Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Pemberian Reward dalam Pembelajaran Model TGT Tingkatkan Kreativitas Siswa

Pemberian Reward dalam Pembelajaran Model TGT Tingkatkan Kreativitas Siswa

34
BERBAGI
Isna Aina Hidayanti, S.Pd. Guru SMP Negeri 2 Toroh, Kabupaten Grobogan
Isna Aina Hidayanti, S.Pd. Guru SMP Negeri 2 Toroh, Kabupaten Grobogan

IPA menurut Permendikbud RI No 58 Tahun 2014 dinyatakan sebagai cara berpikir untuk memahami alam, melakukan penyelidikan, dan kumpulan pengetahuan. Menurut Poedjiadi (2005), IPA juga didefinisikan sebagai hasil pemikiran dan penyelidikan ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen dengan menggunakan metode ilmiah. Sedangkan menurut Carin dan Sund dalam Depdiknas (2006) IPA didefinisikan sebagai pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen.

Menurut Slavin pembelajaran kooperatif tipe Teams Games-Tournament (TGT) terdiri dari 5 tahapan yaitu : tahap penyajian kelas (class precentation), belajar dalam kelompok (teams), permainan (games), pertandingan (tournament), dan penghargaan kelompok (team recognition). Usai melakukan kegiatan peluncuran roket (tournament), guru menentukan kelompok terbaik, kemudian memberikan reward. Pemberian Reward ini merupakan penghargaan yang diberikan kepada kelompok sebagai bentuk apresiasi atas apa yang telah dilakukan oleh kelompok tersebut. Siswa dalam kelompok yang diberi reward merasa senang dan termotivasi untuk mengulangi perbuatan yang telah dilakukan karena merasa apa yang telah dilakukan adalah suatu hal yang benar.

Dalam pembelajaran IPA kelas VIII semester genap pada materi tekanan ini, siswa diberikan suatu masalah yaitu bagaimanakah prinsip tekanan zat gas yang diterapkan pada roket air sederhana. Siswa yang mendapatkan tugas proyek adalah kelas 8 ABCD SMP Negeri 2 Toroh. Dalam pembuatan tugas proyek, siswa merancang kegiatan penyelidikan untuk membuat roket air. Bentuk dan bahan mereka sendiri yang menentukan. Di sini siswa dituntut untuk mencari informasi dari berbagai sumber, mendesain roket air sendiri yang sesuai dengan kreativitas mereka.

Pada kegiatan ini, guru menerapkan model pembelajaran Teams Games-Tournament (TGT) dengan pemberian reward, kelompok yang dapat meluncurkan roket yang paling jauh dari kelompok lainnya merupakan pemenangnya dan akan diberikan reward. Siswa dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing beranggotakan 8 siswa, dengan asumsi agar mereka tidak terlalu terbebani biaya pembuatan roket air. Mendengar kata reward, siswa menjadi penasaran tentang reward apa yang akan diberikan guru, sehingga mereka berlomba untuk menghasilkan produk sebaik mungkin.

Proses penilaian dan waktu tournamen ditentukan bersama antara siswa dan guru, setelah hari yang ditentukan siswa menuju lapangan untuk presentasi peluncuran roket air. Nampak para siswa sangat antusias saat melepaskan roket mereka. Disertai sorak-sorai dan dukungan dari kelompoknya membuat meriah tournamen ini. Siswa dari kelas lainnya juga banyak yang menyaksikan dari pinggir lapangan. Tepuk tangan membahana saat ada roket yang meluncur sangat jauh.

Pemberian reward terbukti memberikan motivasi kepada siswa untuk melakukan sesuatu dan berlomba agar menjadi kelompok terbaik, berusaha mengerjakan tugas proyeknya sebagus mungkin dan menjalin kerjasama antar kelompok sekompak mungkin. Tujuan pemberian reward di sini untuk meningkatkan kreativitas serta memotivasi siswa dalam pembuatan dan peluncuran roket; merangsang dan meningkatkan motivasi belajar, meningkatkan kegiatan belajar serta membina tingkah laku siswa yang produktif dan koopereatif.

Pemberian reward diharapkan dapat terus dilaksanakan oleh semua guru untuk meningkatkan motivasi belajar dan kreativitas siswa, sehingga siswa dapat lebih percaya diri dan lebih mengenal potensi dalam dirinya sendiri. Berdasarkan pembelajaran yang telah dilakukan dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat dikatakan bahwa pemberian reward pada KBM dengan model pembelajaran TGT (Teams Games Tournaments) dapat meningkatkan kreativitas, motivasi dan hasil belajar siswa. Karena siswa dapat belajar lebih rileks, serta dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Siswa juga terlibat secara langsung dalam melakukan aktivitas sambil berpikir, sehingga membuat siswa tidak cepat lupa dengan apa yang dipelajari.

Isna Aina Hidayanti, S.Pd.
Guru SMP Negeri 2 Toroh, Kabupaten Grobogan

BERBAGI