Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Pembelajaran Berbasis Proyek Minimalkan Sampah Sekolah

Pembelajaran Berbasis Proyek Minimalkan Sampah Sekolah

50
BERBAGI
Heri Soertikanti, S.Pd Guru SMP N 2 Penawangan Kab. Grobogan
Heri Soertikanti, S.Pd ,SMP N 2 Penawangan Kab. Grobogan

GROBOGAN – Pembelajaran berdasarkan proses sains dapat diterapkan melalui model Pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning). PBL merupakan suatu model  pembelajaran komprehensif yang memberikan petunjuk bagi siswa, bekerja secara individu atau kelompok dan berhubungan dengan topik di dunia nyata. Melalui  model pembelajaran PBL di harapkan peserta didik dapat langsung menerapkan konsep yang telah dipelajari dalam bentuk proyek. Perkembangan berpikir peserta didik  dengan berpusat pada aktivitas belajar peserta didik  sehingga memungkinkan mereka untuk beraktifitas sesuai dengan keterampilan, kenyamanan, dan minat belajarnya.

Seperti yang penulis lakukan dalam meminimalkan sampah yang ada di sekolah melalui PBL pada kelas 7 semester 2 KD 3.8 Menganalisis terjadinya pencemaran lingkungan dan dampaknya bagi ekosistem.Peran guru dalam pembelajaran ini adalah sebagai fasilitator, menyediakan bahan dan pengalaman bekerja, mendorong peseta didik  berdiskusi dan memecahkan masalah, dan memastikan peserta didik  tetap bersemangat selama mereka melaksanakan proyek. Adapun langkah-langkah pembelajaran model PBL dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan aktivitas. Pertanyaan disusun dengan mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata. Kemudian menyusun perencanaan proyek oleh guru berkolaborasi dengan peserta didik.

Perencanaan berisi tentang cara kerja serta alat dan bahan yang dipergunakan dalam proyek tersebut, lalu guru dan peserta didik berkolaborasi menyusun jadwal kegiatan dalam menyelesaikan proyek, selanjutnya guru bertanggung jawab untuk memantau kegiatan peserta didik selama menyelesaikan proyek, lantas guru melakukan penilaian untuk mengukur ketercapaian standar kompetensi yang dicapai peserta didiknya, pada akhir pembelajaran guru dan peserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan dan hasil proyek yang sudah dijalankan.

Sekolah sebagai tempat berkumpulnya banyak orang dapat menjadi penghasil sampah terbesar selain pasar, rumah tangga atau perkantoran. Kebersihan di lingkungan sekolah adalah salah satu faktor yang mendorong kita untuk lebih bersemangat lagi dalam kegiatan belajar, oleh karena itu kebersihan harus di jaga akan tetapi apa kenyataannya ? lingkungan sekolah kotor, kumuh dan penuh dengan sampah.

Banyaknya sampah yang berada tidak ditempatnya menunjukkan tujuan pembelajaran usaha pelestarian lingkungan belum tersampaikan secara optimal. Hal tersebut bisa disebabkan karena cara penyampaian yang kurang berkesan atau kurang tepat. Menyampaikan materi harusnya menggunakan metode atau model yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dan berperan langsung dalam pembelajaran. Model pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan materi harusnya dapat menarik perhatian siswa.

Terkait dengan hal tersebut penulis tergugah untuk menerapkan model pembelajaran berbasis proyek pada materi pencemaran lingkungan di kelas 7.Pembuatan kompos dari sampah basah di sekolah bisa menjadi media pembelajaran untuk peserta didik. Mereka akan belajar bagaimana sampah itu bisa bermanfaat bagi manusia bukan hanya sebagai sesuatu yang kotor dan menjijikan. Kompos yang dihasilkan dapat digunakan untuk memupuk tanaman yang ada, atau sebagai campuran media tanam dalam pot. Melalui pembuatan kompos maka sampah basah yang berupa guguran daun pohon, sisa makanan dan daun pisang pembungkus makanan bisa terkurangi. Sementara sampah lainnya bisa diolah dengan menerapkan konsep 3R.

Penerapan konsep 3Rmerupakan solusi dalam ngelola sampah menjadi berguna. Hingga saat ini, 3R masih menjadi cara terbaik dalam melakukan berbagai permasalahan seperti mengelola dan menangani sampah-sampah yang ada di lingkungan sekitar kita. Bahkan konsep 3R ini cara dan pengelolaannya bisa dilakukan siapa saja, karena melakukannya mudah dan simpel. Konsep 3R yang meliputiReuseyang berarti menggunakan kembali, banyak sampah yang dapat digunakan  kembali seperti botol bekas minuman, di sekolah penulis digunakan kembali untuk pot tanaman yang di gantung,  kemudian Reduceyang berarti mengurangi,upaya untuk mengurangi timbunan-timbunan sampah di lingkungan sumber, dengan cara mencegah pembuangan sampah sembarangan, peserta didik dituntut untuk  mengurangi segala sesuatu yang dapat menimbulkan sampah selanjutnya Recycle yang berarti mendaur ulang, menggunakan sampah-sampah tertentu untuk diolah menjadi barang yang lebih berguna

Di sekolah penulis untuk recycle dilakukan oleh guru seni dengan memanfaatkan sampah kertas yang diolah menjadi kerajinan topeng, bekas minuman ale-ale di jadikan kerajinan tas. Dengan demikian, maka melalui proyek tersebut, diyakini bisa meminimalisasi sampah di sekolah.

  Heri Soertikanti, S.Pd

  Guru SMP N 2 Penawangan  Kab. Grobogan

BERBAGI