Beranda Sekolah Hebat Opini Guru SAVI Tingkatkan Belajar Matematika

SAVI Tingkatkan Belajar Matematika

52
Agustina Hartiningsih Guru SDN 1 Ngemplak Kandangan Temanggung

Matematika bertujuan untuk mengembangkan penalaran siswa, sehingga  dapat menjadi pribadi yang terlatih cara berpikirnya, mandiri, dan memiliki kemampuan penyelesaian masalah, yang sangat penting dalam kehidupan siswa di masa yang akan datang. Maka, pembelajaran matematika di sekolah dasar perlu mendapat perhatian khusus dalam pendidikan, terutama guru sebagai pribadi berhubungan langsung dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan belajar mengajar matematika di depan kelas.

Menurut Susanto (2013:185), mata pelajaran matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir dalam menyelesaikan permasalahan sehari-hari dan dalam dunia kerja. Oleh karena itu, matematika adalah ilmu yang harus diberikan sejak tingkat dasar dan dikuasai oleh semua orang karena memiliki peran penting dalam kehidupan manusia terutama pada peserta didik.

Mata pelajaran matematika di SD Negeri 1 Ngemplak Kandangan menjadi momok bagi siswa, dan kurang menyukai mata pelajaran ini. Siswa hanya sebagai pencatat dan pengingat saja. Sehingga hasil belajar siswa mengalami penurunan. Kondisi ini dapat terlihat dari hasil ulangan formatif materi bangun datar terdapat 62 % siswa yang belum tuntas dalam  belajarnya. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum dapat menguasai kompetensi yang diajarkan.

Guru mencoba pendekatan pembelajaran SAVI (Somatic, Auditory, Visualization, Intellectualy). Menurut Ulvah, S., & Afriansyah, E. A. (2016) merupakan pendekatan untuk menyuruh orang berdiri dan bergerak kesana kemari dengan menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra sehingga dapat memberikan pengaruh yang besar dalam pembelajaran. Bagian – Bagian pendekatan dengan SAVI yang mudah di ingat, yaitu somatis (belajar sambil bergerak dan berbuat), auditori (belajar sambil berbicara dan mendengar), visual (belajar sambil mengamati dan menggambarkan), dan intelektual (belajar sambil memecahkan masalan dan merenung).

Dalam pembelajaran mata pelajaran matematika dengan pendekatan SAVI bisa maksimal jika semua unsur SAVI ada dalam satu peristiwa pembelajaran tersebut. Contohnya, siswa akan belajar sedikit tentang matematika dengan menyaksikan presentasi (V), tetapi mereka dapat belajar lebih banyak jika mereka dapat melakukan sesuatu (S), membicarakan maupun mendiskusikan apa yang mereka telah pelajari (A), serta memikirkan dan mengambil kesimpulan atau informasi yang mereka peroleh untuk diterapkan dalam menyelesaikan latihan soal – soal (I). Ataupun, siswa dapat meningkatkan kemampuannya sendiri dalam mengungkapkan ide (I), jika siswa secara simultan menggerakan sesuatu (S) untuk menghasilkan pictogram, diagram, grafik dan lain – lainnya (V) sambil mendiskusikan maupun membicarakan apa yang sedang siswa kerjakan (A). (Meier, 2002:100)

Pembelajaran mata pelajaran matematika kini telah menjadi berubah dari pembelajaran tradisional (transfer of knowledge) yang berpusat kepada guru menjadi paradigma baru yaitu pembelajaran inovatif (construction of knowledge) yang mengedepankan siswa sebagai pusat dari pembelajaran. Perubahan baru ini menghargai betul perbedaan individu, bahwa di dalam satu kelas pasti terdapat perbedaan kemampuan memahami mata pelajaran matematika yang berbeda – beda, sehingga mengupayakan terbangunnya learning society dalam kegiatan belajar mengajar untuk terjaminnya keterlaksanaan pendidikan education for all,  bahwa pendidikan merupakan hak setiap siswa, bukan hanya siswa yang dianggap pandai mata pelajaran matematika saja. Keterkaitan dengan makna dalam belajar, melalui teori pembelajaran kontekstual, paradigma baru ini memfasilitasi siswa agar mengaitkan konsep yang akan dipelajari dengan segala pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dalam kehidupan sehari – hari.

 

Oleh :

Agustina Hartiningsih

Guru SDN 1 Ngemplak Kandangan Temanggung