Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Metode Story Completion Tingkatkan Speaking Siswa

Metode Story Completion Tingkatkan Speaking Siswa

146
BERBAGI
Dwi Hastuti S.Pd Guru Bahasa Inggris SMA 8 Semarang
Dwi Hastuti S.Pd Guru Bahasa Inggris SMA 8 Semarang

Salah satu ketrampilan yang harus dimiliki oleh peserta didik di kurikulum 13 adalah ketrampilan speaking. Di kelas XII IPS 2 SMA 8 Semarang banyak anak anak yang tidak punya kepercayaan diri ketika belajar speaking. Guru menggunakan Metode Sory Completion untuk membangun kepercayaan peserta didik agar punya keberanian dalam berbicara.

What is SepakingSpeaking is “ The process of building and sharing meaning through the use of verbal and non verbal symbol, in variety of context “ C Chaney, 1998 P.13). Proses membangun dan membagikan sebuah makna melalui penggunaan simbol-simbol baik verbal dan non verbal dalam berbagai macam konteks.

Story Completion merupakan  metode yang menyenamgkan. Seluruh peserta didik punya kesempatan untuk berbicara dalam aktifitas speaking dimana mereka  duduk memutar.  Guru memulai bercerita, tapi setelah beberapa kata , guru berhenti bernarasi.   Setiap peserta didik mulai bernarasi dari poin dimana cerita berhenti. Mereka  menambahkan  cerita yang ada. Mereka  boleh menambahkan karakter baru, kejadian, deskripsi dan lain-lain.

 Dalam proses pembelajaran ini guru menyediakan key-words untuk membantu proses ini berjalan dengan menyenangkan. Penggunaan data-show proyektor sangat membantu peserta didk  dalam melihat gambar,  mencoba berimaginasi tentang apa yang terjadi dan  kata kunci yang ada pada tampilan proyektor akan membuat peserta didik lebih bersemangat dan  pembelajaran menjadi lebih menyenangkan.

Guru memberikan kesempatan yang maksimal kepada peserta didik untuk berbicara sampai pada target bahasa yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan yang mendukung yang melipuuti bekerja secara kolaboratif , bahan materi  dan tugas-tugasnya dan pengetahuan yang dapat di bagikan secara merata. Mendukung sebanyak mungkin  peserta didik agar berbicara dalam setiap kegiatan Speaking. Untuk tujuan ini, dipraktekkan  hal yang berbeda pada  peserta didik. Mengurangi waktu berbicara di kelas pada saat peserta didik berpartisipasi dalam berbicara, kemudian mengobservasi hasil dari speaking mereka.

Guru  menunjukkan  tanda tanda yang positif ketika mengomentari respon dari peserta didk, menanyakan  pertanyaan yang bersifat memancing , contohnya “ What do you mean?  “ untuk mendorong peserta didik agar berbicara lebih banyak lagi. Diberikan  tanggapan  seperti  “  Your presentation was really great, it was a good job.Jangan  mengoreksi kesalahan peserta didik pada saat mereka berbicara. Pembetulan dalam pronounciation  dilakukan setelah  mereka  melakukan speaking,  dalam mengoreksinya  bersifat umum dan bukan ditujukan pada peserta didik tertentu.

Kegiatan pembelajaran dengan dengan metode ini ,  juga dilakukan diluar kelas, peserta didik bisa kontak dengan orang tua atau orang lain dalam menggali  informasi tambahan terhadap topik yang diberikan oleh guru, disamping mereka juga bisa browsing internet, tentunya ini juga butuh pengawasan ketat jangan sampai peserta didik menggunakan kesempatan yang ada untuk hal lain yang tujuannya berbeda dengan pembelajaran yang sedang berlangsung.

Guru  mengawsi peserta didik ketika mereka sedang mempersiapkan materi dengan berkeliling kelas. Mendiagnosa masalah  yang dihadapi peserta didik yang mengalami kesulitan dalam mengekspresikan dirinya dalam pencapaian target bahasa dan memberikan lebih banyak lagi kesempatan kepada mereka  untuk berlatih  berbicara.

Maka dengan menggunakan metode Story completion, peserta didik akan mendapatkan bekal dalam berbicara bahasa inggris secara aktif yang akan berguna bagi masa depan mereka, di samping bekal pengetahuan bahasa secara tertulis.

Dwi Hastuti S.Pd

Guru Bahasa Inggris

SMA 8 Semarang

BERBAGI