Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Peningkatan Kompetensi Peluang Melalui GF dalam JUCAMA

Peningkatan Kompetensi Peluang Melalui GF dalam JUCAMA

18
Dwi Astuti, M.Pd Guru SMA N 2 Semarang

Berdasarkan pengamatan penulis sebagai guru matematika di SMA N 2 Semarang masih banyak dijumpai siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah- masalah yang berkaitan dengan materi peluang kejadian majemuk. Untuk membantu siswa dalam memahami materi peluang kejadian majemuk tersebut, penulis menggunakan model pembelajaran JUCAMA yang dipadukan  dengan GF.

Model pembelajaran JUCAMA merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan dan pengajuan masalah, sedangkan GF yang dimaksudkan penulis adalah google form. Pada pembelajaran GF(google form) digunakan sebagai self assesment (penilaian diri) dan kuis.

Pada pembelajaran materi peluang, penulis memadukan model pembelajaran JUCAMA dengan google forn. Sintaks atau langkah – langkah model pembelajaran JUCAMA dengan google form meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

Kegiatan pendahuluan terdiri dari 1 fase yaitu  menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa, sedangkan pada kegiatan inti terdiri dari 3 fase yaitu mengorientasi siswa pada masalah melalui pemecahan atau pengajuan masalah dan mengorganisasikan siswa untuk belajar; membimbing peyelesaian secara kelompok; menyajikan hasil penyelesaian pemecahan dan pengajuan masalah. Pada kegiatan ini guru memberikan link google form sebagai self assessment kemudian meminta siswa untuk mengisi kuesioner tersebut. Sedangkan pada kegiatan penutup terdiri dari satu fase yaitu memeriksa pemahaman dan memberikan umpan balik sebagai evaluasi. Pada kegiatan penutup penulis juga memberikan link google form sebagai kuis.

Penggunaan model JUCAMA membuat siswa menjadi lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran karena dalam tahapan model pembelajaran JUCAMA terdapat tahapan pemecahan & pengajuan masalah.

Pada tahap pemecahan masalah siswa  diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan berpikir agar mendapat penyelesaian yang tepat dan sesuai dengan masalah yang dihadapi.

Sedangkan pada tahap pengajuan masalah siswa diberikan kesempatan untuk merespon atau mengatasi kendala ketika suatu jawaban atau metode jawaban dari suatu keadaan belum ditemukan serta mengkomunikasikan ide – ide matematis siswa, sebab siswa dapat membuat soal-soal yang sesuai dengan topik yang siswa pelajari dan memodifikasinya sesuai dengan informasi awal serta dengan pengetahuan yang telah siswa peroleh sebelumnya.

Penggunaan google form sebagai self assessment dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menilai dirinya sendiri, memberikan kesadaran pada siswa akan kekuatan dan kelemahan dirinya serta tingkat pencapaian kompotensi yang sedang dipelajarinya sehingga akan timbul interaksi antara guru dan siswa dalam pembelajaran.

Pengisian self assessment melalui google form digunakan penulis untuk memberikan masukan tentang keberhasilan dalam pembelajaran atau materi yang sedang dibahas saat itu. Hasil dari pengisian self assessment melalui google form langsung tersusun dianalisis secara otomatis. Data hasil dari pengisian self assessment melalui google form ini untuk selanjutnya digunakan untuk melakukan tindak lanjut dalam pembelajaran.

Kegiatan tindak lanjut yang dilakukan penulis dalam pembelajaran berupa pembelajaran remidial dan pengayaan. Pembelajaran remidial dilakukan dengan memberikan pembelajaran bagi siswa yang masih mengalami kesulitan  dalam memahami indikator dengan cara membahas kembali materi pelajaran yang belum dikuasai siswa serta memberikan contoh soal yang terkait dengan menerapkan berbagai konsep peluang  dalam kehidupan sehari – hari. Sedangkan untuk pembelajaran pengayaan dilakukan dengan memberikan pembelajaran bagi siswa yang sudah faham dengan memberikan soal yang berkaitan dengan materi peluang.

Langkah terakhir yang dilakukan penulis adalah memberikan soal/kuis untuk mengukur kompetensi peluang melalui google form. Penggunaan google form dalam mengerjakan sola/kuis membuat progress pengerjaan soal pun bisa dipantau, siapa saja yang sudah atau belum mengerjakan soal tersebut beserta jawaban mereka. Hasil dari pengolahan soal secara otomatis terbaca dan diperoleh data bahwa nilai rata-rata kelas pada materi peluang melebihi dari KKM. Penulis pun bisa tersenyum lega karena ternyata GF dalam JUCAMA dapat meningkatkan kompetensi peluang.

 

Dwi Astuti, M.Pd

Guru SMA N 2 Semarang