Beranda Jateng Pantura Timur Operasi Pasar Tekan Lonjakan Harga

Operasi Pasar Tekan Lonjakan Harga

BERBAGI
Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM (Dindagkop UKM) Kabupaten Blora melaksanakan operasi pasar dengan menyasar Pasar Rakyat di Kecamatan Jepon. FOTO: FEBRIYAN CHANDRA/JATENGPOS.CO.ID

JATENGPOS.CO.ID, BLORA –  Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM (Dindagkop UKM)  Kabupaten Blora melaksanakan operasi pasar dengan menyasar Pasar Rakyat di Kecamatan Jepon. Agenda operasi pasar yang menggandeng pihak Bulog Sub-divre II Pati, menjual beras, minyak goreng dan gula.

Sejak pagi, masyarakat mengantri untuk mendapatkan barang yang dijual dalam operasi pasar.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Asisten 2 Sekda Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat, Slamet Pamudji, Kepala Dindagkop UKM, Maskur dan Kepala Perum Bulog sub-Divre II Pati Muhammad Taufiq.

Slamet Pamudji mengatakan, operasi pasar untuk stabilisasi harga sembako yang mulai naik di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) menjelang Tahun Baru 2018.

Seperti beras dipasaran, kini harganya mencapai Rp 9200 per kg. Melalui operasi pasar, beras dari Bulog dijual Rp 8100 per kg dalam kemasan 5 kg. Sehingga harganya lebih murah dengan kualitas yang sama.

Selain di Pasar Jepon, operasi pasar juga dilaksanakan di Pasar Blora, Pasar Ngawen, Pasar Kunduran dan Pasar Cepu serta Pasar Todanan.

“Selama harga dipasaran masih normal, kita tidak akan melaksanakan operasi pasar. Operasi pasar hanya akan dilaksanakan di pasar tradisional yang harganya mulai naik di atas HET,” jelasnya. Terpisah, komoditas cabai rawit dipasaran terus melonjak tajam. Bahkan kenaikannya mebcapai 50 persen dari sebelumnya. Meski demikian, hal itu tidak mengurangi minat masyarakat membeli cabai.

Teguh Imam Santoso salah seorang penjual sembako di Pasar Rogowongso Pati, mengaku kaget atas kenaikan harga cabai. Sebab sepekan lalu, harga cabai masih Rp. 20 ribu hingga Rp. 22 ribu  per kilogram.Kemudian tiga hari lalu, harganya naik Rp. 34 ribu perkilogram.

“Harga dari pemasok maupun petani memang sudah mahal. Sampai di tangan kami tentunya juga tambah mahal, karena kami juga harus mendapatkan keuntungan juga,” ujar Imam.

Terkait penyebab naiknya harga cabai rawit,  Imam mengaku tidak mengetahui pasti. Hanya berdasarkan informasi, banyak petani gagal panen lantaran cuaca yang tidak menentu.

Sementara itu, Jumirah salah ibu rumah tangga mengamini kenaikan harga cabai rawit tersebut. Bahkan, sebelumnya dia sudah pindah ke pasar yang lain untuk mencari harga cabai rawit yang lebih murah.

“Di semua pasar harganya cabai hampir sama. Kalaupun selisih, itu hanya ratusan rupiah saja. Kalau saya, tetap beli karena cabai kan kebutuhan pokok. Masak sayur kalau tidak ada cabai, kan tidak enak,” tutupnya.(feb/mel/rif)

BERBAGI