Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Sambut Revolusi Industri 4.0 dengan Bermain

Sambut Revolusi Industri 4.0 dengan Bermain

135
Anita Utami, M.A. Guru Bahasa Inggris SMPN 5 Salatiga
Anita Utami, M.A. Guru Bahasa Inggris SMPN 5 Salatiga

Saat ini, revolusi industri 4.0 adalah bahan diskusi yang hangat di dunia pendidikan. Pasalnya, revolusi yang ditandai dengan otomatisasi sistem produksi berbasis teknologi dan big data ini jelas membawa perubahan yang fundamental di berbagai bidang. Alhasil, dunia pendidikan pun harus tanggap beradaptasi menyambut perubahan ini. Tantangannya adalah bagaimana menyambut perubahan dengan cara yang menyenangkan.

Di era ini, pendidikan dituntut untuk tidak sekedar berkutat pada transfer pengetahuan. Lebih dari itu, guru harus mampu membekali peserta didik dengan keterampilan abad 21, atau akrab dikenal sebagai 4C. Untuk mampu bersaing, peserta didik perlu menguasai keterampilan Communication (komunikasi), Collaboration (kolaborasi), Critical Thinking (berpikir kritis), dan Creativity (kreativitas). Belum cukup, keempat keterampilan tersebut masih perlu didukung dengan penguasaan teknologi.

Sekilas, revolusi industri 4.0 nampak memberi beban yang tidak ringan. Namun, bila dicermati secara kreatif, bukan tidak mungkin tantangan ini dapat dijawab dengan cara yang menyenangkan. Dalam paparan hasil penelitiannya, Hronek dan Roffey (2009) menyatakan bahwa keterampilan berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis dan kreativitas pemecahan masalah dapat ditingkatkan lewat permainan dalam kelompok.

Tidak sekedar menyenangkan, bermain dalam kelompok terbukti ampuh mengembangkan keterampilan sosial yang kelak diperlukan di dunia kerja. Hal ini tak lepas dari kecenderungan alami peserta didik untuk bersenang-senang sambil mempelajari arti penting berkolaborasi. Dalam semangat kolaborasi ini, mereka juga berlatih berpikir kritis untuk memecahkan masalah secara kreatif dan saling mengomunikasikan ide. Bukan tidak mungkin, mereka juga belajar mengatasi konflik yang terjadi dalam dan antar kelompok.

Dengan kata lain, bermain berpotensi memberikan pengalaman belajar yang transformatif di era revolusi industri 4.0 ini. Hal ini tak lepas dari sifat permainan kelompok yang mengharuskan peserta didik berinteraksi. Mengutip teori belajar Vygotsky (1978), interaksi merupakan salah satu kunci pembelajaran. Pasalnya, perkembangan kognitif terjadi melalui interaksi dengan sekitar. Permainan kelompok, dalam hal ini, memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk saling belajar. Oleh karena itu, guru tak perlu ragu mengintegrasikan permainan kelompok dalam pembelajaran. Pertanyaannya adalah bagaimana melakukan hal ini?

Upaya memadukan permainan dalam pembelajaran Bahasa Inggris di SMP Negeri 5 Salatiga dilakukan melalui Board Game klasik, yakni ular tangga. Adaptasi dilakukan dengan mencetak papan permainan di media MMT berukuran besar. Papan permainan kemudian digelar di tengah ruang kelas. Seperti permainan ular tangga klasik, peserta didik yang telah dibagi ke dalam kelompok kecil bergiliran melempar dadu untuk menggerakkan bidak di papan raksasa. Unsur teknologi disisipkan dengan menayangkan pertanyaan secara digital sesuai dengan angka pada papan. Pertanyaan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Pada contoh ini, peserta didik diminta membuat kalimat menggunakan unsur kebahasaan passive voice berdasarkan situasi yang disajikan.

Menariknya, tujuan permainan bukan mencari tim yang terbaik, namun mengalahkan waktu untuk mencapai kotak terakhir pada papan. Harapannya, peserta didik dapat belajar mencapai tujuan secara kolaboratif, bukan kompetitif.

Pada akhir pembelajaran, peningkatan tidak hanya terjadi pada hasil belajar, namun juga pada antusiasme peserta didik untuk berkolaborasi memecahkan masalah dan mengomunikasikan gagasan. Selain itu, sistem yang kolaboratif memberi kesempatan untuk berinteraksi secara positif untuk saling membantu mencapai tujuan. Singkat kata, seluruh elemen 4C tercakup dengan cara yang menyenangkan.
Singkat kata, tantangan mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan berpeluang dilakukan dengan riang tanpa harus kehilangan esensi. Meskipun nampak sepele, bermain dapat menjadi wahana efektif untuk menyambut revolusi industri 4.0. Mari bermain. Mari belajar.

Anita Utami, M.A.
Guru Bahasa Inggris SMPN 5 Salatiga