Beranda Utama Pemuda Surabaya Jadi Tentara AL Amerika

Pemuda Surabaya Jadi Tentara AL Amerika

Pemuda Surabaya Jadi Tentara AL Amerika

16
TENTARA AL:Jovan Zachary Winarno tentara AL Amerika Serikat. Foto-foto: Instagram

Jovan Zachary Winarno tak pernah membayangkan kalau perantauan dirinya ke Amerika Serikat akan berakhir di dunia militer. Jovan adalah pria asal Surabaya yang lahir di Marietta, Georgia, Amerika Serikat. Usianya baru 18 tahun saat berangkat mengadu nasib ke negeri Paman Sam pada tahun 2018.

Kini Jovan sedang menjalani dinas sebagai tentara Angkatan Laut Amerika Serikat berpangkat E-3 (Fireman) di San Diego. Jovan bertugas di bagian MET Division 12 yang mengurus masalah teknis mesin-mesin kapal.

Jovan bercerita kalau sebenarnya dirinya sempat minder untuk mendaftar ke Angkatan Laut Amerika karena kemampuan bahasa Inggrisnya yang menurutnya kurang lancar.

“Awal saya datang ke Amerika pada September 2018 itu tujuan saya kuliah. Tapi berhubung bahasa Inggris saya nggak lancar, saya cari alternatif lain. Saya pilih kerja saja saat itu sambil belajar bahasa Inggris. Lalu anaknya teman ayah saya nawarin untuk masuk tentara Amerika. Saya awalnya nggak mau, nggak pernah kepikiran jadi tentara di Amerika. Tapi karena ditawarin dan dijelasin apa saja benefitnya, lama-lama saya tertarik untuk daftar,” kata Jovan, Rabu (11/11).

Beberapa keuntungan menjadi tentara Amerika menurut Jovan adalah kesempatan mendapat asuransi seumur hidup, pendidikan sesuai kompetensi secara gratis, dan tentu saja gaji serta tunjangan yang tinggi.

“Untuk gaji di level saya sekitar kurang lebih Rp 20 juta per bulan,” kata Jovan.

Meski ayah dan ibu Jovan adalah warga Surabaya, tapi Jovan lahir di Amerika dan memiliki kewarganegaraan Amerika Serikat. Karena itu, meski keturunan Indonesia Jovan tetap bisa mendaftar sebagai tentara Angkatan Laut Amerika.

“Karena untuk bisa mendaftar sebagai tentara Amerika harus jadi warga negara Amerika atau memiliki green card (kartu izin tinggal dan bekerja secara permanen di Amerika),” kata alumnus SMAK Frateran Surabaya.

Meski mengaku mengalami kendala bahasa tapi tes demi tes dijalani Jovan dengan lancar.

“Jujur saja saya awam (dengan dunia militer). Saya ke Amerika setelah lulus SMA, nggak punya pengalaman apa-apa jadi ya sempat nervous. Tes masuknya ada tiga kali. Jadi tes pertama itu seperti tes akademik. Jadi ada beberapa mata pelajaran yang diujikan untuk melihat kemampuan kita cenderung ke divisi apa. Ada divisi administrasi, teknik, medis, konstruksi, dan penerbangan. Ternyata hasil tes saya ke engineering. Lalu tes kedua itu tes fisik dan kesehatan dan ketiga boot camp. Kalau ada satu tes saja yang nggak lolos, ya gugur dan langsung dipulangkan,” kata pria kelahiran 28 Juni 2000 ini.

Setelah dinyatakan lolos dari boot camp, Jovan dikirim untuk pelatihan mesin selama 8 minggu di Chicago, Amerika Serikat.

Menjalani hari-hari sebagai seorang US Navy tidak membuat Jovan harus terus menerus melakukan latihan fisik. Karena Jovan berdinas di bagian teknik, maka dia hanya mengerjakan perawatan mesin dan lambung kapal. “Dalam setahun juga ada kesempatan layar untuk perawatan mesin langsung,” kata Jovan yang sudah pernah berlayar ke Singapura, Ekuador, Panama, Colombia, dan Costa Rica ini.

Bagi Jovan, hidup sendiri di Amerika memberikan dia kesempatan untuk benar-benar mandiri, menata hidup, dan bertanggung jawab atas segala keputusannya. “Karena saya jadi tentara, teman saya banyak berasal dari negara lain juga seperti Filipina dan Vietnam. Tentu profesi ini membuat pemikiran saya lebih terbuka dan saya lebih disiplin yang pasti,” kata Jovan.

Kesempatan Jovan mengabdi sebagai tentara angkatan laut Amerika masih akan berlangsung hingga tahun 2024. Setelah itu, Jovan bisa memutuskan apakah ingin menyudahi karir militernya atau memperpanjang kontraknya dan meraih pangkat lebih tinggi.

Jovan juga pernah membagikan pengalamannya menjadi tentara AS ini melalui akun Youtubenya. Dari video-video tersebut Jovan memiliki followers sekitar 6 ribu lebih.(kmp/udi)