Guru SMP N 10 Salatiga
Agus Junaedi, S.Pd Guru SMP N 10 Salatiga

JATENGPOS.CO.ID, – Suatu pagi di hari Senin, upacara bendera saat itu lain dari biasanya. Senin yang luar biasa. Pembina upacara adalah seorang polisi yang berpenampilan gagah, rapi, dan bersuara tegas. Penyampaian amanat upacara diawali perkenalan dilanjutkan penyampaian hukum dan ketertiban keamanan. Di sela-sela penyampaian hal tersebut, pembina upacara juga menyampaikan motivasi kepada seluruh pelajar. Dia ceritakan ketika berangkat sekolah dengan berjalan kaki, kadang tidak sarapan karena keadaan ekonomi orang tua yang kekurangan. Sepulang sekolah, pada sore hari membantu orang tua di ladang. Malamnya diisi belajar dan mengaji. Perjuangan yang panjang, sampai tercapainya cita-cita , menjadi polisi.

Upacara usai, dilanjutkan pelajaran sesuai jadwal yang ada. Ketika di dalam kelas, beberapa anak menyampaikan isi hatinya kepada gurunya, bahwa dia ingin berjuang seperti polisi tadi. Mereka berkeinginan suatu saat menjadi seorang polisi. Mulai saat itu ,dia berjanji akan belajar tekun, berjuang dengan jiwa dan raga seperti yang disampaikan polisi di upacara tadi. Semangatnya kuat sekali

Narasi di atas adalah sedikit gambaran kejadian yang menginspirasi. Luarbiasa kekuat-annya. Jika hal tersebut dijadikan program Kelas Inspirasi, ada dampak positif pada semangat para pelajar. Kelas inspirasi, selayaknya bisa dijalankan di setiap sekolah. Pelaksanaannya bisa secara umum ,seperti upacara, pramuka, ibadah bersama, dan kegiatan-kegiatan lain. Di dalam kelas, program kelas inspirasi bisa melalui program literasi sekolah, yaitu melalui membaca buku yang berisi riwayat – riwayat orang –orang atau tokoh yang berhasil dalam hidupnya.

Kegiatan literasi di sekolah adalah waktu yang bagus untuk memasukkan ide-ide inspiratif. Suatu hari, saat kegiatan literasi dengan membaca buku, seorang peserta didik membaca buku yang agak kumal. Judulnya sepertinya sudah tidak asing lagi. Buku yang pernah dibaca anakku, beberapa tahun yang lalu. Buku tentang sebuah pondok pesantren, dengan Man Jadda Wa Jada.Peserta didik ini aku tanya kenapa suka buku ini. Dia mengatakan sudah membaca berulang kali sejak dibelikan oleh bapaknya beberapa tahun yang lalu. Pengalaman peserta didikku, sesudah membaca buku tersebut, ada keinginan membangun menara dengan semangat yang kuat, tanpa kenal putus asa.  Tantangan menuju keberhasilan dihadapi, dan akhirnya suatu saat akan berhasil dengan gemilang.Buku tersebut sangat inspiratif untuk melangkah, menentukan strategi, membentuk karakter kemandirian.

Usia anak sekolah adalah masa spaling strategis untuk membangun pondasi kepribadian,termasuk di dalamnya fondasi paradigma berpikir, bersikap, dan bertindak. Pada masa kanak-kanak, kepekaan emosinya sangat efektif untuk diasah atau justru malah ditumpulkan. Asupan yang berpotensi menyegarkan kemampuan sangat dibutuhkan. Kisah-kisah inspiratif sangat diperlukan. Bacaan dan cerita adalah gizi yang dibutuhkan untuk membangun karakter yang kuat. Informasi, berita, kisah dan yang semacamnya harus dipilih yang tidak mengotori pikiran. Dipilah bahan yang tidak menumpulkan ketajaman emosi, yang tidak merusak hati nurani. Apalagi dizaman sekarang, informasi sangat berseliweran di lingkungan nyata maupun maya.

Kelas inspirasi, jika dimaksimalkan mampu memangkas informasi yang sesat, informasi yang merusak. David Shenk menjelaskan sebagian besar informasi yang beredar di era sekarang adalah sebagai kotoran dan buangan, data smog (Kotoran Data). Data Smog bisa menyebabkan meltdown. Meltdown adalah penurunan kemampuan otak. Sungguh sangat berbahaya jika informasi, kisah, bacaan yang ditelan oleh para peserta didik adalah merupakan data smog. Ibarat komputer yang mempunyai operator sistem lemah, tapi diisi dengan program dan data yang berat.  Dengan adanya data kotor , maka seorang guru harus menyeleksi bacaan untuk para peserta didik, karena bahan yang dibaca sangat kuat menginspirasi peserta didik.

Seorang guru yang sedang bertugas saat literasi  ( 15 menit sebelum pelajaran) dapat menyampaikan inti inspirasi dari sebuah buku atau riwayat yang ada. Peserta didik yang punya cerita atau artikel inspirasi juga diperkenankan menyampaikan di depan kelas. Pada kesempatan lain, pihak sekolah dapat menghadirkan tokoh  di beberapa bidang, misalnya seniman, ahli ekonomi, ahli teknik, pedagang, dan sebagainya.

Kelas inspirasi juga dapat dilaksanakan di luar sekolah. Program pembelajaran luar sekolah tidak sekedar kunjungan ke tempat museum dan lain – lain.Program pembelajaran luar sekolah, dilaksanakan mengunjungi ke lokasi yang sekiranya mampu menginspirasi peserta didik untuk lebih maju. Kelas inspirasi, kelas yang mampu membawa perubahan.

BERBAGI