Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Problem Posing Jadi Solusi Soal Hots Stoikiometri

Problem Posing Jadi Solusi Soal Hots Stoikiometri

BERBAGI
Endah Dwi Yuniyanti, S.Pd, M.Pd Guru SMA Negeri 1 Wonogiri
Endah Dwi Yuniyanti, S.Pd, M.Pd Guru SMA Negeri 1 Wonogiri

JATENGPOS.CO.ID, – Istilah HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang belakangan ini ngehits di seantero bumi Indonesia membuat kegalauan guru dan siswa. Apalagi 10 – 20 % soal UNBK ( Ujian Nasional Berbasis Komputer) tahun ini telah menggunakan jenis soalHOTS yang levelnya lebih tinggi dari soal UNBK tahun – tahun sebelumnya ( Mendikbud Muhadjir Effendi). Mata pelajaran kimia merupakan  salah satu dari mapel UNBK, materi kimia yang sering dikeluhkan siswa adalah stoikimetri (perhitungan kimia). Stoikiometri mencakup gabungan-gabungan teori, prinsip dan hukum. Sehingga untuk memecahkan masalah soal – soal stoikometri dierlukan ketrampilan berpikir tingkat tinggi.

Ketrampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) meliputi berpikir kritis, logis, reflektif  dan kreatif. HOTS diaktivasi ketika individu mendapat masalah.Masalah yang kompleks sering membutuhkan solusi yang diperoleh dari proses berpikir tingkat tinggi. HOTS merupakan pengembangan dari kemampuan berpikir tingkat rendah ( Lower Order Thinking Skill/ LOTS) seperti membedakan, aplikasi sederhana dan strategi kognitif yang dihubungkan dengan pengetahuan awalnya. Ketrampilan mental ini awalnya ditentukan berdasarkan Taksonomi Bloom yang mengkatagorikan berbagai tingkat pemikiran mulai dari terendah hingga tertinggi yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.

Yang menjadi persoalan adalah apakah guru  dan siswa  sudah siap dan paham apa yang dimaksud dengan cara berpikir tingkat tinggi (HOTS)? Guru di sekolah – sekolah tertentu mungkin  telah mendapatkan pelatihan mengenai apa yang dimaksud dengan proses pembelajaran serta penilaian yang HOTS dan sudah berlatih untuk membuat soal – soal HOTS. Soal HOTS bukan berarti soal  sulit atau rumit akan tetapi dalam menyelesaikannya siswa perlu berpikir secara bertingkat. Soal HOTS bisa menjadi tidak HOTS jika soal tersebut sering muncul.  Untuk membekali siswa agar mereka terbiasa menghadapi soal HOTS  maka proses pembelajaran  yang dipergunakan harus HOTS dan perlu sering berlatihan   memecahkan/menyelesaikan  soal HOTS. Bekal (prasyarat) yg ada di kepala siswa juga harus terpenuhi secara cukup. Pembelajaran HOTS tidak­lah mudah, pembelajaran tidak seka­dar menghafal fakta dan kon­sep. Peran guru tidak hanya  ber­ceramah dan menjadi pusat utama dalam pembelajaran sedangkan  siswa hanya mende­ngar­kan. Perlu ada perubahan peran yang dimain­kan guru, dimana guru lebih ba­nyak menjadi fasili­tator. Guru memfasilitasi dalam menata lingkungan belajar su­paya siswa mampu melakukan  ­aktivitas, mencari, dan me­ne­mu­k­an sen­diri materi pelajaran. Salah satu alternatif pemnbelajaran yang dapat membuat siswa beraktivitas, mencari, dan menemukan sendiri konsep adalah dengan metode Problem posing.

Problem posing berasal dari bahasa Inggris, yang terdiri dari kata problem dan pose. “Problem diartikan sebagai soal, masalah atau persoalan, dan pose yang diartikan sebagai mengajukan” (Echols dan Shadily, 1990:439 dan 448). Beberapa peneliti menggunakan istilah lain sebagai padanan kata problem posing dalam penelitiannya seperti pembentukan soal, pembuatan soal, dan pengajuan soal. Siswa bisa menggunakan fenomena dalam kehidupan sehari-hari sebagai acuan dalam pembentukan soal.  Dengan metode problem posing informasi mengenai stoikiometri yang didapat siswa tidak langsung disimpan dalam memori  tetapi diubah menjadi bentuk yang bermakna yang dihubungkan dengan informasi yang telah ada dalam memori siswa sebelumnya.

Setelah siswa memperoleh dan menguasai konsep stoikiometri maka siswa dapat menerapkan konsep tersebut untuk memecahkan soal-soal stoikiometri.  Informasi materi stoikiometri yang sudah diperoleh siswa dimasukkan kedalam memori jangka pendek kemudian setelah siswa mengalami proses aktivasi kognisi secara berulang-ulang melalui latihan soal, dan diskusi untuk memecahkan masalah maka materi stoikiometri tidak lagi ada pada memori jangka pendek tetapi telah dipindahkan ke dalam memori jangka panjang berupa konsep-konsep yang teratur dengan baik. Konsep-konsep yang telah melekat pada memori jangka panjang siap dipanggil (recall).

Pembelajaran menggunakan metode problem posing menjadikan kegiatan pembelajaran tidak terpusat pada guru, tetapi menuntut keaktifan siswa. Minat siswa dalam pembelajaranpun lebih besar dan siswa lebih mudah memahami karena soal dibuat sendiri.   Semua siswa terpacu untuk terlibat secara aktif dalam membuat soal, dengan membuat soal dapat menimbulkan dampak terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah yang ada dan yang baru diterima.  Kegiatan ini dapat merangsang kreatifitas siswa dalam memunculkan ide, memperluas pengetahuan, memahami soal dan sebagai bahan latihan bagi siswa dalam memecahkan masalah. Dengan pemberian tugas pengajuan soal dapat memberikan penguatan terhadap konsep yang diterima dan memperkaya konsep-konsep dasar, serta mampu meningkatkan kemampuan siswa untuk belajar mandiri dan dapat menyelesaikan soal HOTS.

Endah Dwi Yuniyanti, S.Pd, M.Pd

Guru SMA Negeri  1 Wonogiri
BERBAGI