Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Selamat Berjuang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Selamat Berjuang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

BERBAGI
Aviful Munthoha Among Saufa, S.T. SMK Negeri 2 Sragen
Aviful Munthoha Among Saufa, S.T. SMK Negeri 2 Sragen

JATENGPOS.CO.ID, – Permasalahan di dunia pendidikan begitu kompleks. Salah satu yang paling memprihatinkan di sektor guru. Guru merupakan sosok manusia yang menjadi teladan baik di lingkungan masyarakat maupun di tempat ia menjalankan tugas mengajar.

Di lingkungan sekolah khusunya, sesama guru hendaknya bisa saling memberi dan menerima, bermusyawarah memecahkan suatu masalah baik itu terkait dengan materi pembelajaran maupun program mengajar. Saling asah, asih dan asuh. Guru yang lebih Senior membimbing dan menyayangi Guru yang muda. Guru yang muda menghormati guru yang lebih tua. Hendaklah dibudayakan sikap 5S (salam, sapa, senyum, santun dan sayang).

Demikian halnya dengan para siswa. Guru hendaknya memberi kesempatan yang terbuka kepada siswa untuk mengembangkan diri. Ide, pendapat, usulan diterima dengan lapang dada yang kemudian di cari solusi terbaik, seperti pesan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantoro (Raden Soewardi Soerjaningrat) “Ing Ngarso Sung Tuladha” (Di Depan Menjadi Teladan atau Contoh), “Ing Madyo Mangun Karso” ( Di Tengah Memberi Semangat), dan “Tut Wuri Handayani” (Di Belakang Memberi Daya Kekutan).

Di sisi lain, seorang guru untuk mendapatkan hak tunjangan profesi diwajibkan mengikuti diklat. Peningkatan profesionalisme guru itu baik, namun untuk urusan administrasi kadang merepotkan. Sehingga kadang mengabaikan hak peserta didik untuk mendapatkan pembelajaran.

Kata “profesional” berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter dan hakim. Dengan kata lain pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain (Dr. Nana Sudjana, 1988).

Banyak guru yang belum menghargai profesinya, apalagi berusaha mengembangkan profesinya itu. Perasaan rendah diri karena menjadi guru, penyalahgunaan profesi untuk kepuasan dan kepentingan pribadinya, sehingga wibawa guru semakin merosot (dr. Nana Sudjana, 1988). Hal ini merupakan salah satu faktor rendahnya pengakuan masyarakat terhadap profesi guru.

Pada era globalisasi atas kemajuan teknologi, peran guru sebagai lokomotif di kelas yang berkomunikasi langsung dengan siswa agak terabaikan dengan adanya handphone canggih dan dunia maya. Dikarenakan siswa lebih suka jika berkomunikasi di dunia maya melalui sosial media di banding dengan berkomunikasi secara langsung. Hal ini akan menyebabkan kekaburan norma, kurang kreatif inovatif dan cepat berputus asa. Teknologi itu ibarat pisau bermata dua. Jika digunakan oleh orang yang baik untuk hal yang baik maka teknologi akan bermanfaat bagi pengguna dan orang lain. Dan sebaliknya, jika digunakan oleh orang yang buruk untuk hal yang buruk maka akan menyebabkan musibah dan kehancuran bagi pengguna dan orang lain. Sudah tidak asing lagi bagi kita, banyak anak yang duduk di bangku SD sudah berkaca mata dikarenakan sering Game Online. Oleh karena itu, seharusnya handphone canggih dan dunia maya digunakan untuk peningkatan kualitas dunia pendidikan Indonesia.

Guru adalah “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” atau sekedar gurauan “Pahlawan Tanpa Makam Pahlawan”. Pahlawan memang benar adanya, siapapun orangnya, baik presiden, menteri maupun pejabat tinggi manapun gurulah yang berperan aktif dalam menyongsong kehidupan di masa mendatang.

Tugas yang diembannya lahir maupun batin. Lahir membimbing anak didik tentang ilmu pengetahuan. Batin mengajak anak untuk menguatkan karakter dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Aviful Munthoha Among Saufa, S.T.

SMK Negeri 2 Sragen

BERBAGI