Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Menjawab Tantangan Zaman dengan STEAM

Menjawab Tantangan Zaman dengan STEAM

276
BERBAGI
Dwi Ujiasih Astuti, S.Pd. SD SDN Pakem, Purworejo
Dwi Ujiasih Astuti, S.Pd. SD SDN Pakem, Purworejo

PURWOREJO – Perkembangan zaman yang begitu pesat dalam setiap aspek kehidupan tak pelak mempengaruhi  dunia pendidikan. Hal ini tentu menuntut respon  dari dunia pendidikan. Untuk itu, menjadi tugas kita  sebagai pendidik untuk menjawabnya. Model pembelajaran STEAM mungkin dapat dijadikan alternatif jawaban bagi kita. Model pembelajaran STEAM mungkin belum terlalu familiar di telinga kita sebagai pendidik.

Kepanjangan STEAM sendiri adalah Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics. STEAM adalah model pembelajaran yang menggunakan kelima ilmu di atas (pengetahuan, teknologi, teknik, seni dan matematika) secara komprehensif sebagai pola pemecahan masalah. Dalam model pembelajaran ini guru bertindak sebagai fasilitator, dan siswa adalah pusat/sentral dari proses pembelajaran, baik di dalam atau di luar kelas. Siswa dituntut untuk mampu menganalisa dan berpikir kritis dalam mengolah data dan menyelesaikan suatu masalah di kehidupan sehari-hari

Dalam bidang sains, siswa difasilitasi agar mampu menggunakan pendekatan scientific method dalam menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari. Dibidang teknologi, siswa akan berkolaborasi dalam penggunaan teknologi baik untuk mengolah data maupun menyampaikan informasi yang mereka dapatkan dalam pembelajaran. Bidang teknik, siswa akan mengkolaborasikan hasil temuannya guna menciptakan suatu produk atau dapat pula mencari solusi-solusi yag tepat. Sedangkan dalam bidang seni, siswa akan mengkreasikan produk/temuan mereka agar dapat diterima oleh masyarakat ataupun bagaimana cara mereka mempromosikan hasil temuan tersebut. Selanjutnya dalam bidang matematika, siswa akan mengunakan pendekatan matematika dalam mengolah data yang mereka dapatkan.

Dengan model pembelajaran STEAM, siswa akan terlatih untuk menganalisa permasalahan-permasalahan yang ada dengan mengunakan berbagai pendekatan, baik sains, teknologi, teknik, seni, maupun matematika. Siswa juga akan terlatih pula untuk berpikir kritis dan kreatif. Selain itu, siswa akan terlatih untuk memberikan pendapatnya baik tulisan maupun lisan.

Model belajar STEAM menekankan kreatifitas siswa yang dipadukan melalui sentuhan  ilmu pasti dan seni. Sehingga STEAM diakui akan dapat menciptakan lulusan yang siap bersaing di era global. Dalam penerapannya model belajar STEAM hampir sama dengan pembelajaran berdasarkan proyek (Project Based Learning). Bedanya STEAM lebih menekankan penggabungan proses pembelajaran ke dalam paradigma pembelajaran kohesif berdasarkan dunia nyata.

STEAM sendiri dapat diterapkan dalam semua jenjang pendidikan, mulai jenjang TK sampai perguruan tinggi. Untuk siswa TK, STEAM dapat diaplikasikan melalui permainan balok susun tematis/ permainan lego Duplo, kunjungan ke kebun binatang, atau dengan pengamatan sederhana pada tanaman dan binatang. Untuk siswa SD, STEAM dapat diterapkan dalam tiap mata pelajaran dengan pemaksimalan pemanfaatan gadget dalam pembelajaran. Gadget dimanfaatkan sebagai sumber, sarana, dan media belajar bagi siswa. Pada jenjang SMP siswa dilatih melakukan analisis yang lebih menyeluruh dengan difasilitasi untuk membuat penelitian sesuai kreativitas masing-masing. Naik ke jenjang SMA, STEAM diterapkan guru dengan menstimulasi siswa untuk membuat inovasi penyelesaian masalah sehari-hari.

Salah satu institusi pendidikan yang menggunakan model STEAM adalah Sampoerna Schools System. Sampoerna Schools System menjadi satu sistem pendidikan pertama di Indonesia yang menerapkan model STEAM pada kegiatan belajar mengajarnya. Sampoerna Schools System  percaya bahwa pembelajaran dengan model STEAM akan mengembangkan kemampuan kognitif siswa melalui ilmu aplikatif dan daya kreatifitas tanpa meninggalkan pentingnya kecerdasan sosial. STEAM juga dipercaya akan mendukung siswa dalam berpikir kritis, mengasah keterampilan berkomunikasi, mendorong daya analisa, meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, dan berfokus pada kebutuhan siswa.

Oleh:

Dwi Ujiasih Astuti, S.Pd. SD

SDN Pakem, Purworejo

BERBAGI