Beranda Ekonomi Sejumlah Pengrajin Pisau di Kudus Mulai Berhenti Produksi Akibat Pandemi

Sejumlah Pengrajin Pisau di Kudus Mulai Berhenti Produksi Akibat Pandemi

12

JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Sejumlah pengrajin pisau di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mulai menghentikan aktivitas produksinya karena minimnya permintaan pisau di pasaran, sedangkan harga bahan baku mulai merangkak naik.

“Kami mencatat lebih dari tiga pengrajin pisau di sentra pisau Bareng Kudus yang lebih memilih menghentikan aktivitas produksinya karena tidak bisa menjual pisau produksinya ke pasaran,” kata salah satu pengrajin pisau di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus, Sahri Baedlowi di Kudus, Rabu.

Selain itu, kata dia, harga bahan baku juga naik hingga hingga beberapa persen, terutama bahan baku utama untuk membuat pisau seperti stainless steel. Harga jual saat ini berkisar Rp15.000 per kilogram dari sebelumnya berkisar Rp12.000 per kilogram.

Bahan baku lain yang mengalami kenaikan, lanjut dia, seperti bahan baku untuk membuat gagang pisau yang terbuat dari bahan pipa besi. Kenaikan harga yang sedikit sekalipun bagi pengrajin pisau sangat berpengaruh terhadap keuntungan.

Kenaikan harga bahan baku, tidak secara otomatis bisa menaikkan harga jual pisau karena permintaan pasar juga menurun. Harga jual pisau dengan gagang terbuat dari bahan aluminium untuk ukuran kecil per kodi Rp32.000, sedangkan berukuran besar mencapai Rp80.000.

Sejak masa pandemi COVID-19, permintaan pisau di sentra pisau Desa Hadipolo terus turun. Hingga akhirnya para pengrajin memutuskan untuk menghentikan produksinya.

“Bagi pengrajin yang masih bertahan, biasanya tidak hanya mengandalkan penjualan secara konvensional melainkan juga memasarkannya secara daring. Saya juga mengandalkan penjualan secara daring karena penjualan ke pasar-pasar tradisional maupun pengepul pisau sudah jarang. Permintaan cenderamata pisau untuk acara pernikahan juga sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Ia menduga daya beli konsumen memang turun, sedangkan pisau bukanlah komoditas utama sehingga tidak menjadi prioritas ketika kondisi ekonomi masyarakat tengah turun.

Untuk mendongkrak sektor pengrajin pisau, diharapkan ada uluran tangan dari pemerintah untuk menawarkannya kepada kabupaten lain yang dimungkinkan membutuhkan alat kerja di bidang pertanian maupun lainnya yang bisa dikerjakan oleh pengrajin pisau di Kudus.

“Bantuan untuk pelaku UMKM juga diusulkan per kelompok agar bisa mendukung aktivitas usaha. Jika per pelaku usaha, dimungkinkan bantuannya cenderung untuk pemenuhan kebutuhan konsumtif,” ujarnya. (fid/ant)