Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Pesta Topeng, Tingkatkan Aktivitas Belajar Kisah Wali Songo

Pesta Topeng, Tingkatkan Aktivitas Belajar Kisah Wali Songo

323
Didi Masyhudi, S.PdI Guru SDN Margadana 2 Kota Tegal
Didi Masyhudi, S.PdI Guru SDN Margadana 2 Kota Tegal

Suasana kelas yang hening serta kondisi peserta didik yang pasif tanpa gaduh bukan sebagai jaminan bahwa proses pembelajaran berhasil. Justru ini merupakan pertanda hilangnya “ruh kehiudupan” dalam  aktivitas belajar. Kondisi rendahnya aktivitas belajar memungkinkan munculnya kondisi peserta didik yang jenuh, lesu, malas dan tidak partisipatif yang kemudian berahir dengan gagalnya proses pembelajaran serta hasil belajar yang tidak terukur oleh guru.

Peserta didik merupakan suatu organisme yang hidup, di dalam dirinya beraneka ragam kemungkinan potensi yang hidup dan berkembang (Martinis Yamin, 2010:76). Oleh karenanya potensi yang hidup itu perlu mendapatkan kesempatan yang luas untuk berkembang melalui proses pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas peserta didik. Belajar sangat dibutuhkan adanya aktivitas, dikarenakan tanpa adanya aktivitas proses belajar tidak mungkin berlangsung dengan baik.

Faktor penyebab rendahnya aktivitas belajar tentunya dipengaruhi banyak hal. Salah satunya disebabkan penggunaan metode yang kurang tepat.  Tidak jarang dalam kegiatan belajar mengajar guru seringkali dibingungkan dengan masalah seperti bagaimana agar peserta didik menjadi tertarik dengan pelajaran yang diajarkan kepada mereka. Bahkan parahnya lagi justru mengkambing hitamkan rendahnya kualitas dan minat peserta didik terhadap pelajaran yang guru sampaikan.

Kondisi tersebut dapat terjadi pada semua mata pelajaran. Begitupun dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas IV SDN Margadana 2 Kota Tegal pada materi Kisah Keteladanan Wali Songo. Materi tersebut termasuk aspek tarikh (sejarah), dimana aspek tarikh merupakan materi yang dianggap menjenuhkan apabila disampaikan dengan metode yang kurang menarik. Hal ini karena materinya sangat luas yang seluruh isi materinya berupa hafalan dan guru dituntut mampu secara kronologis dalam penyampaian pembelajarannya. Selain itu pula bagi sebagian peserta didik dirasa kurang menarik mengingat materi ini mengisahkan peristiwa di masa lalu.

Untuk meningkatkan aktivitas belajar pada materi tersebut penulis memberikan sebuah alternatif metode yang telah dilakukan penulis yaitu Pesta Topeng. Pesta Topeng adalah sebuah metode pembelajaran menyajikan sejarah tokoh dengan menggunakan media presentasi bertopeng yang disesuaikan karakter tokoh dalam materi pembelajaran atau biasa disebut Musk Party.

Metode Pesra Topeng diawali dengan tahap proses. Pada tahap ini guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok dengan penamaan kelompok sesuai tokoh pada materi yang ditentukan. Kemudian peserta didik diberi kesempatan membaca teks/mencari informasi tentang tokoh serta mengenal wajah tokoh. Setelah itu peserta didik membuat ringkasan dan menyiapkan foto tokoh untuk dibuat menjadi topeng. Tahap selanjutnya yaitu presentasi yang dapat dilakukan dengan metode diskusi panel, karya kunjung maupun Market Place Activity. Pada saat presentasi salah satu peserta didik berperan menjadi tokoh sambil menutup muka dengan topeng tokoh, sementara presenter menjelaskan biografi tokoh, karya, pemikiran dan keteladanannya serta terahir dilakukan tanya jawab.

Dari proses pembelajaran dengan menggunakan metode Pesta Topeng, secara tidak langsung menuntut peserta didik untuk aktif. Peserta didik tidak hanya duduk diam, mendengarkan kemudian mengerjakan soal. Pembelajaran ini melibatkan seluruh aspek baik afektif, kognitif dan psikomotor serta tanpa disadari, peserta didik telah mengadakan penguatan tersendiri terhadap materi tentang Kisah Keteladanan Wali Songo.

Metode ini berhasil meningkatkan aktivitas belajar, sebab dalam proses pembelajaran tersebut peserta didik memperoleh atau mendapatkan kesempatan keaktifan belajar untuk mencari tau pengetahuannya serta dapat menyimpulkan lebih lanjut akan terjadinya suatu peristiwa baik secara pembelajaran yang bersifat hafalan dan dapat berlatih mengeluarkan pendapat secara umum yang akhirnya peserta didik mendapatkan nilai yang baik dari hasil evaluasi.

Didi Masyhudi, S.PdI

Guru SDN Margadana 2 Kota Tegal