Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Ratrihana Tingkatkan Minat Belajar IPA di Kelas 6 SD

Ratrihana Tingkatkan Minat Belajar IPA di Kelas 6 SD

11
Alfiyah, S.Pd.SD SDN Bumirejo Kec. Kaliangkrik Kab. Magelang

Untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0, siswa harus dibekali keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills).  Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah model pembelajaran Discovery Learning.  Pembelajaran ini mengedepankan strategi pembelajaran dengan menggunakan masalah dari dunia nyata sebagai konteks siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi yang dipelajarinya. Dalam pembelajaran inisiswa dituntut untuk mampu memecahkan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual).

Metode ini belum dapat sepenuhnya dipraktekan guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas sehingga minat siswa dalam mengikuti pelajaran menjadi kurang antusias khususnya pada materi IPA khususnya materi rangkaian listrik sederhana di Kelas 6 SDN Bumirejo Kec. Kaliangkrik Kab. Magelang. Penulis juga menemukan hambatan lain dalam pembelajaran IPA yang menuntut guru untuk melakukan sebuah usaha perbaikan atau tindakan yang konkret. Hambatan tersebut diantaranya :1). Siswa belum memahami konsep materi yang diajarkan, hal ini ditandai dengan nilai siswa ketika diadakan ulangan sebanyak 40 persen berada di bawah KKM, 2). Siswa terlihat kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran karena hanya menggunakan komponen listrik seadanya untuk menghasilkan nyala lampu.

Untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis berinisiatif menggunakan media Kit Listrik yang lama tersimpan untuk digunakan dalam pembelajaran serta dengan menerapkan Ratrihana. Ratrihana merupakan akronim dari kata Rangkaian Listrik Sederhana, disini penulis menggunakan  metode Guided Discovery Learning (Penemuan Terbimbing). Metode ini adalah model pembelajaran yang mengajak para siswa atau didorong untuk melakukan kegiatan sedemikian sehingga pada akhirnya siswa menemukan sesuatu yang diharapkan (Soejadi dalam Auliya:2007). Dengan metode ini guru mengarahkan tentang materi pelajaran. Bentuk bimbingan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, arahan, pertanyaan atau dialog, sehingga diharapkan siswa dapat menyimpulkan (menggeneralisasikan) sesuai dengan rancangan guru. Generalisasi atau kesimpulan yang harus ditemukan oleh siswa harus dirancang secara jelas oleh guru. Pada pengajaran dengan metode penemuan, siswa harus benar-benar aktif belajar menemukan sendiri bahan yang dipelajarinya.

Menurut Suprihatiningrum (2013:19) media pembelajaran diartikan sebagai alat dan bahan yang bertujuan mempermudah mencapai tujuan pembelajaran. Dalam hal ini, media yang tepat digunakan dalam memperbaiki hasil belajar IPA adalah media kit listrik sebagai media untuk mempermudah penguasaan materi kelistrikan baik rangkaian seri maupun rangkaian paralel. Kit listrik yang disusun menjadi bentuk rangkaian listrik merupakan media yang dapat dimanfaatkan atau digunakan untuk mengetahui berbagai rangkaian serta mngetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing rangkaian listrik. Dengan media dan metode tersebut diharapkan siswa mampu nememukan sendiri konsep mengenai berbagai rangkaian listrik sederhana dengan memanfaatkan media yang telah tersedia di sekolah.

Penulis menyimpulkan bahwa metode guided discovery learning dilaksanakan dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut: (1) stimulus (memberikan pertanyaan atau menganjurkan siswa untuk mengamati gambar maupun membaca buku mengenai materi), (2) problem statement (memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian memilih dan merumuskannya dalam bentuk hipotesis), (3) data collection (memberikan kesempatan 18 kepada siswa mengumpulkan informasi), (4) data processing (mengolah data yang telah diperoleh oleh siswa), (5) verifikasi (mengadakan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis), dan (6) generalisasi (mengadakan penarikan kesimpulan).

Dengan memanfaatkan media tersebut terlihat antusiasme siswa saat merangkai rangkaian listrik secara paralel maupun seri, siswa menjadi benar-benar paham dan mengerti dengan rangkaian-rangkaian listrik yang digunakan dalam kehidupan sehari- hari, sehingga meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi rangkaian listrik.

 

Alfiyah, S.Pd.SD

SDN Bumirejo Kec. Kaliangkrik Kab. Magelang