Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Pengembangan Soft Skill Kewirausahaan dalam Pembelajaran Kimia Berpedekatan Chemoentreprenueurship

Pengembangan Soft Skill Kewirausahaan dalam Pembelajaran Kimia Berpedekatan Chemoentreprenueurship

BERBAGI
Heni Widyastuti Guru SMA N 1 Kendal
Heni Widyastuti , SMA N 1 Kendal

KENDAL – Terdapat hal baru dalam kurikulum 2013, bahwa  siswa SMA mendapatkan pelajaran kewirausahaan melalui mata pelajaran PKWU (Prakarya dan Kewirausahaan). Selama ini PKWU  (Prakarya dan Kewirausahaan) hanya diberikan pada sekolah-sekolah menengah kejuruan. Seberapa pentingkah kewirausahaan diberikan di SMA? Apakah mata pelajaran lain tidak bisa menanamkan pendidikan  kewirausahaan?

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, pada tahun 2017 telah terjadi kenaikan jumlah pengangguran di Indonesia, dari Agustus 2016 sebesar 7,03 juta orang menjadi 7,04 juta orang, yang berarti terjadi kenaikan sebesar 10.000 orang. Solusi dari masalah-masalah di atas adalah wirausaha, tetapi jumlah wirausaha di Indonesia masih sangat sedikit. Padahal, suatu negara dikatakan maju apabila negara tersebut memiliki jumlah minimum wirausaha sebesar 2% dari penduduknya. Inilah yang menjadi alasan penting perlunya pendidikan kewirausahaan diajarkan dan diintegrasikan di SMA bahkan di semua jenjang pendidikan di Indonesia.

Pendidikan kewirausahaan perlu diajarkan di sekolah untuk membekali siswa mengenai pengetahuan kewirausahaan serta mendidik siswa bagaimana sifat  perilaku seorang wirausaha. Dengan memberikan pendidikan kewirausahaan berarti peserta didik terdidik soft skillsnya. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata keberhasilan seseorang di masyarakat tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (Hard Skills) saja, tetapi lebih ditentukan  oleh soft skills.

Soft skills  dibagi menjadi dua, yaitu intrapersonal skills (keterampilan seseorang dalam ”mengatur” diri sendiri) dan interpersonal skills (keterampilan seseorang yang diperlukan dalam berhubungan dengan orang lain). Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20%  hard skills dan 80% soft skills. Soft skills merupakan kompetensi perilaku , Banyak soft skills yang dapat ditumbuhkan pada peserta didik, diantaranya adalah: 1) ketrampilan komunikasi tidak hanya diperlukan untuk karier peofesional seseorang tetapi lebih berperan untuk kompetensi social seseorang, 2) berpikir kritis dan terstruktur, keduanya berjalan seiring dengan kemampuan pemecahan masalah, 3)  kreativitas, menerapkan kreativitas di luar kebiasaan / rutinitas yang ada berarti telah melakukan inovasi.

Perlunya mengubah metodologi belajar mengajar, pola pembelajaran selama ini tidak mendorong peserta didik kreatif dan inovatif sehingga sulit untuk memunculkan jiwa kewirausahaan peserta didik. Metode mengajar peserta didik yang dilakukan sejak taman kanak-kanak, sekolah dasar hingga sekolah menengah dinilai hanya menunjukkan gurunya yang aktif, sedangkan peserta didik justru tidak aktif. Proses belajar itulah yang dinilai tidak dapat mengembangkan inovasi, kreativitas serta kewirausahaan.

Kimia salah satu mata pelajaran yang diberikan di SMA, ikut bertanggungjawab mempersiapkan peserta didik  berjiwa kewirausahaan. Padatnya kurikulum pembelajaran kimia, menyebabkan pembelajaran kimia bersifat texs book dan hanya memperhatikan aspek kognitif pada peserta didik.

Konsep pendekatan Chemoentrepreneurship (CEP) adalah suatu pendekatan pembelajaran kimia yang kontekstual yaitu pendekatan pembelajaran kimia yang dikaitkan dengan obyek nyata. Tujuannya adalah untuk memotivasi siswa agar mempunyai semangat berwirausaha. Dengan pendekatan ini pengajaran kimia lebih menyenangkan dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk mengoptimalkan potensinya agar menghasilkan produk. Bila peserta didik sudah terbiasa dengan kondisi belajar yang demikian, tidak menutup kemungkinan akan memotivasi mereka untuk berwirausaha.

Pembelajaran Kimia berpendekatan Chemoentrepreneurship (CEP) ini bisa diterapkan dibeberapa KD, diantaranya pada pembelajaran Koloid. Pembelajaran koloid sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, jenis-jenis koloid dapat berupa produk-produk kosmetik, obat-obatan, makanan, minuman  dan masih banyak lagi. Untuk menumbuhkan soft skills kewirausahaan, pembelajaran koloid disajikan dengan cara membuat produk koloid.

Langkah-langkah pengembangan pendekatan Chemoenterpreneurship pada kimia koloid sebagai berikut (1) Exploring, yaitu menggali kekayaan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan atau dibuat sebagai produk koloid. Soft skills kewirausahan yang bisa dikembangkan adalah kemampuan kreativitas, (2) Planing, yaitu merencanakan sistem kerja dalam rangka menciptakan atau membuat produk koloid. Soft skills kewirausahan yang bisa dikembangkan adalah kemampuan kerjasama, kemampuan berpikir kritis dan terstruktur, (3) Producing, yaitu praktik membuat produk-produk kimia koloid. Soft skills kewirausahan yang bisa dikembangkan adalah kemampuan disiplin, kemampuan kreativitas, kemampuan kerjasama. Kelanjutan dari ketiga langkah tersebut adalah (1) Marketing, yaitu mempublikasikan, mempromosikan, atau menjual produk yang sudah dikemas. Soft skills kewirausahan yang bisa dikembangkan adalah kemampuan komunikasi, dan  (2) Analizing, yaitu menganalisis produk yang dijual serta menghitung keuntungan dari hasil penjualannya.

Berdasarkan langkah-langkah tersebut, soft skills kewirausahaan yang akan dikembangkan dalam pembelajaran meliputi kemampuan disiplin, kemampuan kreativitas, kemampuan kerja sama, kemampuan berpikir kritis dan terstruktur, dan kemampuan komunikasi dapat tercapai melalui pembelajaran kimia koloid.

BERBAGI