Beranda Jateng Pantura Barat Sedang Dibangun Jembatan Ambruk

Sedang Dibangun Jembatan Ambruk

BERBAGI
Sejumlah warga sedang melihat jembatan yang baru dibangun tapi sudah ambruk, Jembatan itu berada di Jalan Raya Bumijawa-Sirampog, Desa Batumirah, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal. FOTO : YERRY NOVEL/JPNN

JATENGPOS.CO.ID, SLAWI – Sebuah jembatan yang sedang dalam proses pembangunan mendadak ambruk, pada Kamis (14/12) sore. Jembatan itu berada di Jalan Raya Bumijawa-Sirampog, Desa Batumirah, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal. Peristiwa itu, setidaknya menyebabkan 12 orang mengalami luka ringan. Mereka merupakan pekerja yang sedang membangun jembatan sepanjang 8 meter dan lebar 7 meter itu.

Anggota SAR Bumijawa Agus Khalimi menuturkan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 17.00. Kala itu, terdapat 17 pekerja yang sedang melakukan proses pengecoran bagian lantai jembatan. Tiba-tiba besi dan kayu penopang lantai jembatan ambruk hingga para pekerja yang ada di atasnya ikut jatuh ke bawah jembatan yang berjarak sekitar 6 meter. Mereka mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke Puskesmas Bumijawa kemudian dirujuk ke RSUD dr Soesilo, Slawi.

“Ada 17 orang pekerja yang saat itu sedang melakukan proses pengecoran. Yang terluka total 12 orang,” kata Agus, saat ditemui di lokasi kemarin.

Menurut Agus, dari 12 pekerja yang menjadi korban, tiga orang di antaranya harus dilarikan ke RSUD dr Soesilo, Slawi karena mengalami luka berat.‎ Sedangkan yang sembilan orang, mendapat pengobatan di Puskesmas Bumijawa.

“Tapi yang di puskesmas sudah diperbolehkan pulang,” sambungnya.

Terpisah, Kepala Balai Pelaksana Teknis Jalan Wilayah Tegal DPU Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Jateng Tri Haryono menampik jika korban luka sebanyak 12 orang. Menurutnya, korban luka hanya enam orang yang dirawat di RSUD dr Soeselo Slawi. Luka yang dialami, tidak parah. Bahkan, keenam orang tersebut sekarang sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya masing-masing.

“Jam dua Jumat dini haroi (15/12), mereka sudah pulang. Mereka hanya luka ringan karena kecipratan adonan semen,” kata Tri Haryono, saat ditemui di kantornya, di sebelah timur Markas Brigif 4 Dewa Ratna Tegal.

Dia menjelaskan, penyebab ambruknya jembatan itu karena penopang atau penyangga balok lantai jembatan tidak kuat. Disinyalir, penopang atau steger yang terbuat dari beton itu masih basah karena baru dibangun beberapa hari sebelumnya. Meski demikian, penyedia jasa atau kontraktor yang bersangkutan akan bertanggungjawab. Penyedia jasa berjanji akan menyelesaikan pembangunan jembatan tersebut.

“Saran saya kepada kontraktor, supaya lantai jembatan itu diganti dengan baja dan alasnya beton, namanya jembatan komposit. Biayanya sekitar Rp 100 juta. Saya sudah menyampaikan ke kontraktornya,” ucapnya.

Menurutnya, proyek pembangunan jembatan yang dianggarkan dari APBD Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp 1,1 miliar itu, sebenarnya sejak awal sudah ada kendala. Yaitu, saat lelang terjadi dua kali gagal lelang sehingga harus diulang. Mestinya, kontrak kerja dimulai pada Mei 2017 lalu. Namun, karena mengalami gagal lelang, sehingga baru bisa dimenangkan pada 9 Juli 2017. Parahnya lagi, saat hendak dikerjakan pembangunan jembatan tersebut, terjadi kendala dengan penebangan pohon di sekitar lokasi yang kabarnya milik Perhutani. Terpaksa, pihaknya harus meminta ijin ke Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Bumijawa, hingga KPH Perhutani Pekalongan Barat dan KPH Perhutani Salatiga. Setelah mendapatkan ijin, pohon tersebut baru bisa ditebang pada 24 Oktober.

“Mestinya sudah dikerjakan sejak Juli, tapi ini baru dikerjakan Oktober. Jadi hanya punya waktu selama dua bulan saja,” ucapnya. (yer/saf)