JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Dinas Perdagangan Kota Semarang menyebutkan pembangunan Pasar Kanjengan yang merupakan cakupan Pasar Johar Baru dikerjakan secara pararel untuk menyiasati sempitnya target waktu pengerjaan.

“Kontrak pengerjaan Pasar Kanjengan, yakni Blok D kan mulai 20 Oktober-18 Desember 2017. Itu mencakup pemasangan 575 ‘bore pile’,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto di Semarang, Minggu.

Sekarang ini, kata dia, sudah terpasang “bore pile” di 87 titik dari total 575 “bore pile” yang dibutuhkan sehingga akan terus dikejar oleh kontraktor pelaksana untuk mencapai target yang sudah ditentukan.

Namun, ia mengatakan pembangunan tetap akan dilakukan sembari menunggu pemasangan “bore pile” untuk konstruksi sehingga pengerjaan Pasar Kanjengan yang direncanakan dua lantai sudah bisa berbentuk bangunan.

“Jadi, pengerjaan pembangunan tidak dilakukan menunggu semua ‘bore pile’ terpasang. Yang sudah dipasang dibangun dulu sehingga sifatnya pararel. Kami berharap lantai satu bisa dirampungkan dulu,” katanya.

Diakuinya, kontraktor pelaksana pembangunan Pasar Kanjengan Blok D sudah menunjukkan komitmennya dengan sistem pengerjaan 24 jam dalam tiga “shift” dan tersedia lima alat pemasang “bore pile”.

Menurut dia, pihaknya akan mengupayakan pencapaian target pembangunan Pasar Kanjengan Blok D yang dirampungkan 19 Desember 2017, tetapi jika tidak memungkinkan akan dikonsultasikan dengan Kementerian Perdagangan.

“Proyek ini kan didanai Kemendag sebesar Rp93,6 miliar, sementara kontraktor pelaksana memenangkan dengan nilai proyek sebesar Rp87,5 miliar. Kalau tidak mencapai target, kami minta perpanjangan waktu,” katanya.

Ia mengatakan perpanjangan waktu dimungkinkan meski harus terkena denda, tetapi dari kontraktor pelaksana Pasar Kanjengan sudah berkomitmen jika disetujui adanya perpanjangan waktu hingga akhir Januari 2018.

Berkaitan dengan revitalisasi Pasar Johar, Fajar mengatakan revitalisasi pasar tradisional terbesar itu terbagi dua, yakni bangunan “heritage” (cagar budaya) dan bangunan noncagar budaya atau Pasar Johar Baru.

“Kalau Pasar Johar yang ‘heritage’ yang mengerjakan Dinas Penataan Ruang Kota Semarang. Dari Dinas Perdagangan kebagian mengerjakan yang Pasar Kanjengan yang merupakan bangunan non-‘heritage’,” katanya.

Meski demikian, ia memastikan desain antara Pasar Johar “heritage” dengan pasar baru akan selaras karena mengikuti DED (detail engineering design) secara keseluruhan dari Dinas Penataan Ruang Kota Semarang.

“Dari Kemendag kan sudah mengucurkan Rp87,5 miliar untuk Pasar Kanjengan, kemudian yang ‘heritage’ dialokasikan sekitar Rp48 miliar. Artinya, sudah sekitar Rp135,5 miliar yang dialokasikan untuk Pasar Johar,” pungkas Fajar.(jwn/udi/mg8)