Beranda Opini Membudayakan Keluarga Sadar Pemilu

Membudayakan Keluarga Sadar Pemilu

74
BERBAGI
Oleh Galih Suci Pratama, S.Pd Mantan Ketua BEM FIP Unnes
Galih Suci Pratama, S.Pd Mantan Ketua BEM FIP Unnes

JATENGPOS.CO.ID, – Menarik mengikuti dinamika politik tentang pelaksanaan pemilukada tahun 2018. Alasannya cukup banyak seperti serentak, banyaknya daerah yang akan melaksanakan, panggung-panggung politik yang bertebaran hingga partisipasi masyarakat yang setiap tahun semakin meningkat pun menjadi sorotan. Berdasarkan data KPU ada 171 daerah yang sedang mengikuti tahapan pilkada 2018. Tidak jarang, jika tahun ini dinamakan sebagai tahun politik. Coba tengok kanan kiri, sudah bertebaran media kampanye. Namun, selayaknya hiruk pikuk pemilukada perlu diimbangi dengan kesiapan masyarakat menjadi agen pengawas pemilu secara aktif dan kreatif. Salah satunya melalui lingkup masyarakat terkecil yaitu keluarga. Keluarga merupakan agen pengawas pemilu yang pertama dan utama di masyarakat.

Keluarga mempunyai peran yang sangat vital dalam pengawasan pemilukada. Melalui keluarga yang memahami akan hakikat pemilu secara baik, maka optimisme akan lahirnya pemimpin yang bersih dan bijak pun menguat. Peran keluarga, sebagai pengawas penyelenggaraan pemilu, penangkal kejahatan pemilu, hingga penyosialisasi pemilu yang baik, benar dan sesuai aturan yang berlaku. Maka, peran keluarga dalam menyukseskan agenda pemilu tidak dapat dipandang remeh. Perlu disiapkan dan menjadi ujung tombak dalam meningkatkan kualitas pemilukada melalui keluarga sadar pemilu.

Sadar Pemilu

Keluarga Sadar pemilu dapat dimaknai sebagai perilaku keluarga yang mengetahui dan memahami terhadap proses penyelenggaraan pemilu. Namun secara akronim dapat diartikan sebagai simpati, agen, demokrasi, awasi, dan responsif.

Simpati. Sikap simpati sangat diperlukan dalam penyelenggaraan pemilu. Simpati merupakan bentuk  kepedulian masyarakat terhadap penyelenggaraan pemilukada. Contohnya, mengecek data pemilih pribadi di KPPS tempat tinggal, mengikuti tahapan kampanye yang dilakukan melalui panggung-panggung masyarakat agar melihat dari dekat tentang visi, misi, program dan arah kebijakan sang kandidat hingga ikut menciptakan suasana yang aman, nyaman dan damai pelaksanaan pemilukada. Simpati juga diartikan sebagai kesadaran sosial untuk menyukseskan pemilukada.

Agen pemilukada. Agen dapat diartikan sebagai orang yang menjadi perantara dalam melakukan pengawasan pemilukada. Agen berfungsi untuk memastikan proses pemilukada berjalan secara baik dan benar. Jika masyarakat dapat digerakan untuk menjadi agen pemilukada maka akan semakin mudah penyelenggara pemilu untuk menciptakan pemilu yang jujur dan adil.

Demokrasi. Pemilu merupakan salah satu bentuk kegiatan demokrasi di Indonesia. Adanya pemilu berarti proses demokrasi di Indonesia berjalan secara tepat. Proses demokrasi sebagai alat untuk mencari pemimpin yang berasal dari rahim rakyat. Maka, proses ini perlu untuk dijaga kualitasnya dan ditingkatkan pelayanannya. Agar semakin tahun angka partisipasi meningkat. Semakin tinggi partisipasi, semakin tinggi pula legitimasi sosial yang akan diterima. Dampaknya, demokrasi melahirkan pemimpin yang sejati bukan abal-abal.

Awasi. Awasi berarti setiap masyarakat harus mengawasi proses penyelenggaraan pemilu. Baik mengawasi proses pelaksanaan hingga mengawasi dalam menunaikan janji-janji kampanye yang pernah didengungkan sang kandidat. Itu penting. Agar rakyat tidak hanya dijadikan komponen pasif, namun aktif untuk ikut terlibat melakukan perubahan di daerahnya.

Responsif. Responsif artinya ketika ada kejanggalan dalam pemilukada harus dilaporkan ke pihak yang berwenang disertai dengan bukti yang kongkret dan jelas. Laporan dari masyarakat akan membantu Bawaslu dan KPU untuk menjaga proses pemilukada secara jujur, adil dan tidak memihak. Contohnya, ketika ada money politik maka setiap agen masyarakat langsung melaporkan baik ke media sosial, website hingga kantor Bawaslu setempat. Respon masyarakat ini pun selayaknya di respon oleh kerja cepat, kerja tepat dan kerja mantap agar laporan masyarakat tidak terkesan sia-sia dan diproses secara benar.

Kelima aspek tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh dalam melaksanakan penyelenggaraan pemilukada yang jujur, adil, langsung, umum dan rahasia di masyarakat.

Cara Menjadi Keluarga Sadar Pemilu

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran setiap keluarga menjadi agen pengawasan pemilu yang baik. Pertama, memperbanyak informasi tentang pemilu. Informasi didapatkan melalui televisi, buku, koran hingga obrolan masyarakat. Dengan mengetahui banyak informasi pemilu maka setiap masyarakat lebih memahami tentang penyelenggaraan pemilu secara terkini. Oleh sebab itu, setiap keluarga perlu meluangkan waktu khusus untuk mengkonsumsi berita tentang pemilu (media cetak atau elektronik) hingga mengkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain agar mendapatkan sudut pandang yang lebih utuh dan berimbang. Ini penting. Karena jangan sampai apa yang kita baca, percayai hingga lakukan berasal dari sumber yang tidak tepat (hoaks). Dalam konteks ini keluarga dapat sebagai penangkal hoaks.

Kedua, sosialisasi secara masif kepada setiap keluarga melalui kelurahan, kumpulan RT hingga PKK tentang pemahaman peraturan pemilu. Agar setiap keluarga lebih memahami tentang mana yang dibolehkan dan mana yang dilarang. Ini penting. Utamanya untuk membatasi masyarakat dengan perilaku korup yang sering terjadi menjelang pemilu. Bahkan, akan lebih masif jika setelah sosialisasi diberikan maka dibentuk tim untuk investigasi pelaksanaan pemilukada. Tim ini bertugas untuk ikut mengawasi, menjadi mata Bawaslu di setiap aktivitas masyarakat hingga menjadi sarana untuk mencerdaskan masyarakat tentang proses pemilukada.

Ketiga, perlu kampanye kreatif yang dilakukan oleh KPU, Bawaslu dan Pemerintah tentang pelaksanaan pemilu yang jujur dan adil. Kampanye kreatif dapat menggunakan media sosial, kegiatan masyarakat, pengadaan maskot, hingga mars lagu yang sederhana sesuai kearifan lokal agar dapat dipahami secara cepat oleh masyarakat. Semakin “out off the box” konsep yang dilakukan dalam kampanye kreatif maka masyarakat akan lebih mudah menangkap setiap pesan yang diberikan.
Keluarga Sadar Pemilu akan terwujud jika seluruh aspek bersinegi menggunakan hati untuk menciptakan situasi pemilu yang jujur dan berkeadilan. Perlu dukungan pemerintah, KPU, bawaslu, dan masyarakat secara umum untuk meningkatkan jumlah keluarga yang sesuai kriteria sadar pemilu. Semakin banyak keluarga yang sadar pemilu, maka semakin optimis penyelenggaraan pemilukada 2018 akan berlangsung secara jujur dan adil.

BERBAGI