Beranda Jateng Kedu Nyadran Pager Gunung Diharapkan Dongkrak Wisata

Nyadran Pager Gunung Diharapkan Dongkrak Wisata

BERBAGI
Ratusan warga Dusun Cepit Desa Pager Gunung Kecamatan Bulu melakukan nyadaran di makam Plebengan. foto:setyo wuwuh/jpnn

JATENGPOS.CO.ID. TEMANGGUNG- Balutan kemolekan alam di lereng Gunung Sumbing, menjadi daya tarik wisata tersendiri. Apalagi dengan masyarakat yang masih menjunjung tinggi tradisi serta adat istiadat, potensi wisata di lereng Gunung Sumbing tepatnya di Dusun Cepit Desa Pager Gunung Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung sampai saat ini masih belum terjamah.

Udara sejuk pegunungan seakan membuat rasa lelah terbayarkan, ketika memasuki Dusun Cepit Desa Pager Gunung kecamatan Bulu. Bagaimana tidak, Dusun yang berada di ketinggian lebih dari 1.200 meter diatas permukaan laut (Mdpl) ini, menawarkan keindahan alam yang sangat eksotis.

Pagi itu Jumat (30/3), warga di Desa yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani mulai menampakan aktivitas yang tidak biasa, mereka membawa berbagai jajanan pasar, tumpeng dan ingkung ayam jatan menuju punden yang bernama Plebengan di Desa setempat.

Di tempat tersebut ratusan warga duduk berjajar rapi di kanan dan kiri jalan. Tenong ditempatkan di depan mereka. Sesaat sesepuh agama memberikan kode agar warga menghentikan aktivitas, dan ritual doa sebagai salah satu rangkaian uparcara adat tersebut dimulai.

“Ritual ini sebagai salah satu wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki dan kesehatan yang selama ini diikmati,” kata Kades Pagergunung Sukarman.

Ia mengatakanPlabengan adalah tempat bermusyawarah  Ki Ageng  Makukuhan, yang tidak lain tokoh agama terkenal penyebar agama Islam di Temanggung, bersama dengan para santrinya, yakni Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Ageng Gandung Melati dan  Ki Ageng Paniti Kudo Negoro serta Syeh Dami Aking.

Dia mengatakan setelah kenduri dan selamatan, warga menggelar selamatan dan kenduri bersama di tempat tersebut. Makanan yang dibawa dari rumah dimakan bersama oleh warga. Sebagian dari makanan itu diberikan pada warga luar daerah yang hadir. Mereka harus menerima dan membawanya pulang.

Prosesi upacara adat, disampaikannya, belum selesai dengan makan bersama. Warga akan menggelar hiburan dengan pementasan kesenian kuda lumping pada sore hari.

“Dahulu selain kuda lumping juga kethoprak. ini sebagai ekspresi warga dalam berkesenian dan siar islam,” katanya.

Ia menambahkan, tradisi ini sebagai salah satu budaya yang akan terus dilestarikan, selain itu tradisi ini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya yang selama ini belum dikenal dikalangan pelancong.

“Desa kami menjadi salah satu desa wisata, ritual tahunan ini menjadi salah satu daya tarik wisata didesa kami,” katanya.

Menurutnya, Desa Pagergunung merupakan desa wisata dari 10 desa wisata yang ditetapkan Pemkab Temanggung. Di Desa Pagergunung, tepatnya di Dusun Cepit merupakan salah satu jalur pendakian ke puncak Gunung Sumbing Kabupaten Temanggung.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung Woro Andijani mengatakan ritual di Dusun Cepit ini cukup menarik bagi wisatawan, karena ada keunikan di dalamnya, antara lain dalam membawa makanan warga menggunakan tenong.

“Jadi sangat unik dan khas, saat mereka berangkat atau pulang dari Bukit Plabengan, barisan warga yang memikul tenong tersebut menjadi bidikan para fotografer, apalagi panorama di sekitar berupa ladang sayuran dengan latar belakang gunung sehingga menarik sekali,” katanya. (wuwuh/jpnn)

 

BERBAGI