Beranda Jateng Seniman Mancanegara Kagumi Arsitektur PG Pangkah Tegal

Seniman Mancanegara Kagumi Arsitektur PG Pangkah Tegal

BERBAGI
Sejumlah seniman mancanegara terlihat kagum saat berkunjung di PG Pangkah, Kabupaten Tegal. FOTO:YERRY NOVEL/JPNN

JATENGPOS.CO.ID. TEGAL- Sejumlah seniman mancanegara berkunjung ke Pabrik Gula (PG) Pangkah, Kabupaten Tegal usai pentas di Bumijawa Festival, Senin (5/2) lalu. Saat berkunjung, para seniman berkulit putih ini terkagum-kagum melihat pabrik tersebut. Salah satunya, Satoko Takaki, seniman tari asal Fukuoka, Jepang.

Dia tampak tercengang saat melihat arsitektur bangunan pabrik yang sudah berdiri sejak tahun 1832 itu. Satoko juga mengagumi tenaga produksi pada mesin penggilingan tebu yang masih dilakukan oleh tenaga manusia. “Ini sangat manusiawi, bisa menghidupi lebih banyak orang. Kalau di Jepang, hanya satu atau dua orang karena semuanya serba robot dan automatic,” kata Satoko, dengan menggunakan bahasa Inggris.

Kedatangan rombongan tamu mancanegara yang menumpang dua bus pemda ini diterima oleh pimpinan PG Pangkah di Rumah Besaran. Rumah dua lantai ini dulunya digunakan sebagai tempat manajer dan perwira militer Belanda saat mengadakan pertemuan.

Gedung yang berusia ratusan tahun itu dirancang oleh arsitek Belanda bernama Halbossh. Setelah ramah tamah, mereka kemudian meninjau dock loko atau bengkel loko, tempat perbaikan lokomotif kereta tebu yang rata-rata masih asli buatan Jerman. Di tempat itu, para seniman ini langsung mengabadikan dengan kameranya masing-masing.

Menurut Humas PG Pangkah Didiet, seluruh kereta di dock ini sudah tidak difungsikan karena tingginya biaya operasional. “Untuk menghidupkan satu loko saja diperlukan ongkos sedikitnya dua juta rupiah untuk persiapan dan pembelian kayu bakar,” kata Didiet menerangkan.

Tidak hanya di tempat tersebut, para seniman ini juga berkunjung ke Stasiun Besali, Stasiun Ketelan, Stasiun Pabrik Tengah, Stasiun Puteran dan Stasiun Listrik yang berada di kawasan PG Pangkah.

Mereka juga menuju ke komplek Argo Wisata PG Pangkah dengan menggunakan kereta loko tebu dan berakhir di Stasiun Gilingan. Didiet menjelaskan, setiap tempat di PG ini selalu diberi nama stasiun. Sebab masing-masing tempat merupakan sub bagian dari Pabrik Gula itu sendiri.

Sementara, Tebo Aumbara, seniman tari dan drama asal Ubud, Bali yang ikut dalam rombongan mengatakan bahwa awalnya dia sedikit malas, tapi setelah masuk ke dalam pabrik, dia menjadi sangat terkesan. Tebo mengaku kagum dengan mesin gilingan tebu bertenaga uap buatan Belanda, Jerman dan Jepang.

“Tempat ini sangat artistik untuk dijadikan tempat pementasan tari dan teater,” kata Tebo. (yer/ima/jpnn/muz)