Beranda Semarang DO Pengurus OSIS SMAN 1 Semarang, Pemprov Panggil Kepsek

DO Pengurus OSIS SMAN 1 Semarang, Pemprov Panggil Kepsek

35
BERBAGI

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3P2KB) Provinsi Jawa Tengah Sri Kusuma Astuti akan melakukan pemanggilan kepada Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Semarang, terkait aksi drop out terhadap dua pengurus OSIS sekolah setempat.

Kusuma mengatakan, pemanggilan akan dilakukan Senin (26/2) di Kantor DP3P2KB Jalan Pamularsih Semarang. Pemanggilan tersebut dilakukan sebagai bentuk klarifikasi atas perlakuan sekolah terhadap dua siswa yang notabene pengurus OSIS saat menjalankan kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) beberapa waktu lalu.

“Senin ka sekolah akan kami undang untuk dimintai keterangan,’’ kata Kusuma, Minggu (25/2).

Sebelumnya, dua siswa-siswi, AF dan AN dikeluarkan atau di-drop out sepihak atau tanpa klarifikasi dari pihak SMA Negeri 1 Semarang. Sementara, saat ini ada enam siswa diskors karena dituding terlibat dugaan aksi kekerasan dalam kegiatan yang sama.

Enam siswa tersebut dihukum tidak boleh mengikuti proses belajar-mengajar di ruang kelas selama empat hari. Keenam siswa tersebut, masing-masing; FR, AR, LA, RI, AN, dan MI, hanya diperbolehkan belajar di ruang Bimbingan Konseling (BK). Tidak hanya itu, masih ada kemungkinan jumlah tersebut bertambah. Satu lagi siswa, KR, direncanakan akan dipanggil Senin mendatang.

“Dipanggil satu-satu oleh BP, diminta menulis kronologis, lalu diskors empat hari. Sebagian diskors mulai Senin (26/2), sebagian lagi mulai Selasa (27/2),” kata salah satu siswi, FR.

FR, selaku Ketua Latihan Kepemimpinan Dasar (LKD) di SMAN 1 Semarang, mengatakan ikhwal DO dua rekannya berawal dari tersebarnya video yang disebut mengandung kekerasan. Dia mengakui adanya adegan yang seolah-olah ‘menampar’ di pipi kanan-kiri sebagaimana dilakukan AN, dan ‘memukul’ perut sebagaimana dilakukan AF.

“Itu sebetulnya bukan memukul beneran, bukan menampar beneran. Sebelumnya, sudah ada penjelasan detil bagi calon pengurus. Karena LDK ini kegiatan resmi yang diselenggarakan di sekolah. Diselenggarakan oleh OSIS dan telah disetujui oleh sekolah,” katanya.

Korban drop out, AN, mengaku tidak habis pikir, mengapa hal tersebut dipersoalkan. Sebab, hampir semua siswa SMAN 1 yang menjadi pengurus OSIS hampir pernah mengalami hal tersebut dan melakukan hal serupa. Bahkan semua adik kelas atau yunior tidak ada yang memermasalahkan, atau merasa dirugikan.

“Sanksi itu mereka sendiri yang meminta, minta ditampar, sambil menyampaikan argumen. Menampar di sini juga dipastikan tidak sakit karena pelan-pelan. Istilah yunior-senior juga hanya lima hari selama kegiatan LDK. Setelah selesai LDK, semuanya adalah teman dan keluarga SMAN 1 Semarang,” kata AN yang saat ini hampir sebulan tidak berangkat sekolah karena dikembalikan ke orang tua oleh pihak sekolah itu.

Wakil Ketua 1 OSIS SMAN 1 Semarang, Andra Atha Akira, mendesak agar pihak kepala sekolah mampu menyelesaikan masalah ini secara bijak. Dia bersama teman-teman pengurus lainnya meminta agar pihak sekolah mengembalikan AN dan AF agar bisa sekolah lagi. “Apalagi 1 bulan lagi US (Ujian Sekolah), awal April UN (Ujian Nasional), awal Mei SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Masalah ini membuat kami tertekan. Bahasa guru juga seringkali menyakiti kami dengan kata-kata tak layak,” katanya. (drh)