Beranda Hukum & Kriminal Nama SBY Muncul Dalam Sidang e-KTP

Nama SBY Muncul Dalam Sidang e-KTP

BERBAGI

JATENGPOS.CO.ID, JAKARTA – Mantan Wakil Ketua BIdang Anggaran (Banggar) DPR Mirwan Amir mengaku sempat menyarankan kepada Ketua Pembina Partai Demokrat saat itu Susilo Bambang Yudhyono untuk menghentikan proyek tersebut.

“Saya sempat menyampaikan ke Pak SBY agar e-KTP tidak diteruskan, di Cikeas,” kata Mirwan Amir di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis.

Mirwan bersaksi untuk Setya Novanto yang menjadi terdakwa dalam kasud dugaan tipikor pengadan KTP-Elektronik yang merugikan keuangan negara senilai Rp2,3 triliun.

“Tanggaapannya dari Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) bahwa ini kita untuk menuju pilkada jadi proyek ini diteruskan,” ungkap Mirwan.

Ia mengaku tidak melanjutkan sarannya tersebut.

“Posisi saya kan orang biasa saja. Kekuatan untuk menyetop program e-KTP tapi saya sudah sampaikan itu kepada Pak SBY atas saran dari Pak Yusnan Solihin karena memang ada masalah. Saya tidak tahu secara teknsnya,” ungkap Mirwan.

Saran Mirwan itu disampaikan pada 2010 saat pertemuan informal.

“Kebetulan saat itu ada acara di Cikeas, jadi secara sekilas saja, paling tidak sidah disampaiakan,” tambah Mirwan.

Yusnan Solihin dari PT Sucofindo yang juga menjadi saksi dalam sidang tersebut mengatakan bahwa ia memang menghadap Mirwan Amir dan membawa 6 kekurangan TOR (term of reference) untuk lelang KTP-E.

“Saya katakan ‘Bang, ini TOR-nya 6 kelemahan dari Andi (Narogong), tapi nyatanya meski sudah menyampaikan ke Mirwan dan Setnov, saya tidak ‘nyangkut’ sama sekali, TOR di lapangan juga tidak dibantu,” ungkap Yusnan.

Dalam perkara ini Setnov diduga menerima 7,3 juta dolar AS dan jam tangan Richard Mille senilai 135 ribu dolar AS dari proyek KTP-E. Setya Novanto menerima uang tersebut melalui mantan direktur PT Murakabi sekaligus keponakannya Irvanto Hendra Pambudi Cahyo maupun rekan Setnov dan juga pemilik OEM Investmen Pte.LTd dan Delta Energy Pte.Lte yang berada di Singapura Made Oka Masagung.

Sedangkan jam tangan diterima Setnov dari pengusaha Andi Agustinus dan direktur PT Biomorf Lone Indonesia Johannes Marliem sebagai bagian dari kompensasi karena Setnov telah membantu memperlancar proses penganggaran. Total kerugian negara akibat proyek tersebut mencapai Rp2,3 triliun.(ant/udi)

BERBAGI