Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Optimalisasi Museum Sebagai Sumber Belajar Sejarah

Optimalisasi Museum Sebagai Sumber Belajar Sejarah

67
Optimalisasi Museum Sebagai Sumber Belajar Sejarah
Optimalisasi Museum Sebagai Sumber Belajar Sejarah

Indonesia merupakan Negara yang kaya akan keragaman budaya. Keragaman budaya yang dimiliki melalui peristiwa sejarah yang panjang sudah seharusnya diapresiasi masyarakat dan diketahui sebagai identitas bangsanya.

Sejarah dan budaya dikenalkan sebagai bagian dari pengetahuan melalui jenjang pendidikan formal. Sedangkan aspeknya dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi langsung dan melalui berbagai macam sumber media. Sumber media dalam hal ini diantaranya yaitu museum, perpustakaan, kelas sejarah. Pembelajaran sejarah dapat dilakukan maupun diimplementasikan melalui salah satu sumber media yaitu museum.

Museum memiliki fungsi strategis dalam bidang sejarah dan budaya. Museum menampilkan cuplikan potongan sejarah dan budaya sehingga masyarakat dapat melihat langsung representasi tersebut. Museum dapat memberikan informasi tentang aspek kehidupan masa lampau yang masih diselamatkan sebagai warisan budaya untuk menjadi bagian dari jati diri suatu bangsa.( Kartiwas, Museum dan Dip[lomasi Kebudayaan. Museografi,vol III, no.4. Hal 5)

Dari Museum tersebut ada keterkaitan sebagai sumber pembelajaraqn, dilihat dari pengertian sumber pembelajaran adalah sarana pembelajaran dan pengajaran yang sangat penting. Sudah menjadi keharusan bagi seorang guru untuk mengeksplorasi berbagai macam sumber untuk mendapatkan alat bantu yang tepat untuk mengajar dan melengkapi apa yang sudah disediakan dalam museum.

Koleksi dalam museum dapat membuat pembelajaran sejarah menjadi hidup dan memberikan dorongan baru dalam pembelajaran. Dengan adanya museum dapat membangkitkan dan menumbuhkan rasa patriotism bangsa pribumi terhadap sejarah bangsa Indonesia.

Selama ini pemanfaatan Museum kurang dioptimalkan penggunaannya oleh peserta didik ataupun guru sejarah sekalipun. Agar pemahaman peserta didik tentang sejarah dapat meningkat diperlukan suatu strategi pembelajaran melalui sumber-sumber yang ada di lingkungan sekitar diantaranya melalui museum .

Dalam pelaksanaan pengoptimalan museum ini memberikan suatu sumber pembelajaran yang konkret pada peserta didik maupu masyarakat. Agar peserta didik bisa mempunyai wawasan yang luas dan mempunyai suatu gagasan ide baru, dalam peningkatan pemahaman terhadap peristiwa sejarah oleh peserta didik. Museum dapat digunakan sebagai sumber penunjang pembelajaran khususnya sejarah dan peradapan masa lampau.

Pembelajaran sejarah dengan memanfaatkan media dan sumber seperti museum, peserta didik akan memiliki pengalaman, pengetahuan dengan menyeimbangkan antara materi, pemikiran mandiri serta analisis setiap peserta didik. Walaupun kemampuan setiap peserta didik berbeda-beda akan tetapi dengan kunjunagn ke museum ini peserta didik bisa mengeksplor pengetahuan yang mereka dapatkan setelah berkunjung ke museum.

Pembelajaran sejarah penting bagi pengembangan identitas bangsa, namun perlu disadari bahwa arti pentingnya pembelajaran sejarah tidak dapat berkembang sendiri tanpa usaha seorang guru mewujudkan pada peserta didik. Diperlukan perjuangan untuk menumbuhkan suatu kesadaran sejarah. Menumbuhkan kesadaran sejarah merupakan landasan timbulnya tanggungjawab sejarah Dan itu merupakan tanggungjawab generasi untuk menjawab tuntutan zaman saat generasi itu ada. Pendukung yang memiliki posisi tepat adalah guru sejarah.

Sebab mereka berhadapan langsung dengan peserta didik yang merupakan salah satu sasaran utama bagi penanaman nilai-nilai historis nyata yang diinginkan. Diantaranya yakni nilai kepahlawanan, nasionalisme, dan patriotisme.

Generasi masa kini harus mampu memahami dan belajar dari pengalaman sejarah. Dengan memahami pentingnya belajar dari pengalaman sejarah, diharapkan pijakan untuk membangun masa kini dan masa depan menjadi terarah. Pijakan dalam membangun masa depan melalui masa lalu bukan saja untuk kepentingan masa kini dan masa depan ( Kuntowidjojo, 1997).

Salah satu variasi implementasi CTL ( Contextual Teaching and Learning ) dalam pembelajaran sejarah adalah dengan melakukan kunjungan ke museum. Dengan melakukan kunjungan ke museum, 7 pilar CTL dapat diterapkan. Konstruktivisme, inquiri, questioning, learning community, modeling, reflection dan authentic assessment.

Hal yang terpenting yang harus diingat bahwa CTL harus menerapkan prinsip-prinsip mendekatkan peserta didik pada dunia nyata. Keberadaan museum sebagai sarana dan sumber pembelajaran pendidikan sejarah mampu menjawab berbagai pertanyaan yang muncul dalam proses pembelajaran kaitannya dengan sejarah perkembangan manusia, budaya dan lingkungannya. Selain itu pemanfaatan museum menjadikan pembelajaran sejarah dapat lebih konkritkarena ada buktinya di museum sehingga dapat membangkitkan kesadaran sejarah pada peserta didik.

Dengan melakukan kunjungan ke museum dapat menjadi sumber inspirasi untuk menjadi pandangan masa kini dan masa yang akan dating, terutama dalam pembelajaran sejarah.

Latifah Hadisanjaya, SS
Guru SMKN 1 Kedawung, Sragen