Beranda Opini Perdamaian Kerukunan Umat dan Jaga Persatuan

Perdamaian Kerukunan Umat dan Jaga Persatuan

123

Oleh : Ijawus SH,M.HUM Ketua Forum Masyarakat Cinta Damai Indonesia

INDONESIA adalah negara dengan keragaman suku, budaya, bahasa dan agama yang cukup tinggi, jika dibandingkan dengan negara lain. Di Indonesia, tidak hanya Islam, tapi juga ada Hindu, Budha, Katolik, Protestan dan Konghucu.

Bahkan di daerah pedalaman masih ada yang menganut aliran kepercayaan. Namun apapun keyakinannya, semuanya tetap mengedepankan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan. Karena salah satu anjuran dalam agama adalah tetap mengedepankan toleransi, demi terciptanya persatuan dan kesatuan.

Dalam Islam sendiri, setiap pemeluknya dianjurkan untuk saling mengenal satu dengan yang lain. Karena setiap manusia mempunyai karakter yang berbeda satu dengan yang lain. Karena itulah, dalam Al Quran dijelaskan agar manusia saling mengenal. Dengan saling mengenal itulah, diharapkan bisa melahirkan rasa saling menghormati, menghargai, dan tolong menolong antar sesama.

Anjuran ini dijelaskan dalam Al Quran, di QS Al-Hujurat ayat 13, yang berbunyi, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Dalam berbagai kitab agama lain selain Islam, juga mengedepankan perdamaian dan persatuan. Bahkan, nilai-nilai kearifan lokal yang tersebar dari Aceh hingga Papua, juga mengedepankan persatuan dan kesatuan.

Perpaduan antara nilai-nilai agama dan kearifan lokal inilah, yang akan menjaga keberagaman bagi Indonesia kedepan. Dan perpaduan keduanya, terbukti telah memupuk kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Tak heran jika nilai-nilai keagamaan inilah yang kemudian diadopsi dalam sila pertama Pancasila.

Beberapa tahun kebelakang ini, seringkali nilai-nilai keagamaan, disalahgunakan dan direduksi untuk kepentingan yang tidak baik. Kata jihad direduksi menjadi perilaku kekerasan. Padahal jihad yang sesungguhnya adalah mengendalikan hawa nafsu dan berlomba untuk berbuat kebaikan. Bentuknya bisa beraneka macam, sesuai dengan latar belakang kita masing-masing.

Dengan memahami agama secara utuh, kita akan bisa melihat segala persoalan secara obyektif. Dengan memahami agama secara benar, kita akan mempunyai filter yang kuat. Karena agama pada dasarnya menuntun setiap manusia untuk menuju jalan yang benar. Dan salah satu ajaran yang benar adalah menjaga persatuan dan kesatuan.

Untuk bisa mewujudkan semua itu, tentu harus menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dan kita semua tahu, apa itu perintah dan larangan-Nya. Lalu, apakah ujaran kebencian yang mengatasnamakan agama dibenarkan? Jika kita sepakat mengatakan tidak, maka menjadi tugas kita untuk menjauhkan bibit radikalisme dari generasi penerus negeri ini. Salam.