Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Pembelajaran Matematika Bermakna

Pembelajaran Matematika Bermakna

BERBAGI
Drs. Muchlis Guru Matematika, SMA Negeri 1 Weleri
Drs. Muchlis Guru Matematika, SMA Negeri 1 Weleri

WELERI – Hampir setiap bagian dari hidup kita merupakan bagian dari matematika sehingga anak-anak membutuhkan pengalaman yang tepat untuk bisa menghargai kenyataan bahwa matematika adalah penting bagi kehidupan mereka. Hal ini didukung oleh firman Allah di dalam Alquran surat An-Nisa’ ayat:11 yang menjelaskan tentang pembagian harta warisan, dalam hal ini terlihat jelas manfaat matematika dalam kehidupan manusia, yaitu aplikasi dari materi pecahan yang sudah diperkenalkan dari mulai sekolah dasar.

Pendekatan belajar yang dikemukakan oleh  David P. Ausubel mengenai belajar bermakna atau “Meaningfull learning” mengatakan bahwa belajar merupakan asimilasi bermakna. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Faktor motivasi dan pengalaman emosional sangat penting dalam peristiwa belajar, sebab tanpa motovasi dan keinginan dari siswa, maka tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimilikinya.

Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak hanya sekedar menghafal rumus-rumus maupun konsep-konsep saja, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan.

Belajar bermakna atau “meaningfull learning” merupakan pelaksanaan dari teori humanistik, pengertian humanistik menurut Krischenbaum dalam artikel “what is humanistik education? ” menyatakan bahwa sekolah, kelas, atau guru dapat dikatakan bersifat humanistik dalam beberapa kriteria. Hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa pendekatan humanistik dalam pendidikan yang terangkum dalam psikologi humanistik. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika siswa memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, sukan dari sudut pandang pengamatnya.

Menurut Rogers (1969) mengemukakan tentang iklim kelas yang memungkinkan terjadinya belajar bermakna, yaitu: terimalah peserta didik apa adanya, kenali dan bina peserta didik melalui penemuannya terhadap diri sendiri, usahakan sumber belajar yang mungkin dapat diperoleh siswa untuk dapat memilih dan menggunakannya, gunakan pendekatan inquiry-dicovery, dan biarkan siswa mengambil tanggung jawab sendiri untuk memenuhi tujuan belajarnya.

Mata pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa. Oleh karena itu model pembelajaran matematika yang baik haruslah bisa membentuk logika berfikir tidak hanya pandai berhitung. Tetapi pembelajaran matematika selama ini masih didominasi oleh konsep pengenalan rumus-rumus sehingga terkesan kalau pelajaran matematika itu sebagai pelajaran yang menakutkan, membingungkan bahkan menyebalkan. Tidak banyak dari mereka yang berpendapat  bahwa belajar matematika itu memang mengasyikkan, menyenangkan serta sangat akrab dengan yang ada di dunia nyata.

Realita di lapangan menunjukkan bahwa selama ini masih banyak guru yang mengajarkan matematika di sekolah kurang memperhatikan kemampuan dasar dalam pembelajaarnnya yang berakibat matematika akan sulit difahami dan dinalar. Akibat lebih jauh adalah matematika akan menjadi mata pelajaran yangcbanyak dihindari siswa.

Di dalam belajar bermakna atau “meaningful learning” merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan. Diharapkan siswa akan tertarik dan tertantang untuk berusaha memahami matematika karena matematika sangat akrab dengan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran matematika tidak lagi cenderung pada pencapaian target materi yang diamanatkan dalam kurikulum yang berorientasi pada sukses ujian nasional dan sukses masuk ke perguruan tinggi negeri tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Aspek penting dalam proses belajar mengajar adalah untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan dari proses belajar mengajar adalah agar siswa mampu memahami akan sesuatu berdasarkan pengalaman dalam belajarnya. Mengaitkan pengalaman kehidupan nyat peserta didik dengan ide-ide matematika dalam pembelajaran di kelas penting dilakukan agar pembelajaran bermakna, sehingga pembelajaran matematika di kelas ditekankan pada keterkaitan antara konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari, contoh: perhatikan tiga bilangan berikut: (1) 59.105.145 (2) 45.071.918 (3) 28.101.928 Pertanyaannya: Manakah bilangan yang paling mudah diingat oleh siswa? Apakah untuk dapat  mengingat bilangan-bilangan di atas perlu dikaitkan dengan hal tertentu yang sudah di mengerti siswa?. Bilangan ketiga adalah bilangan yang paling mudah diingat hanya jika bilangan tersebut dikaitkan dengan hari sumpah pemuda yang terjadi pada 28 Oktober 1928, namun jika bilangan itu akan sulit di ingat (dipelajari) jika tidak dikaitkan dengan tanggal peristiwa sumpah pemuda.

Oleh : Drs. Muchlis

Guru Matematika, SMA Negeri 1 Weleri

BERBAGI