Beranda Internasional Nasi Kuning Obat Rindu Lidah Indonesia di Taiwan

Nasi Kuning Obat Rindu Lidah Indonesia di Taiwan

158
Sri Heni pemilik Mic Mac Indonesian Halal Restaurant di Tainan, Taiwan melayani delegasi '2019 Taiwan Muslim Youth Exchange Program' dengan menu masakan Indonesia seperti nasi kuning, rendang, telur balado dan bakwan. Restoran Indonesia banyak tersebar di beberapa kota di Taiwan dan dinikmati juga oleh warga lokal Taiwan.

Laporan Hafidz Muftisany/JatengPos dari Taiwan

JATENGPOS.CO.ID, TAINAN — Progam ‘2019 Taiwan Muslim Youth Exchange Program’ digelar di dua kota, Taipei di wilayah utara dan Tainan di wilayah selatan. Selama sepekan penyelenggaraan, delegasi disajikan berbagai aneka makanan halal.

Delegasi pun mencicipi berbagai menu restoran halal di dua kota itu. Mulai dari Chinese Food ala Muslim Hui, restoran ayam goreng khas Taiwan, masakan Turki sampai masakan India.

Antusiasme terbesar ditunjukkan delegasi Indonesia kala kami akhirnya mampir di restoran Halal Indonesia bernama Mic Mac di Kota Tainan. Pemiliknya asli orang Indonesia, Sri Heny asal Blitar.

Kerinduan menikmati masakan Indonesia yang halal memang menjadi motivasi Heny saat membuka restoran pertama kali pada 2011. Heny pergi ke Tainan dengan niat sekolah bahasa Mandarin. Selama bersekolah itu, ia mengaku kesulitan mencari makanan Indonesia yang halal.

“Saat sekolah dulu, susah mencari makanan Indonesia yang halal. Dulu beli pasti banyak babi kalaupun ayam belum tentu pemotongannya halal. Saya ingin buka warung sendiri akhirnya terlaksana juga buka meskipun sederhana yang penting halalnya itu,” papar Heny kepada Jateng Pos dan teman-teman jurnalis lainnya.

Heny mengakui tantangan membuka restoran Indonesia adalah ketersediaan bumbu dan rempah alami. Awal-awal membuka restoran, ia mengaku kesulitan mencari bahan dan bumbu yang alami. “Sampai saat saya pulang ke Indonesia, balik kesini bawa kunyit, kencur semuanya yang kering. Di bandara sampai pernah disita,” ungkap Heny.

Akhirnya pada awal-awal ia menggunakan bumbu bubuk. Tetapi, rasanya kurang pas sesuai dengan masakan Indonesia asli. Lambat laun, papar Heny, para pedagang di pasar Taiwan mulai terbiasa menjual bumbu dan rempah yang alami. “Dulu mereka tidak mengerti, kalau serai, kunyit, lengkuas itu laku dijual. Dulu orang Indonesia saja yang menggunakan. Sekarang gampang mencari karena orang-orang Taiwan sudah pada mengerti,” papar Heny.

Kini Heny menyebut bumbu yang dipakai hanya bumbu yang segar sehingga rasanya bisa dibuat mirip seperti citarasa di Indonesia. Saat Jateng Pos mencicipi nasi kuning bersama kering tempe yang disajikan Heny, rasanya memang persis seperti nasi kuning yang banyak dijual di Indonesia.

Heny mengaku sudah banyak warga asli Taiwan yang suka masakan Indonesia. “Seperti soto, kare dan lalapan itu sudah mulai suka. Asal masakannya tidak terlalu pedas karena orang Taiwan tidak suka pedas,” kata Heny.

Heny juga mengaku konsen terhadap halal. Maka ia menjamin bahan-bahan yang disajikan pasti halal. Heny baru memperoleh sertifikasi halal pada 2017. Ia mengaku mengurus sertifikasi halal di Taiwan cukup mudah dan tidak memakan waktu yang lama. “Waktu itu saya mengajukan persyaratan barengan sama pindahan, jadinya dua bulanan sertifikat halal. Seharusnya bisa kurang dari itu,” papar Heny.

Selain restoran milik Heny di Tainan, banyak terdapat restoran dan toko Indonesia di Taiwan. Beberapa berlokasi di Taipei seperti toko Sakura, FinMart, Toko Indo Royal dan beberapa toko lainnya yang mudah ditemukan di peta elektronik. Toko dan restoran Indonesia juga banyak terdapat di Kota Kaohsiung. (fid)