Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Membentuk Karakter Lewat Membaca Narrative Text

Membentuk Karakter Lewat Membaca Narrative Text

BERBAGI
Harini, S. Pd. Guru SMP Negeri 9 Surakarta
Harini, S. Pd. Guru SMP Negeri 9 Surakarta

JATENGPOS.CO.ID, Temuan  UNESCO  (2012)  terkait  kebiasaan  membaca  masyarakat Indonesia  menyatakan  hanya satu dari 1.000 orang Indonesia  yang membaca. Indonesia berada di peringkat paling bawah pada hampir semua jenis kompetensi yang diperlukan orang dewasa untuk bekerja dan berkarya sebagai anggota masyarakat. Kondisi demikian ini jelas memprihatinkan  karena kemampuan dan keterampilan membaca merupakan dasar bagi pemerolehan pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan sikap siswa.

Beberapa hari yang lalu saya sempat berdiskusi dengan teman guru IPA di sekolah. Saya mengeluhkan kenapa hasil ujicoba anak-anak kurang memuaskan. Ketika soal ujicoba  kami bahas di depan kelas, rata-rata anak-anak mengaku tahu arti semua kata bahasa Inggris dalam soal. Setelah dikaji rata-rata siswa salah dalam memahami kalimat. Guru IPA di sekolah kami juga berpendapat bahwa pengetahuan anak tentang pemahaman bahasa kurang. Memang untuk kemampuan berhitung mereka jempol. Ketika menghadapi soal cerita yang memerlukan logika dan penalaran, anak-anak agak mengalami kesulitan. Penyebab ini adalah kurangnya latihan mereka dalam membaca. Mungkin inilah salah satu alasan digerakkannya program literasi membaca di sekolah. Betapa pentingnya dan bermanfaatnya ketrampilan dan pembiasaan membaca.

Program Literasi membaca lima belas menit merupakan upaya pemerintah untuk menumbuhkan pembiasaan membaca di sekolah. Memang perlu sedikit pemaksaan terhadap kegiatan ini. Pemaksaan membaca agar nantinya menjadi satu pembiasaan.

Apabila membaca buku itu diwajibkan untuk mengulang berkali-kali maka akan terbentuklah kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca akhirnya akan menimbulkan kegemaran membaca. Pembiasaan ini harus dilakukan oleh siswa, guru, dan tenaga kependidikan yang bertujuan untuk menumbuhkan kebiasaan yang baik dan membentuk generasi berkarakter positif. Selain kemampuan berpikir, pembiasaan membaca juga akan berdampak pada karakter anak.

Fajar Rachmawati (2008: 4) menyebutkan beberapa manfaat membaca antara lain memiliki cara pola pikir yang luas, meningkatkan keimanan dan mendapatkan hiburan. Dari penjelasan diatas bisa dikaitkan antara program literasi membaca lima belas menit dengan penguatan pendidikan karakter di sekolah. Jika yang dibaca adalah buku – buku yang bernilai etika ataupun keagamaan.

Dalam pemilihan bahan bacaan, orangtua dan guru diharapkan ikut peduli. Bahan bacaan bisa berpengaruh dalam pembentukan karakter siswa. Tokoh-tokoh dalam cerita di buku bacaan bisa juga berpengaruh bagi sikap siswa. Perlu selektif dalam penyediakan buku-buku bacaan di perpustakaan atau buku-buku yang ada di pojok baca siswa. Bahan bacaan yang tidak layak dibaca anak SMP tidak semestinya ada di perpustakaan SMP.

Guru berperan sebagai penggerak program literasi membaca di sekolah. Lima belas menit membaca bukan hanya untuk siswa. Guru pun wajib membaca. Bapak/ibu guru menjadi teladan bagi siswa. Dengan cara ini guru juga bisa berperan sebagai petugas sensor. Guru membaca terlebih dulu buku-buku yang akan dipajang di rak perpustakaan. Guru bisa memutuskan pantas tidaknya buku dibaca oleh siswa. Tidak harus semua buku cerita. Hanya buku-buku  yang sekiranya ada indikasi mempunyai dampak buruk bagi siswa.

Karakter yang diharapkan juga akan terbentuk pada diri siswa adalah cerdas berkomunikasi. Dalam kegiatan lima belas menit membaca, siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan di depan kelas. Siswa bisa berbagi cerita dan mengemukakan pendapatnya terhadap isi bacaan. Nilai moral apa yang bisa diperoleh dari cerita yang mereka baca. Kemampuan memahami bacaan terkait dengan mata pelajaran bahasa.

Dalam pembelajaran bahasa Inggris ada kompetensi memahami bacaan teks Narrative . Teks ini berisi tentang cerita baik berupa fabel, legenda ataupun yang lainnya. Ada indikator tujuan pembelajaran dalam kompetensi membaca teks Narrative yaitu siswa dapat menyebutkan  nilai moral ( moral value) yang diambil dari satu cerita.

Susunan teks dalam Narrative text adalah orientation, complication dan resolution. Orientation memaparkan nama-nama tokoh dan karakternya. Guru bisa meminta anak untuk menyebutkan sifat-sifat baik dan buruknya. Problem apa yang dihadapi tokoh di dalam cerita. Hal ini bisa dibahas juga oleh guru. Siapapun mungkin bisa mengalami problem yang sama dengan tokoh dalam cerita. Guru bisa mengaitkan dengan kehidupan nyata. Dalam pembahasan teks narasi, guru bahasa memiliki kesempatan untuk memasukkan pendidikan karakter kepada siswa. Siswa pun akan merasa lebih mudah menerima nasehat dengan media cerita  atau narrative text. Dibagian resolusi adalah cara tokoh cerita menyelesaikan masalahnya. Disinilah guru bisa menanamkan pendidikan karakter kepada anak. Menurut pendapat saya, setiap guru sebaiknya berperan aktif dalam gerakan literasi lima belas menit membaca. Disamping meningkatkan potensi diri dalam kemampuan membaca, juga menjadi teladan bagi para siswa. Setelah itu mengajak siswa berdiskusi tentang isi bacaan dan mengambil hikmah dari cerita sebagai sarana penanaman pendidikan karakter kepada siswa.

Harini, S. Pd.

Guru SMP Negeri 9 Surakarta

BERBAGI