Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Pembelajaran Stem Meningkatkan Keterampilan Siswa dalam Berpikir Kritis

Pembelajaran Stem Meningkatkan Keterampilan Siswa dalam Berpikir Kritis

27
Moh Zaenal Arifin,S.Pd. SMP Negeri 1 Gabus, Grobogan

Pada era Revolusi Industri 4.0 merupakan bentuk kemajuan teknologi yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis sehingga terjadi perubahan yang sangat mendasar cara hidup manusia. Industri 4.0 merupakan lanjutan dari era revolusi sebelumnya yaitu Industri 3.0, dimana teknologi yang ada semakin berkembang dan terintegrasi. Istilah industri 4.0 muncul dari negara Jerman pada saat diadakan Hannover Fair pada tahun 2012 ( Kagerman, dkk, 2011)

            Dengan dasar pertimbangan tersebut Pemerintah hadir untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang sanggup mempertahankan dirinya di tengah masyarakat dengan mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya pada saat diperolehnya di pendidikan formal (sekolah) atau non formal (diluar sekolah). Implementasi kurikulum 2013 dalam pembelajaran berkembang sangat dinamis. Saat ini tuntutan pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus mengacu pada ketrampilan abad-21 yaitu yang dikenal dengan 4C (critical thinking, communication, collaboration, and creativity and innovation).

            Pembelajaran Saint, Teknologi, Engeneering, dan Matematika ( STEM) merupakan pendekatan pembelajaran yang mengitegrasikan antara konsep sains, Teknologi, Engeneering, dan matematika berbasis pada pemecahan masalah pada kehidupan nyata pada proses pembelajaran dikelas. Diharapkan siswa mempunyai kecakapan yang dicapai adalah ketrampilan abad-21 yaitu berpikir kritis dan pemecahan masalah, kreatifitas, kolaborasi, komunikasi, dan juga penelitian.

            Berpikir kritis menurut Liliasari (dalam Muhfahroyin 2009 :1) adalah menyatakan bahwa ketrampilan berpikir kritis merupakan aktifitas berpikir tingkat tinggi. Sedangkan menurut Johnson (2007:183) berpikir kritis merupakan sebuah proses yang terarah dan jelas digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisa asumsi, dan melakukan penelitian.

            STEM bukan metode pembelajaran maka STEM tidak memiliki langkah-langkah pembelajaran (sintak) oleh sebab itu STEM biasanya di masukkan dalam metode pembelajaran yang sesuai  semisal Metode Pembelajaran Problem Based Learning (PBL). PBL adalah salah satu metode pembelajaran yang dapat menantang siswa untuk mencari solusi suatu masalah dari dunia nyata yang dapat diselesaikan dengan cara berkelompok. PBL mengarahkan siswa untuk belajar mandiri sehingga dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan dapat menganalisis masalah yang di dunia nyata (Yuan dkk, 2008).

            SMP Negeri 1 Gabus pada tahun 2019  rerata hasil  Ujian Nasional (UN) mata pelajaran matematika yaitu 46,86 dari hasil tersebut penulis berpendapat bahwa siswa secara umum mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal UN. Oleh karena itu perlunya memodifikasi pembelajaran dikelas yang bermakna yaitu Model pembelajaran PBL dengan pendekatan STEM.

            Rancangan pembelajaran STEM menurut ( Setiadi, 2018) terdiri dari :

Guru mengidentifikasi masalah dikelas pada proses pembelajaran yaitu lemahnya kemampuan siswa dalam berpikir kritis dan pemecahan masalah pada soal HOT. Guru Menganalisis SKL,KI,KD dan IPK untuk menggabungkan materi dan ide-ide  merumuskan dan menyelesaikan masalah. Guru merancang atau mendisain pembelajaran dikelas dengan RPP yang dibuat guru dengan model PBL dengan pendekatan STEM dan RPP yang pembelajaran dikelas dengan model ceramah. Guru membandingkan keberhasilan hasil evaluasi dari hasil ulangan harian siswa kelas yang menerapkan pembelajaran Model PBL dengan Pendekatan STEM dengan Model Ceramah. Guru Menganalisis dan interpretasi data dari hasil ulangan harian kelas yang menerapkan pembelajaran model PBL dengan pendekatan  STEM dengan Model Ceramah. Guru memberikan catatan khusus kelebihan ataupun kekurangan pada pembelajaran Model PBL dengan pendekatan STEM dengan Model Ceramah. Dari hasil catatan khusus guru baik berupa kelebihan atau kekurangan dikomunikasikan pada teman sejawat ataupun guru yang lain demi sempurnanya pembelajaran dikelas sehingga meningkat ketrampilan siswa berpikir kritis.

            Dari hasil pengalaman dan uraian diatas penulis mengambil sebuah kesimpulan bahwa dengan Model pembelajaran PBL dengan pendekatan STEM mampu meningkatkan berpikir kritis siswa dilihat dari meningkatkannya siswa yg tuntas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) maka diasumsikan akan meningkat pula rerata hasil UN pada tahun 2020 pada SMP Negeri 1 Gabus.

Oleh:

Moh Zaenal Arifin,S.Pd.

SMP Negeri 1 Gabus, Grobogan