Beranda Nasional Pengungsi Banjir Semarang Sehari Butuh 3.000 Nasi Bungkus

Pengungsi Banjir Semarang Sehari Butuh 3.000 Nasi Bungkus

BERBAGI
Warga korban banjir di wilayah Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang bergotong-royong membersihkan sampah yang menumpuk pascabanjir yang merendam perkampungan mereka, Sabtu (10/2). FOTO:PRAST WD/JATENGPOS

JATENGPOS.CO.ID. SEMARANG- Ribuan rumah warga di dua Kecamatan yakni Kecamatan Ngaliyan dan Kecamatan Tugu, Kota Semarang kembali diterjang banjir, Jumat (9/2) mulai sekitar pukul 17.00 WIB hingga malam hari. Hingga Sabtu (10/2) kemarin warga masih bertahan di pengungsian karena takut banjir susulan.

Berawal dari derasnya aliran Sungai Beringin yang meluap akibat hujan di daerah Semarang atas, menjadikan tanggul daerah aliran sungai (DAS) di RW 6 dan RW 7 Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan jebol hingga menggenangi sekitar 500 rumah warga.

Selanjutnya air mengalir turun dengan deras meluas hingga menggenangi pemukimam di tiga kelurahan di Kecamatan Tugu, yakni di Kelurahan Mangkang Wetan, Kelurahan Mangkang Kulon, dan Kelurahan Mangunharjo. Kejadian tersebut mulai pukul 18.00 WIB mencapai ketinggian 1,5 meter. Air mulai surut sekitar pukul 21.00 WIB. Namun seluruh rumah warga di tiga kelurahan ini terendam air.

“Paling parah RW 6 dan RW 7 kelurahan Wonosari. Terdampak sekitar 500 rumah terendam, ada yang sedang, kecil, menengah, bahkan satu rumah roboh di RW 7 keterjang air bandang karena lokasi dekat DAS Beringin das Beringin,” kata Heru Sukasdi dari Kesatuan Siaga Banjir (KSB) Kelurahan Wonosari, kepada Jateng Pos Sabtu (10/2).

Diakuinya meski limpasan air DAS Beringin tergolong besar namun pihaknya menyatakan tidak lebih parah pascabanjir di tahun 2010 lalu. “Satgas dan masyarakat terbiasa dengan  pengamatan dan antisipasi bencana banjir,” ujarnya.

Relawan bersama warga menyiapkan konsumsi nasi bungkus menjelang waktu makan di dapur umum pengungsian, Sabtu (10/2) siang. FOTO: PRAST WD/JATENGPOS

Pantauan Jateng Pos terlihat warga sudah membersihkan sisa banjir dari rumah baik perabotan seperti menjemur kasur dan mengepel lantai.

Tim KSB Kelurahan Wonosari yang berjumlah 30 personil saat ini mempersiapkan dapur umum di Kelurahan Wonosari. Setiap jam makan akan disiapkan 1.000 nasi bungkus untuk dibagikan ke warga dan petugas. Dapur umum bekerja sejak Jumat malam sampai saat ini.

“Kami juga menyiapkan pompa air, pemadam kebakaran kecil, tali evakuasi, karung pasing. Semua disiapkan di dekat tanggul jebol di RW 6 dan RW 7,” katanya.

Evakuasi warga juga hanya bersifat sementara, beberapa lokasi seperti di Masjid Al Muhajirin di RW 6, serta rumah warga yang masih aman dari banjir di RW 6 dan RW 7.

Camat Tugu Anton Siswantoro mengatakan, di wilayahnya merupakan daerah yang paling parah terjangan air. Ada tujuh titik tanggul yang jebol di Kelurahan Mangkang Kulon, Mangkang Wetan dan Mangunharjo.

“Ini parah karena jebolnya tanggul di Wonosari. Karena limpasan DAS Beringin Wonosari dan Wonoplumbon Kecamatan Ngaliyan yang sangat besar. Sehingga tanggul di RW 3 Mangkang Kulon tak kuat menahan akhirnya jebol juga padahal itu baru dibuat saat banjir beberapa pekan kemarin,” ungkapnya.

Total hampir semua rumah warga berjumlah ribuan terendam banjir dengan variasi ketinggian mencapai 1,5 meter. Ribuan rumah itu ada di Kelurahan Mangkang Wetan ada 7 RW, Kelurahan Mangkang Kulon ada 6 RW, dan Kelurahan Mangunharjo ada 6 RW.

“Termasuk di RW 3 RT 3 Mangkang Wetan ada satu rumah warga yang roboh diterjang air akibat tanggul jebol, karena desakan air akhirnya ambruk tapi penghuninya seorang nenek selamat,” katanya.

Warga mengambil bantuan makanan dari Posko Bantuan untuk disalurkan ke warga di pos pengungsian. FOTO:PRAST WD/JATENGPOS

Selain merendam rumah warga, banjir juga merendam sejumlah sekolah di dua kecamatan tersebut, diantaranya SD N Wonosari 1, SDN Mangkang Wetan 1,2 dan 3, SD Mangunharjo, SMP Muhammdiyah 9, SDN Mangkang Kulon 1 dan yang lainnya. Praktis tidak ada kegiatan belajar mengajar paska banjir Sabtu (10/2) kemarin. Siswa mayoritas bekerja bakti membersihkan sekolah masing-masing.

Pihaknya juga mendirikan dapur umum di Kelurahan Mangkang Wetan, dengan total sekali masak untuk sekali makan disiapkan 1000 nasi bungkus. Dikatakannya beberapa instansi memberikan sumbangan nasi bungkus seperti dari RS Tugurejo dan PT Sango mengirimkan 1000 nasi bungkus.

“Saat ini kami membutuhkan segera nasi bungkus, karena aktivitas warga terhenti untuk membersihkan rumah masing-masing. Kami juga dibantu 5 unit Damkar untuk memberikan sekolah dan Puskemas Mangkang Kulon,” katanya.

Agar tidak terjadi banjir susulan, pihaknya bersama BBWS Pemali Juwana, Dinas PU Kota Semarang, BBPD Kota Semarang, TNI -Polri, Dinas Sosial, Satpol PP berencana akan menembel tanggul yang jebol dengan karung yang diisi pasir. Sementara untuk jangka panjangnya, diharapkan normalisasi sungai Beringin dan Sungai plumbon harus dilakukan secepatnya.

“DAS nya menyempit, kedalaman dangkal karena sedimentasi. Normalisasi dua aliran sungai ini mendesak. Agara  banjir di wilayah Mangkang bisa diminalisir. Warga pun tidak dihantui oleh rasa was-was ketika hujan deras tiba,” pungkasnya. (aam/muz)