Beranda Opini Metode Sainte Lague Siapa Untung

Metode Sainte Lague Siapa Untung

33
BERBAGI
Drs. Ahmad Muladi

Oleh : Drs. Ahmad Muladi

PEMILU tahun 2019 sudah mau digeber , salah satu yang berbeda antara pemilu 2014 dengan pemilu 2019 adalah konversi suara partai politik tiap daerah pemilihan kedalam perolehan kursi. Pemilu tahun 2014 menggunakan metode Quota Here ( bilangan pembagi pemilih ) , sedangkan pemilu tahun 2019 menggunakan metode Sainte Lague.

Bagaimana perbedaan kedua metode dan bagaimana implikasi terhadap pembagian kursi secara toritis bisa dan contoh penerpan dalam penggunaannya bisa disampaikan berikut ini.

Untuk menetukan kursi yang diperoleh  tiap parpol dalam daerah pemilihan dengan menggunakan metode bilangan pembagi pemilih pertama jumlahkan perolehan suara seluruh parpol pada daerah pemilihan tersebut, kemudian tentukan bilangan pembagi pemilih dengan cara membagi jumlah perolehan suara seluruh parpol pada daerah pemilihan dengan jatah kursi pada daerah pemilihan tesebut. Bagi partai politik yang memperoleh lebih besar atau sama dengan bilangan pembagi pemilih akan mendapatkan alokasi sebanyak kelipatan bilangan pembagi pemilih.

Bagi parpol yang memperoleh lebih kecil dari pembagi pemilih belum mendapat bagian kursi pada perhitungan pertama, tetapi dicacat sebagai sisa suara, sedangkan bagi parpol yang telah memperoleh kursi pada pembagian pertama bisa juga dimungkinkan masih punya sisa suara yaitu jumlah perolehan parpol dikurangi dengan perkalian perolehan kursi pada perhitungan pertama dengan bilangan pembagi pemilih.

Selanjutnya mencari sisa kursi yang belum habis didistribusikan ke parpol pada tahap pertama , yaitu jatah kursi daerah pemilihan dengan jumlah kursi yang sudah didistribusikan ke parpol yang memperolaeh pada pembagian pertama. Sisa kursi selanjutnya didistribusikan kepada parpol yang masih mempunyai sisa suara urut yang terbanyak menju yang terbanyak berikutnya sehingga sisa kursi habis didistribusikan ke parpol yang masih punya sisa suara.

Sedangkan metode Sainte Lague penetapan perolehn jumlah kursi tiap Partai Politik peserta pemilu di suatu daearh pemilihan dilakukan dengan ketentuan:

a.Penetapan jumlah suara setiap partai politik peserta pemilu di daerah pemilihan sebagai suara sah setiap partai politik.

b. membagi suara sah setiap Partai politik peserta pemilu sebagai mana pada huru  dengan bilangan pembagi 1 dn diikuti secara berurutan oleh bilagan ganjil 3; 5; 7; dan seterusnya.

C. Hasil pembagian sebagaimana dimaksud pada huruf b diurutkan berdasarkan jumlah nilai terbanyak .

d. Nilai tebanyak pertama mendapat kursi pertama, nilai terbanyak kedua mendapat kursi kedua, nilai terbanyak ketiga mendapat kursi ketiga, dan seterusnya sampai jumlah kursi di daerah pemilihan habis terbagi.

Sebagai ilustrasi untuk menggambarkan bagaimana implementasi dua metode tersebut akan penulis beri contoh di satu daerah pemilihan cara konversi suara sah ke perolehan kursi masing masing, kemudian akan kami bandingkan , sehingga mana yang lebih diuntungkan bisa kita simpulkan.

Daerah Pemilihan “X’ di sebuah Kabupaten jatah kursi 8 Kursi , dan masing masing parpol memperoleh suara sebagai betikut : A=1.694 suara , B= 4.221 suara, C= 3,817  suara, D= 39,534 E=8,997, F=10,175, G=          1,480, H=          7,536, I=          3,021, J=              375, K=               270, L= 88

Jumlah suara sah =         81,163 suara.

Untuk membagi kursi di daerah pemilihan tersebut jika menggunakan metode Bilangan Pembagi Pemilih (Quota Here ) adalah . Tahap pertama menentukan Bilangan Pembagi Pemilih ( BPP ) yaitu = 81,163 dibagi 8 = 10.145. berate parpol yang mendapat alokai kursi pada perhitungan pertama ini yaiti parpol “D” yaitu mendapat 3( tiga ) sisa suara 9.099 suara , kemudian parpol “F” mendapat 1 ( satu ) dengan sisa suara 30 suara. Sedangkan partai lainnya pada tahap perhitungan pertama belum dpat kursi sehingga perolehan suaranya akan dianggap sebagai sisa suara dan akan dibandingkan dengan sisa suara yang lain.

Karena jatah kursi daerah pemilian “X” = 8 dan parpol “D “ sudah mendapat 3 dan parpol “F” sudang dapat 1, berate masih sisa 4 kursi . sisa kursi 4 ( empat ) untuk parpol “d” 1, parpol “E” 1, Parpol “H” 1 par[pol “b “ 1. Sehingga parpol di Derah pemilihan “X “ yang mendapat kursi parpol “ B” mendapat 1 ( satu ) kursi, Parpol “D” mendapat 4 (empat ) kursi, parpol “E’ mendapat 1 ( satu ) kursi , Parpol “F” mendapat 1 ( satu)  kursi dan Parpol “ H” mendapat 1 ( satu ) kursi .

Sedangkan bila dihitung dengan metode “Saite Lague” konversi suara ke kursi dihitung sebagai berikut:

No NAMA PARPOL PEROLEHAN SUARA S/1 RANGKING (R) S/3 R S/5 R S/7 R S/9 R JUMLAH KURSI
1 A           1,649      1,649           550         330            236            183  
2 B           4,221      4,221        1,407         844            603            469  
3 C           3,817      3,817        1,272         763            545            424  
4 D 39,534 39,534 1 13,178 2 7,907 5 5,648 7 4,393 8 5
5 E           8,997      8,997 4        2,999       1,799         1,285         1,000 1
6 F         10,175    10,175 3        3,392       2,035         1,454         1,131 1
7 G           1,480      1,480           493           296            211            164  
8 H           7,536      7,536 6        2,512     1,507         1,077            837 1
9 I           3,021      3,021        1,007         604            432            336  
10 J               375          375           125           75               54               42  
11 K               270          270              90           54               39               30  
12 L                 88            88              29           18               13               10  
        81,163 8

Dari perhitungan tersebut diatas maka parpol “D” 5 ( lima ) kursi padahal jika menggunakan Bilangan Pembagi Pemilih mendapat 4   ( empat ) , sedangkan parpol “ B’ pada penghitungan Pembagi Pemilih mendapat 1 ( satu ) kursi , tetapi bila menggunakan Sainte Lague tidak mendapat kursi atau hilang. Jadi dalam metode Sainte Lague Parpol yang besar diuntungkan.