Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Mengawal Karakter Siswa Melalui “Kantin Kejujuran”

Mengawal Karakter Siswa Melalui “Kantin Kejujuran”

19
BERBAGI
Ari Kristanti, S.Sos. Guru SMP Negeri 2 Sidoharjo,Wonogiri
Ari Kristanti, S.Sos. Guru SMP Negeri 2 Sidoharjo,Wonogiri

JATENGPOS.CO.ID, – Mendengar dan melihat banyak berita mengenai lemahnya karakter pemimpin bangsa yang ditunjukkan dengan maraknya kasus korupsi, sudah selayaknya masa depan bangsa  dimulai dari pendidikan karakter . Tidak hanya pendidikan dari orangtua, sekolah pun  perlu  mengambil peran dalam membentuk karakter generasi penerus bangsa ini.

Sekolah, sebagai lingkungan  kedua bagi siswa, merupakan tempat yang berfungsi mengajarkan kehidupan social. Dalam lingkup yang lebih luas dibanding  keluarga,sesungguhnya  sekolah  sebagai miniatur masyarakat yang majemuk. Perlu adanya program pembentukan karakter siswa yang jelas agar mereka bisa menjadi bagian dari miniatur masyarakt tersebut dengan penuh tanggung jawab.

Salah satu bentuk program yang sudah diterapkan dalam membentuk karakter siswa adalah program kantin kejujuran. Seperti layaknya sebuah kantin, kantin kejujuran menjajakan barang  kebutuhan siswa. Perbedaannya terletak pada pola yang diterapkan,yakni   swalayan. Barang yang dijual sudah diberi tarif harga,siswa mengambil sendiri kebutuhannya, membayar, mengambil uang kembaliannya tanpa dilayani oleh petugas. Semua proses transaksi dilakukan sendiri oleh siswa. Di kantin ini, kesadaran tanggung jawab  pengunjung  sangat ditekankan dalam berbelanja , tanpa harus diawasi oleh  pegawai kantin.

Motto yang ditanamkan  adalah Allah Melihat Malaikat Mencatat. Kantin Kejujuran merupakan  bentuk kegiatan dalam pendidikan Antikorupsi,yaitu upaya  mendidik akhlak siswa agar berperilaku jujur. Kantin kejujuran merupakan kantin yang menjual segala kebutuhan siswa, baik berupa makanan,minuman dan alat tulis menulis.Semuanya dipajang dalam etalase  tanpa ada penjaga sebagaimana lazimnya sebuah kantin yang kita kenal selama ini. Didalam Kantin dipajang kotak uang untuk menampung hasil transaksi siswa. Bila ada kembalia,siswa sendiri yang mengambil dan menghitung hasil kembaliannya.Dikantin ini dibangun kesadaran siswa untuk berbuat jujur tanpa harus diawasi oleh guru ataupun pengelola kantin.Tujuan utamanya adalah mengukur kejujuran anak didik sehingga dengan pengalaman mereka itu ia akan menjadi anggota masyarakat yang jujur kedepan. Kantin kejujuran merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam pendidikan anti korupsi.Yang harus kita akui merupakan salah satu penyakit atau problema bangsa yang hingga kini masih merajalela dibumi pertiwi.Virus korupsi telah merajalela hampir disemua lini disetiap orde pemerintahan kita.Korupsi yang subur telah menyengsarakan rakyat banyak secara berkepanjangan.Bahkan menghambat kemajuan bangsa dan negara ini kedepan.Sangat sulit memang memutus mata rantai korupsi ini sebab kebanyakan dari kita menganggapnya sebagai budaya.Padahal kalau kita bercermin dengan kultur budaya kita mengambil sesuatu tanpa seizin pemiliknya adalah sangat memalukan.Sebuah persepsi yang keliru jika menganggap korupsi adalah budaya.

Pola semacam ini sangat baik untuk melatih karakter jujur siswa, baik pada dirinya sendiri maupun lingkungan. Namun tidak urung, pola ini rawan menimbulkan masalah, diantaranya kecurangan dalam traksaksi penjualan. Tidak semua siswa dapat berperilaku jujur, ada diantara mereka yang masih belum sepenuhnya menyadari arti penting suatu kejujuran. Sekolah tidak bisa langsung menyalahkan siswa, karena apabila ditelusur tentu akan ada banyak faktor yang melatarbelakangi.

Penanganan terhadap permasalahan ini tidak bisa hanya dengan memberi sanksi, tetapi harus disertai dengan pendekatan yang lebih dinamis, diantaranya melalui konseling, baik secara kelompok maupun individual. Konseling dimaksudkan untuk melihat dan memahami lebih dalam akar dari permasalahan tersebut, sehingga ada pemahaman yang lebih komprehensif terhadap perilaku siswa. Guru Bimbingan dan Konseling memegang peran penting dalam hal ini tanpa meniadakan peran guru mata pelajaran yang lain. Maka dari itu, penting program konseling masuk dalam rangkaian program kantin kejujuran.

Sekolah dapat mengembangkan program konseling khusus untuk mengawal pelaksaan program kantin kejujuran agar tujuan utamanya dalam membentuk karakter siswa dapat dicapai dengan baik. Diharapkan, tidak hanya dilihat dari untung dan rugi transaksi di kantin kejujuran namun juga melalui konseling ini dapat memberikan pemahaman kepada siswa arti penting seorang diri yang berkarakter.

Siswa adalah generasi muda bangsa kita yang nantinya akan menjasi penerus pergerakan kemajuan bangsa. Sudah sepatutnya, sekolah maupun lembaga yang peduli dengan perkembangan generasi muda turut ikut andil dalam membentuk karakter mereka, yaitu karakter generasi muda yang penuh integritas dan semangat kebangsaan yang mulia.

Ari Kristanti, S.Sos.
Guru SMP Negeri 2 Sidoharjo,Wonogiri
BERBAGI