Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Inggris Siswa dengan Metode TPR (Total Physical...

Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Inggris Siswa dengan Metode TPR (Total Physical Response)

16
BERBAGI
Lia Eliana, S.Pd SMPN 2 Gunungwungkal-Pati
Lia Eliana, S.Pd SMPN 2 Gunungwungkal-Pati

JATENGPOS.CO.ID,- Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pada pasal 1, ayat 20 dinyatakan bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar. Sejalan dengan UU Sisdiknas tersebut Permendikbud RI No.103 Tahun 2014 pasal 1 lebih jelas menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antarpeserta didik dan antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (BSNP, 2016). Mengacu pada pengertian pembelajaran tersebut dapat kita pahami. bahwa dalam pembelajaran ada tiga unsur penting yaitu: 1) subjek, 2) aktivitas atau proses interaksi, dan 3) lingkungan belajar. Siswa dan guru adalah subjek yang aktif. Ahli pembelajaran, seperti Gagne, Briggs dan Wager (1992) juga menyatakan hal senada, bahwa pembelajaran adalah serangakaian kegiatan yang dirancang untuk terfasilitasinya proses belajar siswa. Kiranya jelas, bahwa tujuan dari semua upaya pembelajaran adalah agar siswa belajar.

Pembelajaran Bahasa Inggris merupakan momok tersendiri bagi siswa. Dikarenakan Bahasa Inggris bukan “bahasa ibu” mereka dan jarang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kurangnya perbendaharaan kata juga merupakan masalah pelik bagi siswa.Ada beberapa metode yang biasa digunakan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan belajar peserta didiknya seperti metode ceramah, diskusi, pembelajaran kooperatif, dll. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris adalah metode TPR (Total Physical Response). Metode TPR menurut Richards J dalam bukunya  Approaches and Methods in Language Teaching, metode TPR (Total Physical Response) merupakan suatu metode pembelajaran bahasa yang disusun pada koordinasi perintah (command), ucapan (speech) dan gerak (action); dan berusaha untuk mengajarkan bahasa melalui aktivitas fisik (motor). Sedangkan menurut Larsen dan Diane dalam Technique and Principles in Language Teaching, TPR atau disebut juga ”the comprehension approach” atau pendekatan pemahaman yaitu suatu metode pendekatan bahasa asing dengan instruksi atau perintah. Pada tahap awal pembelajaran guru dapat membantu siswa untuk memahami materi dengan menggunakan gambar dan kata dalam bahasa ibu mereka. Selanjutnya siswa dapat merespon instruksi lisan dari guru, misalnya, Silent, Sit down, Walk, Stop, Stand Up, Run, Read, Listen, Write, etc

Metode TPR ini sangat mudah dan ringan dalam segi penggunaan bahasa dan juga mengandung unsur gerakan permainan sehingga dapat menghilangkan stress pada peserta didik karena masalah-masalah yang dihadapi dalam pelajarannya terutama pada saat mempelajari bahasa asing, dan juga dapat menciptakan suasana hati yang positif pada peserta didik yang dapat memfasilitasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa dalam pelajaran tersebut. Makna atau arti dari bahasa sasaran dipelajari selama melakukan aksi. Guru atau instruktur memiliki peran aktif dan langsung dalam menerapkan metode TPR ini. Menurut Asher ”The instructor is the director of a stage play in which the students are the actors”, yang berarti bahwa guru (instruktur) adalah sutradara dalam pertunjukan cerita dan di dalamnya siswa sebagai pelaku atau pemerannya. Guru yang memutuskan tentang apa yang akan dipelajari, siapa yang memerankan dan menampilkan materi pelajaran.

Dalam proses belajar mengajar di kelas, contoh aktivitas menggunakan metode TPR ini banyak sekali, misalnya:

  1. Latihan menggunakan perintah yang merupakan aktivitas utama yang dilakukan guru di dalam kelas dari metode TPR, misalnya merespon ungkapan perintah : Write, Read, Jump, etc. Latihan ini berguna untuk memperoleh gerakan fisik dan aktivitas dari siswa.
  2. Dialog atau percakapan, dalam hal ini siswa diminta untuk mempelajari ungkapan dalam bahasa Inggris, misalnya ungkapan Greeting and Leave Taking. Selanjutnya siswa diminta untuk membuat dialog menggunakan ungkapan Greeting and Leave Taking. Selanjutnya mereka diminta untuk memerankan dialog mereka di depan kelas menggunakan ekspresi yang sesuai dengan dialog mereka.
  3. Presentasi dengan LCD. Di abad 21 ini, guru hendaknya menguasai media pembelajaran berbasis digital untuk meningkatkan kemampuan siswa dan mengoptimalkan hasil belajar siswa. Media berbasis digital salah satunya dengan media power point dan audio video.Dengan menggunakan media, siswa akan lebih tertarik mengikuti pembelajaran dan materi pembelajaran akan terserap dengan baik
  4. Aktivitas membaca( reading) dan menulis (writing) untuk menambah perbendaharaan kata (vocabulary) dan juga melatih susunan kalimat berdasarkan tensesnya.
Lia Eliana, S.Pd
SMPN 2 Gunungwungkal-Pati
BERBAGI