Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Riset Sejarah Pacu Siswa Mengenal Kearifan Lokal

Riset Sejarah Pacu Siswa Mengenal Kearifan Lokal

62
BERBAGI
Retno Suminar, S.Pd (Guru SMA Negeri 1 Boja, Kendal)
Retno Suminar, S.Pd (Guru SMA Negeri 1 Boja, Kendal)

JATENGPOS.CO.ID, – Perkembangan era globalisasi sekarang ini menuntut bangsa-bangsa di dunia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar dapat mencapai stabilitas nasional yang sehat, dinamis, serta berkembang, dan mencapai kemakmuran yang berkeadilan. Situasi global seperti itu harus direspon sejak dini. Kearifan lokal dipandang sangat bernilai dan mempunyai manfaat tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Sistem tersebut dikembangkan karena adanya kebutuhan untuk menghayati, mempertahankan, dan melangsungkan hidup sesuai dengan situasi, kondisi, kemampuan, dan tata nilai yang dihayati di dalam masyarakat yang bersangkutan. Berkat kearifan lokal mereka dapat melangsungkan kehidupannya, bahkan dapat berkembang secara berkelanjutan.Adapun fungsi kearifan lokal dalam era globalisasi diantaranya; sebagai filter dan pengendali terhadap budaya luar, mengakomodasi unsur-unsur budaya luar, mengintegrasikan unsur budaya luar dalam budaya asli, memberi arah pada perkembangan budaya.

Sebagai salah satu mata pelajaran yang bersifat normatif, pengajaran sejarah di sekolah ditujukan untuk membentuk kepribadian bangsa pada diri generasi muda. Nilai-nilai yang berkembang pada generasi terdahulu perlu diwariskan pada generasi masa kini, bukan saja untuk pengintegrasian individu ke dalam kelompok tetapi juga menjadi bekal kekuatan untuk menghadapi masa kini dan masa yang akan datang. Lebih-lebih apabila didasari tujuan nasional pendidikan kita yang pada dasarnya ingin mengembangkan manusia yang berkepribadian, yang sadar akan kewajibannya untuk mengembangkan diri maupun bangsanya dan lingkungannya, serta terbinanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (Widja 1989a:8).

Dalam pembelajaran di sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013, khususnya dalam pelajaran Sejarah kelas X program peminatan IPS terdapat materi tentang riset sejarah. Riset sejarah sering dikenal sebagai penelitian sejarah. Pada dasarnya penelitian atau sering kita sebut dengan istilah riset sejarah merupakan suatu proses investigasi yang dilakukan secara sistematis.Adapun yang kita kaji adalah peristiwa pada masa lalu yang menyimpan sekian banyak nilai dan makna yang bermanfaat bagi masa kini.Kaitannya dengan kearifan lokal, riset sejarah dapat dikembangkan sebagai model pembelajaran untuk menggali kearifan lokal di sekitar lingkungan siswa yang memposisikan siswa menjadi peneliti amatir dan menekankan pada praktek di lapangan. Guru dapat mengarahkan pada penelitian tentang desa masing-masing siswa. Pemilihan topik yang dipilih dapat merupakan sejarah berdirinya desa maupun tradisi yang berkembang dalam desa tersebut. Guru membimbing siswa tentang langkah-langkah riset sejarah sehingga saat berada di lapangan siswa tidak kebingungan dengan apa yang akan dilakukannya. Langkah pertama dalam riset sejarah adalah heuristik yang mengandung pengertian mengumpulkan data sebanyak-banyaknya melalui berbagai sumber. Langkah kedua yaitu verifikasi dimana siswa menyortir data dan sumber yang berkaitan dengan sejarah berdirinya desa dan tradisi yang berkembang didalamnya berdasarkan tingkat kevalidan masing-masing data. Langkah berikutnya yaitu interpretasi yang dilakukan peneliti sejarah dalam hal ini dilakukan siswa melalui bantuan dari guru. Proses ini akan lebih baik jika guru mendampingi untuk meminimalisir subjektivitas yang berlebih. Langkah terakhir adalah historiografi, yaitu penulisan kembali sejarah berdasarkan penelitian yang telah dilakukan.

Pada tahap historiografi inilah akan diketahui tradisi seperti gugur gunung (kerja bakti membersihkan lingkungan), sambatan (sistem gotong royong membantu warga yang tertimpa musibah atau yang sedang melakukan hajatan) , dan nyadran (ziarah kubur yang dilakukan setiap menjelang bulan Ramadhan). Tradisi-tradisi tersebut di masa sekarang sangat ampuh untuk membentengi generasi muda dari sifat inidvidualisme yang berkembang karena gencarnya globalisasi.Kenyataannya, siswa sangat mengapresiasi riset sejarah sebagai sebuah inovasi karena pembelajan sejarah  tidak melulu berada di kelas. Pemahaman siswa mengenai kearifan lokal juga bertambah karena melalui riset sejarah siswa mengetahui bahwa hal-hal seperti gugur gunung, sambatan, dan nyadran merupakan wujud kearifan lokal yang wajib dilestarikan.

Retno Suminar, S.Pd

(Guru SMA Negeri 1 Boja, Kendal)

BERBAGI