Beranda Jateng Membudidayakan Kembali Kopi Merapi

Membudidayakan Kembali Kopi Merapi

BERBAGI
TANAM KOPI: Wakil Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Ferdinand Lahnstein, menanam kopi di Stabelan, Tlogolele, Selo, Boyolali. foto : aji jarmaji/jateng pos
TANAM KOPI: Wakil Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Ferdinand Lahnstein, menanam kopi di Stabelan, Tlogolele, Selo, Boyolali. foto : aji jarmaji/jateng pos
JATENGPOS.CO.ID, BOYOLALI – Kopi sedang ngetren saat ini. Komoditi itu kini juga sedang dikembangkan masyarakat di Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali.

Daerah di lereng Gunung Merapi sisi barat daya itu memang terdapat tanaman kopi milik warga. Namun jumlahnya tidak banyak. Hasil panen setiap warga pun masih hitungan kiloan.

Namun, tanaman kopi ternyata bukan barang asing lagi bagi masyarakat disana. Pasalnya, wilayah tersebut jaman kolonial Belanda dulu, merupakan kebun kopi.

“Dulu, daerah sini memang kebun kopi dan teh. Ada daerah yang namanya Kopen (kebun kopi) dan Ngetian (kebun teh),” kata Kepala Desa Tlogolele, Widodo, usai Selamatan Gunung peluncuran program market development di Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele, Jumat (19/1).

Program market development tersebut diluncurkan Business Watch Indonesia (BWI) dan Solidaridad, yang melakukan pendampingan warga di Tlogolele dalam budidaya pertanian. Salah satunya budidaya kopi Arabika.

Upaya membangkitkan kejayaan kopi di daerah tersebut pun kini dilakukan warga setempat. Penanaman kopi dengan sistem agroforestri dibudiayakan masyarakat. Lahan untuk penanaman kopi telah disiapkan pemerintah desa setempat bersama masyarakat. Selain di lahan masyarakat, budidaya kopi juga ditanam di tanah kas desa, yang berada di lereng Merapi, diatas Dukuh Stabelan.

Dalam peluncuran program market development tersebut juga digelar selamatan gunung. Warga Stabelan membawa tumpeng dan dikirab ke lokasi acara.

Kegiatan itu juga dihadiri Wakil Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Ferdinand Lahnstein dan perwakilan dari Solidaridad, pejabat dinas terkait Pemkab Boyolali serta Camat Selo, Jarot Purnama.

“Peluncuran program market development sebagai tindak lanjut penanaman kopi yang disambut antusiasme masyarakat Stabelan. Program ini tidak hanya untuk membantu memasarkan kopi saja, tetapi juga produk-produk pertanian unggulan lainnya,” ujar Ketua Yayasan BWI, Aris Buntara.

Sedangkan Wakil Dubes Belanda, Ferdinand Lahnstein, menyampaikan program ini untuk membantu masyarakat dalam memasarkan produk pertanian warga. Sehingga memudahkan dalam pemasarannya dan memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat. (aji/saf)

BERBAGI