Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Perkembangan ICT Pengaruhi Penurunan Karakter

Perkembangan ICT Pengaruhi Penurunan Karakter

19
BERBAGI
Setowati, M.Pd Guru IPA (SMP N2 Garung Wonosobo)
Setowati, M.Pd Guru IPA (SMP N2 Garung Wonosobo)

WONOSOBO – Perkembangan ICT (information and communication technology) yang makin maju menunjang proses pendidikan baik dalam manejemen sekolah maupun proses pembelajaran. Dengan semakin majunya perkembangan ICT ternyata memberi dampak negatif juga dalam hubungan antar pribadi atau kelompok. Sebagai contoh penyampaian pendapat yang ditampilkan dengan tidak beretika, solidaritas antar pribadi semakin berkurang sehingga timbul dampak negatif diantaranya perbuatan anarkis yang merusak fasilitas umum dan sebagainya.

Melihat realita di atas, perlu upaya untuk membantu mengatasi permasalah di bidang pendidikan, yaitu upaya mendukung program pemerintah untuk membangkitkan pendidikan karakter. Dalam kamus Inggris-Indonesia karakter berasal dari kata character yang berarti watak, karakter atau sifat. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai sifat–sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti.

Menurut Suyanto (2009), karakter adalah sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan berkerjasama, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa dan negara.

Di lembaga pendidikan, khususnya sekolah untuk membentuk kepribadian yang kuat dari idividu diperlukan implememtasi pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu melibatkan aspek pengetahuan ( cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Dalam hal ini diperlukan upaya yang berkelanjutan untuk menanamkan pemahaman, perasaan dan tindakan yang terus menerus dalam hidup sehari-hari sehingga menjadi kebiasaan berbuat baik atau dikenal dengan istilah karakter.

IPA merupakan mata pelajaran  yang dirancang agar siswa mampu menanamkan sifat dan sikap yang jujur, bekerja bersama tim yang dapat menimbulkan  kebersamaan dalam suatu kegiatan eksperimen atau percobaan. Apabila kegiatan ini dilaksanakan atau menjadi kebiasaan dalam proses pembelajaran, maka diharapkan akan mampu membentuk karakter yang jujur, terbuka dan mampu bersosialisasi dengan teman sejawatnya. Siswa yang tadinya bersifat individualistik menjadi dapat bekerjasama, terbentuk karakter ilmiah yang ditandai dengan kejujuran, tanggungjawab, rasa ingin tahu, mandiri dan bekerja keras sehingga hasil belajarnya meningkat.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sesuai dengan permen No. 23 tahun 2006 mengenai Standar Kompetensi Lulusan (SKL), mata pelajaran IPA bertujuan agar siswa memiliki kemampuan yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam secara sistematis, sehingga fisika bukan hanya kumpulan pengetahuan yang berisi tentang fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Lewat pembelajaran diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Proses pembelajaran menekankan pada pemberian pengalaman  langsung  untuk mengembangkan kompotensi agar siswa menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Dalam hubungan ini pembelajaran perlu diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Salah satu contoh penemuan tentang  teori pembiasan yang dikenal dengan Hukum Snellius. Hukum Snellius tersebut tidak ditemukan secara mudah, perlu proses, pemikiran, dan kerja keras yang dapat diteladani sikap dan karakternya dalam mempelajari gejala-gejala fisis di lingkungan sekitar. Selain itu, karakter ilmuwan tersebut yang bisa diambil sebagai contoh adalah rasa keingin tahuannya, kemandiriannya serta tanggung jawabnya dalam menemukan produk pemikiran yang sangat bermanfaat . Produk pemikiran tersebut berasal dari observasi yang memberikan teladan bahwa perjuangan para fisikawan telah menjadi dasar berfikir, dapat dihayati, dipahami dan dapat dimanfaatkan hingga saat ini. Adapun teladan atau karakter moral dari para fisikawan tersebut adalah jujur,kerja keras, mandiri, bertanggung jawab, kerjasama, beretika serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap gejala fisis yang terjadi disekitarnya. Budaya keilmuan berkarakter yang telah disebutkan sudah seyogyanya dapat diterapkan dalam aktivitas pembelajaran di kelas.

 

BERBAGI