Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Menciptakan Sekolah Nol Sampah

Menciptakan Sekolah Nol Sampah

50
BERBAGI
Kasinah, S. Pd., MM Kepala SMP Negeri 35 Purworejo
Kasinah, S. Pd., MM Kepala SMP Negeri 35 Purworejo

JATENGPOS.CO.ID,- Sampah merupakan persoalan klasik di masyarakat dan sampai saat ini masih menjadi masalah yang serius. Di samping rendahnya kesadaran masyarakat atas kebersihan, upaya yang dilakukan pemerintah juga belum optimal. Kalau kita lihat dibeberapa tempat pembuangan sampah sementara, pada siang hari masih banyak tumpukan sampah yang belum terangkut. Belum lagi, beberapa anak sungai yang “mati” akibat adanya sampah yang terus menumpuk. Merupakan satu tantangan yang dihadapi oleh  pengelola adalah  masalah sampah.

Beberapa sampah padat seperti produk kayu, makanan, sampah hewan, daun-daun yang mati dan sampah halaman rumah lainnya disebut sampah yang dapat diuraikan (organik) karena sampah tersebut dapat diuraikan oleh alam. Sampah yang lain seperti pestisiada, logam toksik dan residu radioaktif dari reactor nuklir tidak mudah diuraikan. Sampah ini disebut sampah yang tidak dapat diuraikan (an organik) karena sampah tersebut menetap dilingkungan selama beratus-ratus bahkan beribu-ribu tahun. Keadaan ini menjadi perdebatan dimana dan bagaimana membuang sampah toksik, sampah an organik. Satu metode yang dapat diterima  dan membutuhkan persetujuan besar adalah penanaman sampah pada area geologis yang stabil.

Langkah yang dilakukan Kepala Sekolah dan guru untuk menciptakan siswa-siswi yang memiliki moral dan etika yang baik terhadap social maupun lingkungannya antara lain menetapkan peraturan sekolah yang berkaitan dengan pengelolaan sampah. Peran guru sangatlah penting dalam menciptakan sekolah indah dan nyaman sebagai tempat belajar bagi siswa-siswinya. Pengontrolan sampah oleh guru penting dalam upaya menciptakan pelajar yang cinta terhadap lingkungannya sendiri. Bimbingan dari guru dan contoh yang baik dari guru sangatlah dibutuhkan. Perhatian yang ketat serta pemberian hukuman kepada siswa yang membuang sampah secara sembarangan merupakan contoh kongkrityang harus dan segera dilaksanakan di lingkungan sekolah.

Langkahyang dilakukan dalam pengendalian sampah di lingkungan sekolah tidak semudah yang dipikirkan karena setiap warga sekolah harus memiliki pola pikir atau pemikiran yang sama mengenai bahaya sampah tersebut. Misalnya setiap warga sekolah harus satu pemikiran dan konsistenakan pengendalian sampah tersebut. Apabila setiap warga sekolah tidak memiliki pemikiran yang sama akan pengendalian sampah tentunya harapan untuk mencapai sekolah yang akan bebas sampah hanya akan tinggal impian. Pengendalian sampah harus dimulai dari tata aturan pengendalian sampah yang baik. Ini diartikan bahwasanya harus ada terlebih dahulu satu aturan yang diciptakan oleh atasan (kepala sekolah, guru dan badan pemerintah) kemudian diterapkan dalam aktivitas yang berlangsung di sekolah. Sesungguhnya pengendalian sampah di sekolah sangat sederhana untuk dilaksanakan apabila pola pikir warga sekolah tersebut sederhana juga dan akan sangat sulit dilakukan apabila pola pikir sekolah tersebut rumit.

Pengelolaan sampah atau pengendalian sampah dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Langkah pengendalian sampah tersebut yaitu  dalam pengendalian sampah di sekolah, terlebih dahulu harus memahami jenis sampah yang ada. Karena setiap sampah memiliki usia yang berbeda. Usia yang berbeda tersebut dikarenakan jenis kandungan yang berbeda-beda pada setiap jenis sampah. Dengan pemahaman tersebut kita dapat memilahnya apakah masih dapat didaur ulang atau tidak.

Plastik adalah satu dari beberapa jenis sampah yang paling berbahaya dan paling banyak digunakan yaitu 170 kantong per tahun yang dihabiskan setiap orang, padahal dibutuhkan 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon per tahun untuk memproduksi plastik. Sebagai contoh bayangkan saja warga sekolah ada 400 orang x 170 plastik = 68000 kantong plastic yang digunakan warga sekolah dalam setahun tanpa pengendalian. Bagaimana dengan seluruh umat manusia di dunia?. Mungkin tidak terhitung lagi kalu tidak ada pengendalian. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh badan POM kantong plastic atau PVC banyak mengandung unsure kimia berbahaya yaitu senyawa timbale (Pb), cadmium (Cd), timah putih (Sn) yang dapat menyebabkan kanker dan penyakit berbahaya lainnya bagi warga sekolah yang menggunakannya. Dan tentunya setelah dibuang unsure kimia berbahaya tersebut akan mengedap dilingkungan sekolah kita yang menyebabkan tanah sekolah menjadi gersang dan tandus.

Kertas sebagai kebutuhan pokok setiap siswa di seluruh dunia merupakan salah satu sampah yang paling banyak di  sekolah. Kertas merupakan sampah organic karena terbuat dari tumbuhan tetapi dapat juga dikelompokan kedalam sampah anorganik karena dapat didaur ulang, tetapi lebih mengacu pada sampah organic karena dilihat juga dari sisi lama penguraiannya. Siswa semestinya menggunakan dan memanfaatkan kertas seperlunya, jangan menyia-nyiakan kertas karena kita harus mengingat fakta bahwasanya 1 rim kertas (500lembar) setara dengan 1 batang pohon dan diperkirakan 2,75 miliar pohon dibutuhkan setiap tahun untuk memproduksi kertas. Jadi siswa harus mulai berpikir akan bagaimana generasi berikutnya tanpa pohon karena telah habis untuk memproduksi kertas. Jadi dengan hemat kertas maka sampah kertas akan berkurang di sekolah alhasil sekolah akan bebas dari sampah  kertas.

Faktanya 100% air yang ada di bumi, 97% adalah air laut dan 3% adalah air tawar, itupun tidak seluruhnya dapat dikonsumsi. Bayangkan saja jikalau sampah beracun banyak maka air tesebut akan kotor dan tidak dapa  lagi dikonsumsi maka air bersih dilingkungan kita akan semakin minim. Mari hemat air dan jangan membuang sampah sembarangan agar sumber air bersih kita tetap mencukupi kebutuhan kita dan sumber hidup kita semakin bersih.

Jadi, ada 4 cara pengendalian sampah yang harus dilakukan di sekolah  agar tercapai kesuksesan dalam pengendalian sampah. Ubah pola piker lama menjadi pola pikir baru yang penuh dengan harapan sekolah bebas dari sampah agar sekolah  menjadi asri, sejuk, bersih dan kreatif dalam hal pengelolaan sampah. Untuk jenis sampah organik dapat kita buat pupuk kompos sedangkan sampah an organik dapat kita gunakan metode 3-R yaitu singkatan dari Reuse, Reduce dan Recycle. Pengolahan sampah melalui 3-R dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja dan tanpa biaya. Hanya dibutuhkan sedikit waktu dan kepedulian kita dalam melakukannya bahkan dari hasil pengolahan sampah melalui 3-R tersebut dapat menghasilkan keuntungan materi bagi kita yang melakukan karena dapat menjual hasil dari daur ulang yang kita lakukan. Dengan melakukan pengolahan sampah melalui 3-R tersebut  ampah yang ada dapat dijamin sampah yang ada di sekolah akan dapat teratasi dan tujuan dari pengolahan sampah akan dapat tercapai.

Kasinah, S. Pd., MM

Kepala SMP Negeri 35 Purworejo

BERBAGI