Beranda Jateng Petani Brebes Demo Bawa Bawang Merah di Kantor Bulog, Buat Apa?

Petani Brebes Demo Bawa Bawang Merah di Kantor Bulog, Buat Apa?

BERBAGI
Puluhan petani melakukan unjuk rasa kantor Perum Bulog Sub Divre VI Pekalongan di Jalan Kolonel Sugiono, Kelurahan Kemandungan, Kota Tegal. FOTO: AGUS WIBOWO/JPNN

JATENGPOS.CO.ID. TEGAL– Sekitar 50 petani bawang merah asal Brebes menggeruduk kantor Perum Bulog Sub Divre VI Pekalongan di Jalan Kolonel Sugiono, Kelurahan Kemandungan, Kota Tegal, Jumat (12/1).

Mereka menuntut Bulog segera melakukan penyerapan bawang merah dari petani yang saat ini harganya anjlok. ”Bulog segeralah menyerap bawang merah,” terang kordinator aksi demo, Jumarso.

Bersama dengan pululan petani lainnya, para petani juga membentangkan spanduk berisikan tulisan tuntutan mereka serta melakukan orasi di depan Bulog yang dijaga ketat oleh petugas polisi baik, dari Sektor Tegal Barat maupun Polres Tegal Kota.

”Swasewmbada bawang merah justru berdampak kemiskinan, khususnya petani bawang merah di Brebes,” ulasnya.

Dalam orasinya, petani menilai pemerintah turun tangan hanya saat bawang merah mahal. Sedangkan saat bawang murah, pemerintah tidak peduli.

”Pemerintah jangan pentingkan konsumen saja, jangan pentingkan pengusaha dan tengkulak saja. Giliran seperti ini, pemerintah saling lempar tanggungjawab,” tegas orator yang berdiri di atas mobil pikap.

”Kami harus kemana dan kesiapa jika semuanya saling lempar tanggungjawab,” imbuhnya.

Hal yang sama juga dikatakan petani lainnya. Ketua Gapoktan Wiyono mengaku miris melihat pertanian di Brebes dengan kondisi yang terpuruk. ”Kemarin, kami baru saja kirim bawang ke Cibitung Bekasi dan menjual bawang seharga Rp 3 ribu/kg,” akunya.

Berdasar aturan Perpres tentang bawang merah, harga bawang merah Rp 15 ribu yang bisa diserap Bulog.

”Makanya kami ke sini, dan kapan Bulog akan menyerap. Karena yang penting bawang terserap bawang bergerak,” tegasnya.

Dia menambahkan, saat ini produksi bawang di Brebes sedang over dan hasilnya bawang tidak bergerak. Padahal, dari 17 kecamatan di Brebes, hampir 14 kecamatan produksi bawang.

Sementara itu, Kepala Bulog Sub Divre Pekalongan Muchson mengaku, selama ini sejak 2017, pihaknya sudah melakukan pembelian bawang. ”Jadi, kami selama ini sudah melakukan komunikasi, misalnya di wilayah Jagalempeni Brebes. Bahkan, kami juga keliling di Brebes bersama Bupati Idza,” akunya.

Bulog sendiri akan mendirikan gudang bawang. Bahkan bentuk kepedulian tersebut, pemerintah melalui Bulog akan membeli gudang puluhan miliar yang nantinya untuk menyimpang bawang yang diserap.

”Kami juga telah menyerap sekitar 22 ton bawang merah petani di Brebes. Termasuk kami mengupayakan penyerapan dilakukan bertahap namun rutin. Dengan target satu pekan akan menyerap 1 ton bawang,” ucapnya.

Jumlah itu, kata dia, memang bukan target pateni. Artinya bisa berubah, yakni dengan jumlah penyerapan lebih tinggi lagi.

”Sedangkan pembelian bawang merah dengan harga Rp 15.000 per kilogram merupakan rekomendasi dari Kementerian Perdagangan. Dengan harga itu, Bulog sudah bisa menyerap bawang merah dengan standar kualitas tertentu. Jadi tidak semua bawang merah dibeli dengan harga Rp 15.000,” ungkapnya.

Saat ini, kata dia, yang tengah dikebut yakni membangun gudang yang bisa berfungsi sebagai tempat penyimpanan (cold storage) bawang merah.

”Gudang itu dilengkapi dengan control atmosphere system (CAS). Fungsinya sama seperti cold storage (ruang penyimpanan bersuhu dingin). Sudah lolos uji kelayakan dari Universitas Gajah Mada (UGM),” jelasnya.

Gudang tersebut berada di lahan seluas 7.650 meter persegi dan berada di Desa Klampok, Kecamatan Wanasari, Brebes. Cold storage itu memiliki kapasitas tampung sebanyak 2.000 ton bawang merah.

”Di dalam gudang tersebut, terdapat beberapa fasilitas. Di antaranya, tempat menjemur berkapasitas 20 ton dan rak penyimpanan 12 ton,” ungkapnya.

Dengan dibangunnya gudang tersebut, artinya pemerintah melalui BUMN, yakni Bulog hadir. ”Saat harga anjlok, kami beli, nanti disimpan,” pungkasnya. (gus/fat/jpnn/muz)