Beranda Opini Politik Hoaks

Politik Hoaks

35
BERBAGI
Razali Ismail Ubit.

Oleh Razali Ismail Ubit

Di tengah duka bencana Gempa dan Tsunami di Sulawesi Tengah, tiba-tiba muncul “drama” penganiayaan aktivis senior Ratna Sarumpaet (RS). Kisah Hoaks ini sempat melahirkan “simpati ekstrem” dari politikus oposisi. ikut “menggoreng Hoaks”.

Yang paling fatal Capres Prabowo. Ia membuat konferensi pers mengutuk kekerasan atas Politik Hoaks RS yang mukanya lebam-lebam dari foto-foto yang beredar di media Sosial, Ia menganggap perlakuan terhadap RS adalah wujud pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang seharusnya tidak dibiarkan di alam demokrasi Indonesia .

Akhirnya, Takdir Allah Yang Maha Kuasa kebohongan itu tak dapat dipertahankan lagi Oleh Sang Aktivis Senior Tersebut, Akhirnya Polri melakukan penyelidikan dan membuktikan tidak ada penganiayaan terhadap Sang Aktivis Senior. Demikian pula investigasi yang dilakukan di dunia media sosial, bahwa muka bonyok itu bukan karena karena pengeroyokan di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, pada 21 September, tapi karena dampak trauma operasi plastik.

Setelah Konferesi Pers Oleh Tokoh Politik Nasional Akhirnya
Permintaan maaf dari RS sehari setelah konferensi pers Prabowo terjadi, karena telah tersudut. Publik sudah mulai membuka Hoaks RS, tiktoknya menjadi bahan tertawaan, dan muncul pengakuan bahwa para setan telah memaksanya untuk berbohong.

Politik hoaks
Kasus ini sangat memalukan bukan saja bagi SR. Bayangkan di masa tua ia harus hancur oleh kebohongan heboh Hoaks ini. Namun, secara luas ini menjadi borok politik  Hoaks atas tata perilakunya, elite politik kita yang sesungguhnya juga kerap berkata tidak benar. Seorang SR saat ini tentu akan dikenang sebagai “pencipta hoax terbaik”: kebohongan untuk menjadikan diri sebagai korban, sekaligus memberi citra negatif kepada lawan Politik. Namun ini juga membuka cermin politikus yang terbiasa ngecap atau asal tuduh. Ketika kebohongannya diketahui publik ia mencari jalan selamat tanpa pernah merasa bersalah dan beban Atas Hoaksnya.

Bagi publik, Politik hoaks semakin trauma dengan sindrom politik kotor dan penuh bau nanah. “Politik Oposisi tujuan menghalalkan segala cara untuk peneguhan akan siasat yang tidak memerlukan lagi sandaran moral, nurani, dan etika kebaikan.
Padahal politik, sebagai sumber utama legitimasi memerlukan etika dan kebaikan. Politik tanpa kebaikan adalah politik yang tak berprinsip.
Politik tak berprinsip adalah politik yang hanya mengaktualisasikan hasrat untuk berkuasa. Makhluk penguasa laksana binatang buas, pemangsa, dan predator adalah pemakan akal budi. Ketika menemukan orang yang biasa menjilat, oportunis, egois, pragmatis, ovonturir, dan suka asal bicara maka itulah duplikat politikus tuna etika.

Fenomena RS sebenarnya tidak menunggal pada dirinya. Sejak 2014 kita melihat politik kamuflase telah dijadikan tujuan utama dalam setiap momentum elektoral melalui isu populisme seperti pro-Islam. sentimen identitas disebar di dalam masyarakat, bahkan tanpa fakta sama sekali.
Praktik humiliasi atas martabat manusia dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas kerap dibudayakan. Itu terlihat pada strategi jurnalisme hoax, Obor Rakyat dan sindikat Saracen. Bahasa vulgar bahkan cenderung “cabul” dijadikan strategi komunikasi di ruang publik, sehingga melahirkan duka dan menumbuhkan korban-korban baru di kalangan masyarakat.

Kita berpikir bahwa pengalaman traumatis 2014 tidak terulang lagi, Apakah memaafkan orang yang nyata-nyata memfitnah sehingga mencemarkan pihak lain dianggap tindakan baik? Apakah berkata benar di depan penguasa yang populis dianggap perbuatan baik? Dari manakah kebaikan itu berasal? Apakah benar dan baik adalah definisi yang bisa dipertukarkan?
Pertanyaan tentang konsep baik
adalah perumusan yang logis dan mendalam, yang dicari dari konsep otentiknya. Tidak harus platonis, bisa secara realistik dan disetujui oleh publik.

Pertanyaan yang paling mengunci adalah apakah politik yang kita lakukan itu sebenarnya sudah mengandung kebaikan atau tidak? Silakan saja menggunakan indikator yang tersedia, apakah perspektif baik menurut orang lain psikologi perspektif Allah, atau perspektif idealis Tentu yang paling mudah menilai politik kebaikan ketika memberikan manfaat bukan hanya kepada kelompoknya, tapi juga kelompok lain.

Kebaikan adalah ketika ia tidak mengingkari nilai-nilai yang telah diatur di dalam agama. Kebaikan juga harus teruji oleh nalar murni tanpa tercampur pragmatisme dan egoisme. Dari perspektif agama, mana dari nilai-nilai agama menjustifikasi kebaikan dan mana peran agama yang hanya dijadikan kuda troya untuk kepentingan elektoral. Mana yang lebih generik?
Dalam konteks tulisan ini tentu politik Hoaks yang dilakukan oleh RS adalah wujud hilangnya eksistensi kebaikan dalam politik.

Bukan saja tidak patut ditiru dan dibenarkan, tapi harus dikutuk untuk tidak terulang lagi oleh semua Pihak. Beberapa pihak menganggap bahwa Hoaks model seperti itu seharusnya dimaafkan. apakah lagi kebohongan-fitnah merusak yang membuat orang luas menderita? Apakah maaf bisa diobral untuk kebohongan seperti Hoaks RS, atau kita harus selektif sehingga tak ada jalan lebih baik kecuali menghukum untuk menegakkan keadilan, ketertiban umum, dan harmoni sosial Kebaikan masih menjadi investasi dalam politik.

Buktinya, dalam politik riil, kebohongan tidak menjadi patokan seorang politikus kredibel atau tidak. Kredibilitas seorang politikus ditentukan pada kemampuannya mengelola kebohongan menjadi fakta atau melepaskan diri ketika dituduh sebagai pembohong. Atau, membohongi diri sendiri demi citra diri yang mengembang dan kampretlah pada kejujuran atau ketulusan.

Dalam politik elektoral tampaknya publik juga terpengaruh pada multi-bohong yang dikembangkan politikus, sehingga akhirnya terpilih lagi dan lagi.

* Razali Ismail Ubit . Email:h.razali.ismail.ubit@gmail.com.

BERBAGI