Beranda Jateng Pemkab Tak Berdaya Hadapi Pendemo MTA 

Pemkab Tak Berdaya Hadapi Pendemo MTA 

Diusir,  Rumah Dilempari Telor Busuk

612
DILARANG NGAJI: Pemerintah setempat memasang papan larangan pengajian MTA yang ditandatangani pihak terkait. Foto: Ru/MTA  

JATENGPOS.CO.ID, KEBUMEN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen, Jawa Tengah tidak berdaya menghadapi gejolak demo menolak pengajian Majelis Tafsir Al Qur’an (MTA) di  wilayahnya.  Bahkan sekarang cenderung memihak kepada pendemo dengan mengeluarkan surat himbauan untuk mengalihkan kegiatan pengajian MTA ke tempat lain. 
 
Itulah ketidakadilan yang dirasakan Hartono, Ketua Cabang MTA Adimulyo Kabupaten Kebumen. Dia menuturkan, selama ini dia dan anggota pengajianya juga seringkali mengalami intimidasi dari warga yang mendemo dan perangkat desa maupun aparat agar menghentikan kegiatan pengajiannya. Padahal, selama ini pengajian MTA tidak ada yang menyimpang karena berdasarkan Quran dan Hadist. 
 
“Alasan mereka agar saya menghentikan kajian tidak masuk akal. Masyarakat tidak menerima pengajian MTA karena MTA tidak berasal dari kelompok mereka,”keluhnya.  
 
Seharusnya menurut Hartono, pemerintah atau pihak berwajib bersikap adil. Apalagi MTA lembaga dakwah yang diijinkan oleh pemerintah. 
 
“Kami lembaga resmi berbadan hukum dan bergerak dibidang dakwah Islamiyah ditolak hanya karena perbedaan paham. Kenapa mereka tidak menolak atau menutup tempat maksiat? Kenapa kami yang ngaji ikuti perintah Allah tidak diberi perlindungan? Sedang hak kami dalam beragama dijamin oleh undang-undang,  lantas Pancasila apa tidak berlaku di Kebumen?” tanyanya heras.
 
Sejak diresmikan cabang MTA di Adimuyo Kebumen pada Silatnas MTA ke- 3 oleh Presiden Joko Widodo,  MTA Adimulyo sudah empat kali diusir dan dirusak tempat kajiannya oleh warga yang menolaknya.
 
Bahkan sempat nyaris bentrok antara masa dan simpatisan MTA dengan para pendemo saat kajian dipindah di Sidomukti. Alran listrik ke rumah kajian diputus.  Jalan masuk diblokir dipalang dengan balok besar. Ruangan dilempari telor busuk dan banyak genting berserakan. 
 
Begitu juga yang terjadi setelah kajian dipindahkan ke desa Meles, Adimulyo, yang menempati rumah Hartono. Nyaris sama kerusakan yang diderita.  Bau menyengat dari telor busuk dilempar ke rumah. Bahkan dalam ruangan disiram dengan oli bekas. Tidak itu saja.  Jalan masuk ditutup dengan timbunan batu besar yang diturunkan dari dump truck.
 
Dari kejadian ini bukannya para pelaku yang diamankan petugas.   Malah penghuni rumah yang dievakuasi hingga masa leluasa melakukan perusakan. 
 
Bahkam tambah Hartono,  sekarang ini dilokasi pengajian dipasang papan himbauan MTA memindahkan pengajiannya ke tempat lain.  Himbauan tersebut ditandatangani oleh para pemangku kebijakan di Pemkab Kebumen.(ru/udi)