Beranda Jateng Pemilu Damai Cerdaskan Masyarakat Melalui Perbedaan

Pemilu Damai Cerdaskan Masyarakat Melalui Perbedaan

Simposium Nasional LKLK

70
BERBAGI
BENANG MERAH : Simposium nasional yang digelar Lembaga Kajian Lintas Kultural (LKLK) dengan tema mengurai benang merah pemilu damai untuk Indonesia yang tak tercerai berai, di Kusuma Sahid Prince Hotel Solo.
BENANG MERAH : Simposium nasional yang digelar Lembaga Kajian Lintas Kultural (LKLK) dengan tema mengurai benang merah pemilu damai untuk Indonesia yang tak tercerai berai, di Kusuma Sahid Prince Hotel Solo.

JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Mendekati Pemilu, tidak sedikit sejumlah tokoh masyarakat, baik politisi, maupun pejabat pemerintah yang membuat pernyataan yang membingungkan masyarakat, malah ada yang terkesan memperkeruh suasana. Disebutkan Amir Mahmud, pengamat politik dari Amir Institute, ada kecenderungan para tokoh memberikan penyataan kurang elegan dalam menyikapi sebuah isu.

“Kerap kali tokoh di Indonesia membuat pernyataan tidak menyejukkan. Mereka harus menjadi contoh untuk menciptakan pemilu damai dengan cara elegant. Jangan dihancurkan karena isu sesaat. Harusnya ada sinergi pemerintah, aparat dan masyarakat untuk mewujudkan pemilu damai,” kata Amir, saat menjadi nara sumber Simposium Nasional yang digelar Lembaga Kajian Lintas Kultural (LKLK) dengan tema mengurai benang merah pemilu damai untuk Indonesia yang tak tercerai berai, di Kusuma Sahid Prince Hotel Solo, Kamis (14/3).

Pembicara lain, KH Dian Nafi ’ juga menambahkan bahwa pemilu sebagai bagian dari proses demokrasi sebagai agenda nasional harus dijaga agar terlaksana dengan damai.

“Untuk menjaga pemilu damai dibutuhkan partisipasi masyarakat seluruhnya, salah satunya mengajak semua pihak untuk melaksanakan kampanye yang mencerdaskan masyarakat dan jauh dari muatan yang bernada SARA,” tegasnya.

Hal itu pula yang menjadi tujuan digelarnya simposium dengan tema ‘Mengurai Benang Merah Pemilu Damai, Untuk Indonesia Yang Tak Tercerai Berai #2019PEMILUDAMAI’. Hadir sekitar 200 perwakilan masyarakat dari berbagai golongan, politik, agama dan organisasi se Solo Raya.

“Kami melihat euforia pesta rakyat lima tahunan sekali yang diadakan di Indonesia yakni Pemilu 2019 seringkali tidak mengindahkan kesepakatan bersama yang ada terjadilah ketidakharmonisan walau baru sebatas pernyataan,” kata Fadhel Mubarok, Ketua panitia Simposium Nasional.

Diharapkan, forum simposium ini mampu menggugah kembali semangat demokrasi yang sehat serta damai dan rasa kebersamaan diatara sesama tokoh serta masyarakat yang mulai luntur. (dea/bis)